Rabu, November 09, 2016

                                                      www.musafirlonely.blogspot.co.id

MUTIARA SILAM

Panggung  kecil yang dipasang agak tinggi itu bertutupkan karung bekas menyimpan beras. Terdapat sebuah poros jagung kering yang dikaitkan pada sebilah kayu di tengahnya. Poros jagung itu berfungsi sebagai mikrofon imitasi yang sempurna untuk acara tabligh akbar pada hari itu.

“Assalaamualaikum warohmatullahi wabarokaatuuuh!”
Anak lelaki bertubuh jangkung kurus itu mulai menyapa para hadirin yang memadati area di depan panggung. Riuh rendah suara jamaah wanita menjawab salamnya dengan bersemangat. Dengan berapi-api layaknya kyai berceramah, anak lelaki itu mulai menyampaikan petuah-petuah.

Jamaah yang kebanyakan perempuan itu sudah menantikan kedatangan kyai kecil itu sejak pagi. Dengan selendang kecil yang diselempangkan sekenanya, mereka khusyu menyimak, sesekali cekikikan geli dengan tingkah mereka sendiri.

Ya, tentu saja mereka geli, karena yang mereka lakukan hanya pura-pura ala anak kecil atau istilah kerennya bermain role playing. Kyai kecil itu adalah teman mereka sendiri yag didaulat menjadi kyai, berpenampilan layaknya kyai. Berpeci tinggi, bersarung dan bersorban melilit leher. Sementara mereka berperan sebagai jamaah yang khusyu mendengarkan ceramah. Meksipun bercelana atau rok pendek dan kaos, tetapi tetap berkerudung selendang sebagai ciri khas ibu-ibu yang mengaji.

            Tak sampai sepuluh menit sang kyai berceramah, karena jamaah perempuan itu sudah mulai saling sikut bercanda sendiri, juga mulai melirik takir yang biasa dibagikan di pengajian. Maka setelah mengucap salam, acara berganti menjadi pembagian takir yang paling ditunggu.

            Takir yang sederhana, hanya dialasi daun pisang yang disemat lidi, kemudian diisi sekepal nasi, dengan lauk seadanya yang ada di rumah masing-masing, kemudian dikumpulkan. Ketika dibagikan, harus dipastikan bahwa setiap orang tidak menerima takir bawaanya sendiri. Dengan begitu, acara ini menjadi ajang mencicipi makanan rumah teman yang lain.

            Keseruan itu berlanjut ketika makan. Jangan bayangkan telur, ayam, atau daging yang mereka makan. Nasi itu hanya berteman oseng tempe atau ikan asin dan beberapa lembar sayur saja. Mereka makan dengan lahap, menikmati setiap suap dan gigitan dengan bersemangat. Diselingi gurau dan obrolan mau main apa setelah itu dengan teman sebelah, bukan main nikmatnya. Di sekeliling area panggung, para emak menikmati kebahagiaan anak-anak mereka yang tengah bermain dengan hati berbuncah.

      Kebahagiaan itu terasa lengkap, kedamaian dan ketenangan menyelimuti setiap yang menyaksikan momen berharga masa kecil itu. Tak ada kepuraan, tak ada dendam dan benci. Hanya senyum alami yang terus mengembang, mata yang berbinar, dan hati yang riang.

            Padahal, tak ada mainan canggih, tak ada gadget melenakan, tak ada tivi bertabur hiburan, tak ada kemewahan atau makanan aneh nan mahal. Tetapi, kebahagiaannya sempurna hingga lekat di ingatan dan sanggup mengukirkan senyum setiap kali mereka mengingatnya hari ini.

            Kenangan masa kecil yang sangat bahagia, meski tinggal di lereng gunung yang terpencil dari kota. Ia bagaikan mutiara dari masa silam, tertanam jauh di lubuk hati sebagai harta berharga yang tak bisa ditukar dengan apapun...

          Sayangnya, aku tak yakin, apakah kebahagiaan itu masih akan terpancar dari tempat yang sama seperti waktu itu, pada masa ini...

            


Rabu, November 09, 2016

Berkah Aksi  411

Sejak seminggu sebelumnya,  kabar akan diadakannya family gathering kantor tempat suami saya bekerja sudah sampai ke telinga anak-anakku. Tentu saja mereka girang bukan kepalang, karena destinasinya adalah Ancol, Jakarta.  Selain itu,  ada rencana terselubung di sela acara gathering, yaitu pulang ke rumah kami yang lama di Cileungsi. Ya...sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui lah, hehehe.

