Belajar Teknik Membaca Cepat ala BacaKilat

Selasa, Oktober 31, 2017



Minggu, tanggal 29 Oktober yang lalu saya diajak suami ikut pelatihan baca kilat yang diadakan oleh Coach Agus Setiawan beserta EO-nya di hotel Crown Prince, Surabaya. Tumben nih, pikir saya. Biasanya seminar atau training itu saya yang ngajak. Apalagi ini tentang baca, kan saya banget harusnya karena notabene writer wannabe yang identik dengan membaca. Oleh karenanya, saya tak melewatkan kesempatan ini. Selain menarik dan ilmunya juga saya butuhkan, saya ingin suami lebih bersemangat untuk training dan seminar yang lain nantinya.
Singkat cerita, saya ikut pelatihan selama kurang lebih tiga jam sejak pukul sembilan pagi dan mendapatkan banyak pencerahan dari training tersebut. Lain kali akan saya ceritakan apa saja yang saya dapat dari training BacaKilat. Sekarang, karena tulisan ini adalah report game level lima kelas bunda sayang IIP, maka fokus saya adalah pada buku yang saya baca.

Iya betul, saya sekarang tengah membaca buku BacaKilat versi 3.0 karangan Coach Agus Setiawan tersebut. Buku ini saya dapatkan dari panitia sebelum seminar berlangsung karena saya terdaftar sebagai dua puluh pendaftar pertama. Isi buku ini memuat tentang cara membaca buku konvensional, menguasai baca kilat juga testimoni para peserta yang sudah mengikuti training. Secara umum isi buku ini sama dengan isi training yang saya ikuti pada hari Minggu tesebut sehingga biasa saya jadikan pengingat jika lupa dengan isi training.

Alhamdulillah, saya merasa kok indah sekali kebetulan yang Allah beri. Pada saat ada game level  membiasakan membaca pada keluarga, saya bertemu dengan training BacaKilat ini. Dan meskipun saya tidak mengikuti training lanjutan, saya cukup terbantu untuk mempraktekan ilmu BacaKilat yang lebih mengutamakan pikiran bawah sadar pada saat membaca buku. Dan terutama adalah milikilah tujuan sebelum membeli dan membaca buku, jangan membaca yang tidak Anada butuhkan apalagi membeli buku hanya karena merasa buku itu bagus.

Oh, iya sampai lupa. Valya hari ini membaca buku seri Poldi yang berjudul "Tempat". Saya bacakan menjelang tidur siangnya dan Alhamdulillah selesai satu buku. Ia ikut berhitung bersama saya, menirukan suara dan menyanyi bersama saya. Semoga tetap semangat ya, Cantik, dan terus senang membaca sampai dewasa nanti. Aamiin

#Bunda sayang
#Ibu profesional
#IIP
#For things to change, i must change first




Buku Kesukaan Valya

Sabtu, Oktober 28, 2017





Valya suka dibacakan buku dengan warna warni yang mencolok. Kebetulan di rumah ada stok buku seperti itu.

Hari ini valya memilih buku Poldi untuk dibacakan. Sambil dibacakan, dia antusias menebak nama binatang yang ada di buku tersebut. Tidak ketinggalan suara binantang tersebut ia tirukan dengan semangat.

Saya masih meneruskan buku kumcer. Hari ini seharusnya saya kita acara Rumbel bisnis untuk bekejar Instagram dan Facebook. Saya berangkat kesiangan karena harus mengantar si sulung cap tiga jari untuk ijazahnya. Kebetulan TU sekolah baru buka jam sembilan. Sehingga saya jadi kesiangan pula untuk datang.

Saya beruntung kakak Mahira mau membuatkan pohon literasi untuk kami. Esok tinggal menempel semua daun laporan dari Mama dan Valya.

Selamat istirahat semuanya^.^

#Bunda sayang
#Ibu profesional
#IIP
#For things to change, i must change first

Report Game Level 5 Bunsay IIP

Jumat, Oktober 27, 2017

Report Game Level 5 Bunsay IIP

Membaca adalah perintah Allah yang tertuang dalam Alquran surat Al-Alaq ayat 1. Perintah ini bahkan merupakan perintah pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Sedemikian penting peran membaca sebelum aktifitas yang lain, menjadi dasar diadakannya game level kelima dalam kuliah bunsay IIP. Game yang melibatkan seluruh anggota keluarga untuk membaca kemudian melaporkan hasilnya dalam bentuk family tree atau dokumentasi lain yang sesuai.

Keluarga kecil saya memiliki kendala jarak, suami keluar kota hampir setiap hari dan anak pertama saya pun jauh karena belajar di pesantren. Maka, praktis hanya saya dan kedua anak saya yang lain yang bisa diajak untuk bermain game ini sambil tetap mengajak suami ikut serta.

Hari pertama game level lima saya belum memggunakan family tree karena keluar kota, jadi belum sempat membuat. Aktivitas membaca tetap dilakukan. Saya menetapkan kegiatan membaca bersama keluarga selepas Maghrib hingga Isya atau fleksibel ketika tengah di perjalanan keluar kota.

Hari pertama game, untuk Valya anak saya yang berusia 2,5 tahun, saya bacakan sebuah buku tentang tujuh saudara yang sudah nenek di berbagai belahan dunia. Buku ini bercerita tentang tujuh saudara yang terpisah di tujuh benua kemudian dipertemukan karena salah satu nenek berulang tahun. Valya sangat suka dengan ilustrasi dalam buku tersebut dan cukup tenang menyimak penuturan saya.

Saya sendiri membaca buku kumpulan cerpen yang  baru saya beli. Sementara suami saya belum berhasil mengikuti game hari pertama karena masih di luar kota dan tidak membawa buku.

Membiasakan membaca di tengah gempuran kesenangan bermain gadget memang butuh perjuangan. Tetapi, kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi?

#Bunda sayang
#Ibu profesional
#IIP
#For things to change, i must change first

Perempuan Rambut Mayang

Rabu, Oktober 11, 2017

Hari ini kuterkenang akan seorang perempuan....

Ia tinggi semampai, berkulit bersih, wajahnya ayu dengan hidung bangir khas keluarga besarnya. Wajahnya sendu, seolah Tuhan sudah menyesuaikannya dengan kisah hidup yang sering menguras air mata dan kesabaran. Pun, ia jarang tersenyum.
Agaknya (sekarang) aku dapat menerka, mengapa menjadii demikian rupa wajahnya.

Ia dikandung bunda, ketika sang ayah pergi entah kemana. Dengan empat saudara perempuan dan satu lelaki yang lebih dulu lahir, ia adalah bungsu yang tak disangka akan menambah jumlah anggota keluarga. Ia dikandung dalam payah dan susah, lahir ataupun batin. Hidup di jaman pasca kemerdekaan yang jauh dari kemajuan, di pelosok desa yang nun jauh tersentuh dari perhatian pemerintah, kesejahteraan adalah mimpi besar yang sulit diraih. Makan dengan garam, ikan asin atau bahkan tak makan sama sekali.

Beruntung, kuasa Allah membawanya kembali. Sang ayah, yang lelah mengelana cinta, kembali ke pangkuan bunda. Dua tahun sejak bungsu di kandungan terlahir, lelaki itu kembali. Bertanya dengan heran, siapakah gadis kecil berkulit bersih itu. Bunda menjawab dengan pilu, itulah anakmu yang kau tinggal sejak dari kandungan.