Mereka gembira karena selain akan menginap di hotel dan menjelajah wahana di Ancol, juga ada banyak hadiah dan game menarik. Dan tentu saja ketika kami “kabur” nantinya dari acara gathering itu, mereka akan bertemu kawan-kawan lamanya yang sudah dua tahun tak bersua. Bukan hanya mereka yang riang, saya pun menanti momen itu dengan hati berbuncah, sebab ini kesempatan langka. Selain untuk bersilaturahim, momen ini saya manfaatkan untuk temu kangen dan meninjau rumah setelah renovasi ( jiaaahh meninjau! udah kaya Jokowi aja meninjau proyek saat demo #eh ). Kapan lagi, coba. Bayangkan kalau berangkat berlima dengan uang sendiri pulang pergi pakai pesawat, kan mahal book :p. Maka, kami menanti dengan sabar datangnya Sabtu 5 November itu.

Qodarullah, tanggal 4 November bertepatan dengan aksi damai bela Al-Qur’an yang diselenggarakan di Jakarta.  Karena saya ngga ikut aksi, saya memantau kabar jalannya aksi selepas Maghrib melalui chat dengan beberapa kawan yang tahu info terbaru di lapangan. Walhasil ketika ada berita tetang kericuhan massa yang disangka dari kubu HMI dengan polisi terjadi, saya langsung tahu update infonya. Termasuk ketika ada penjarahan di Luar Batang oleh warga. ( Belakangan di ketahui bahwa ada provokator yang sengaja menyusup ke dalam kerumunan demonstran dan membuat kericuhan ).

Kabar terkini tersebut rupanya diikuti pula oleh petinggi kantor suamiku di Jakarta. Mungkin menurut pertimbangan mereka, akan ada kericuhan yang meluas yang mengancam keamanan Jakarta, sehingga akhirnya pada pukul sembilan malam GM menutuskan untuk menunda acara family day hingga waktu yang belum ditentukan. Ketika pembatalan itu turun, anak- anak sudah tidur.

Terlalu heran dan kaget dengan berita itu, kami sempat bingung bagaimana caranya menghibur anak-anak yang akan kecewa karena batal berangkat. Entah karena kaget atau memang lola :p, kami tak terpikir apapun selain cara untuk memahamkan anak-anak. Alhamdulillahnya, tiba-tiba suami ada ide untuk tetap bertolak ke Jakarta. Karena tiket sudah issued, sangat kecil kemungkinan di cancel oleh admin kantor, jadi masih tetap bisa berangkat. Hanya saja, kali ini tujuanya bukan untuk family gathering kantor, melainkan family day sendiri. Ya, kami akan ke Cileungsi, ke rumah lama kami untuk bersilaturahim dengan tetangga, saudara, teman sekaligus mengurus rumah sebelum dikontrakkan.

Alhamdulillah, berkah aksi 411, saya bisa pulang ke kota lagi, dua hari full. Bisa melepas kangen dengan teman, tetangga , juga kawan lama anak-anakku. Terutama juga bertemu dengan keluarga adik ipar yang tinggal di Cileungsi, tak jauh dari tempat tinggalku dulu. Meskipun sangat melelahkan tetapi alhamdulillah kami senang bisa kembali menginjakkan kaki di rumah penuh kenangan kami. Merasakan lagi sejuknya air sumur, menginjak rumput taman di depan rumah, menyusuri ruangan demi ruangan tempat kami beraktivitas mengukir cerita dulu, merasakan lagi hawa panas dan macetnya Cileungsi.

Alhamdulillah, maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?

Selasa, November 08, 2016

                                                   www.pakdheaswin.blogspot.co.id

SELEPAS KAU PERGI

“Cepat Dek, kita sudah terlambat!”kataku sambil sibuk menstarter motor tuaku. Istriku masih saja menjemur baju. Padahal arisan sudah dimulai setengah jam yang lalu
“Satu baju lagi, “ pintanya sambil mengibaskan kemeja basah,”nah, sudah selesai.”

Usai menjemur, dia bergegas menyusulku. Tetapi, ia termangu lagi sebelum menutup pagar, menatap rumah tua warisan nenekku itu. Aku tahu yang dia pikirkan. Dia tak tenang meninggalkan rumah dalam keadaan masih sangat berantakan. Sampah semalam yang belum dibuang, jemuran kering teronggok di dipan belum dilipat, lantai lengket berdebu minta disapu, cucian piring, kamar berantakan, dan remeh temeh pekerjaan yang lainnya.