Perempuan, gadis dengan rambut mayang itu tumbuh dalam diam, dalam keterbatasan penghidupan, ditempa kesusahan yang jamak untuk hampir semua tetangganya pula. Ia penurut, tak banyak bicara dan neriman.
Ketika menginjak usia gadis mekar, tak lama ia disunting pemuda yang jatuh hati pada rambut mayangnya. Mereka menikah di usiai muda, enambelas tahun dan dua puluh tahun. Seorang gadis pendiam dan pemuda lugu yang hanya tahu bahwa ia cinta dan sanggup bertanggungjawab padanya. Cinta pemuda itu tulus, dalam, dan begitu besar. Ia melimpahi sang gadis dengan sayang dan cinta yang tak kurang, meskipun cintanya kadang tak mampu membaca gerangan apa isi hati terdalam sang gadis rambut mayang.

Berpuluh tahun hidup menjadi istri, menjalin cinta jarak jauh yang lebih sering menahan rindu. Tak ada diskusi parenting untuk membahas anak dan masa depannya, tak ada telepon untuk melepas rindu, hanya surat untuk berbagi kabar dan kisah.

Berpuluh tahun sejak menjadi menantu, hidup  satu atap dengan sang ibu mertua, menorehkan banyak kisah dan air mata. Tak terungkap, tak terkatakan, ia simpan dalam diam, hanya tangis menjelang tidur dan doa yang dipanjatkan yang menjadi pelepas beban. Penghiburannya adalah anak-anak yang manis dan baik, serta teman-teman jama'ah pengajian di kampung. Ia yang pandai menyanyi, menemukan muara kesenangan kecilnya dengan menajdi vokalis nasyid pngajian. Sejak saat itu, bibirnya tak berhenti menyenandungkan sholawat nabi.
Hingga akhirnya sakit menggerogoti tubuh semampainya. Ia sadar sakitnya bukan sakit biasa, tetapi hasrat hidupnya sangat tinggi, ia lawan dengan menelan semua obat dan ramuan. Ia sembunyikan takut dan khawatir akan dirinya dengan tetap tegar dan yakin akan kesembuhan. Sakitnya seperti air pembasuh dosa dan kesalahannya di masa lalu, yang menyisakan dirinya yang bersih. Dalam sakit, ia masih suka bersolawat sepanjang hari.

Ia bersih dan tenang, dan tersenyumu. Di akhir hidupnya, ia tersenyum.
Ya, meskipun pada akhirnya tubuhnya menyerah kalah, namun jiwa dan semangatnya tetap hidup. Kenangannya abadi dalam benak  yang mengenalnya. Ia harum dengan kebaikan yang terus disebut oleh teman dan kerabat. Ternyata setelah tiada, barulah terasa ia seorang istimewa.
Amat istimewa hingga enam tahun kepergianya, sang pemuda yang jatuh hati pada rambut mayangnya masih tak mampu berpaling pada perempuan lain. Ia mencari yang seperti gadis itu, namun sayang, langka yang seperti dia.

Aku mengenang perempuan itu hari ini, sebab tiga puluh  tujuh tahun lalu, dari rahimnya aku terlahir. Dari air susunya aku tumbuh. Dari sayangnya aku terawat.
Ia ibuku, yang tak mampu lagi kupeluk ketika aku telah menginjak usia tiga puluh tujuh. Ia yang tak lagi bisa kumintai doa dan harapan yang paling didengar Allah.
Mama, aku tak mampu lagi berkata, aku hanya ingin katakan: aku rindu, dan aku sayang padamu. Terimakasih untuk semua susah payah, airmata, pengorbanan,  dan lelahmu.  Semoga menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT dan berbuah surga kelak. Aamiin.

Amal Setelah Ilmu

Selasa, Oktober 03, 2017

Yang terberat setelah mengetahui ilmu adalah mengamalkannya...

Setelah khatam buku Deadly Mist, saya lanjutkan membaca buku Rasulullah Is My Doctor by Jerry D Gray. Dikatakan dalam buku tersebut, yang menyembuhkan sakit adalah Allah dan bukan obat-obatan atau dokter. Maka, jika sakit mohonlah kepada Allah akan berkah dan manfaat dari obat yang diminum untuk kesembuhan. Konsep sederhana dan tampak sangat biasa kita dengar, namun sulit ketika kita diuji dengan sakit. Bukankah umumnya kita  mengandalkan obat yang kita minum alih-alih mengandalkan pertolongan Allah dengan doa yang sungguh?

Pun, ketika harus memilih apakah akan menggunakan metode thibbun Nabawi atau menyerah pada obat kimia dengan ragam efek samping. Saya telah lama meninggalkan obat kimia, tetapi tidak benar-benar murni meninggalkan. Jika situasinya memang darurat, saya bisa saja menggunakan obat kimia. Ketika anak demam contohnya, kalau sudah lebih dari tiga hari demam tidak turun, saya akan menyerah pada obat penurun panas buatan pabrik farmasi.

Saya diuji dengan Valya yang sakit beberapa hari ini. Ia demam sejak lima hari yang lalu. Tak tega melihatnya menderita panas tanpa ada gejala pilek atau batuk berat (ia hanya pilek ringan), mencret atau sakit yang lain. Saya curiga akan thypus dan DBD, tentu saja.  Saya terus mencari tahu penyebab demamnya. Sayang, tidak juga menemukan suatu peristiwa sebelum ia demam yang mungkin menjadi penyebab sakitnya.

Di sinilah saya diuji. Tentang yang saya ketahui dari buku bahwa madu, habassauda dan minyak zaitun adalah obat untuk hampir segala jenis penyakit. Selain Sunnah Rasul, ketiga obat tersebut aman dan berefek menguatkan sistem kekebalan tubuh. Mengobati dengan membangun kekebalan tubuh. Bukan desktruktif seperti obat kimia yang mengobati namun memberi dampak negatif untuk tubuh.

Saya terus menguatkan hati untuk yakin pada Allah melalui doa yang saya panjatkan. Bacaan rukyah yang saya rapal dan balurkan ke seluruh tubuhnya. Lalu, saya berusaha sabar menunggu hasil dari ikhtiar saya mengobati dengan meminumkannya madu, jintan hitam dan zaitun secara rutin. Karena saya mengkhawatirkan demamnya, saya tambah dengan vermint untuk meredakan panas. Memang butuh kesabaran karena hingga hari keempat masih belum ada tanda membaik.

Tak ada yang lebih merisaukan hati bunda selain anak yang sakit. Ia tak nyenyak tidur, sering terbangun dan menangis semalaman, tak mau makan, rewel dan merengek seharian. Namun saya harus tetap teguh dan sabar dalam proses penyembuhan. Takkan menyerah pada obat kimia meski hati tak tega. Saya percaya bahwa saya tidak sedang menyakitinya. Saya justru melatih tubuhnya, menguatkan kekebalan tubuhnya, memberinya nutrisi dan amunisi yang diperlukan tubuh untuk melawan penyebab penyakit.

Dan di malam kelima, ketika saya mulai khawatir dan goyah, Allah menjawab doa saya. Suhu tubuhnya menurun secara signifikan dan  akhirnya ia bisa tidur. Ya Allah, Alhamdulillah. Sungguh nikmatnya terasa berbeda ketika sudah ikhtiar maksimal dalam hal yang disunnahkan. Dibanding ketika ia sembuh karena meminum obat kimia.

Sejatinya, saya tidak hanya sedang diuji dengan sakitnya Valya. Keimanan dan keyakinan saya pada kebenaran Sunnah Rasul pun diuji. Saya harap saya telah lulus ujian ini dan kini saya membagikan pengalaman saya untuk yang membaca tulisan ini.

Berobat dengan thibbun Nabawi, sejatinya hanya butuh sedikit sabar dan banyak doa. Tentang hasilnya, yakin pasti Allah sembuhkan. Kuncinya yakin dan yakin.
Sekarang, si kecil Valya telah pulih dari demam dan saya akan tetap meminumkan madu, habasauda dan zaitun untuk menjaga  kesehatannya, insyaAllah.