“Sudahlah! Nanti kita bereskan sepulang arisan.” hiburku tak sabar.
            Segera setelah istriku duduk di jok motor, kutarik gas menderu memecah hening. Bayangan masam muka ibuku terpampang. Ibu tidak akan senang jika kami datang terlambat, karena seharusnya kami ikut membantu persiapan arisan di rumahnya. Tetapi, kami tidur terlalu larut, setelah seharian lelah ke luar kota. Ditambah lagi istriku berulang kali terjaga karena sesuatu yang tak kupahami. Akibatnya, terlambat bangun dan kacaulah semua urusan hari ini.
            .
Arloji menunjuk waktu setengah dua ketika aku memarkir motor di garasi rumah. Aku sangat mengantuk, begitupun istriku. Ia berulang kali menguap dan mengucek matanya. Arisan keluarga tidak pernah sebentar, kami harus ikut sampai selesai walaupun kantuk lelah mendera.
“Aku mau tidur, Mas...“ ujar istriku sambil memutar anak kunci rumah ke kanan. Beberapa menit kemudian terdengar dia sibuk meletakkan barang bawaannya di dapur.

Kantuk yang menggelayuti mataku mendorongku menyeret langkah segera menuju ke rumah. Tetapi belum sampai di depan pintu, kudapati istriku  lari secepat kilat dengan muka tak beraliran darah menghambur ke arahku. Ia menyusup ke pelukanku. Napasnya terdengar berat satu-satu. Mulutnya megap-megap seperti hendak bicara tapi tak mampu. Kedua tangannya bergerak naik turun serupa dirigen paduan suara. Kemudian, telunjuknya mengarah ke dalam rumah.
“Kenapa kamu Dek?Istighfar!” meski heran, kucoba untuk menenangkan dirinya. Nanar kuedarkan pandangan ke dalam rumah, mencoba mencari tahu.

Dia masih terpana. Keringat dingin mengaliri wajahnya. Tak sepatah kata pun  keluar dari bibirnya. Ia semakin erat memelukku. Naluriku bekerja. Pasti ada sesuatu di dalam sana yang membuatnya seperti habis melihat hantu. Hemm, mungkinkah dia benar telah melihat hantu? Atau penjahat dengan pisau di tangan? Atau jangan-jangan hanya tikus kecil yang berpesta menghabiskan sisa makanan? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, aku harus masuk!

“Kamu disini saja, aku akan masuk...”
Dia menggeleng kuat, matanya menyipit, keningnya berkerut, bibirnya mengerucut, tangannya mencengkeram lenganku erat.
“Oke, kita akan periksa sama-sama. Kamu jalan di belakangku.”

Setengah terpaksa istriku menyeret langkahnya. Dia menoleh ke kanan-kiri seperti memastikan sesuatu. Sesekali memandang ke depan dengan curiga. Kami berjalan dengan mengendap-endap, kuambil sebilah sapu untuk berjaga. Sampai di ruang tamu, tak ada yang mencurigakan. Tampak rapi dan bersih seperti biasanya.

Kuteruskan menyusuri ruang tengah, pun tak kulihat apapun yang berbeda. Hanya jemuran kering yang terlipat rapi di atas dipan. Berlanjut ke arah dapur, berharap bertemu tikus yang menakuti istriku, tetapi nihil. Hanya dapur yang rapi, tak ada dua keresek sampah yang semalam belum dibuang, tak ada cucian piring kotor, semua tampak normal. Kurasakan genggaman tangan istriku menguat.

Kulanjutkan pencarianku ke kamar, semerbak wangi menguar dari sprei yang baru diganti, bantal dan guling tertata di tempatnya. Sungguh berbeda dengan keadaan tadi pagi ketika kami tinggalkan.
Tetapi, tunggu! Bukankah istriku pergi bersamaku? Istriku menarik-narik lenganku, matanya berusaha mengatakan sesuatu, tetapi tak kuasa. Hanya tangannya yang menunjuk-nunjuk tempat-tempat yang barusan kami jelajahi. Dipan, dapur, dan kamar.
“Apa?” tanyaku sambil berusaha mencerna. Dia mendelik.

Kucoba memutar otak, memahami yang terjadi. Lambat laun pikiranku mulai bekerja. Aku mengerti! Dipan, dapur dan kamar. Keadaan rumah telah berubah!  Jelas itu bukan perbuatan istriku! Seseorang telah berada di sini, menyelesaikan semua kekacauan di tempat ini. Tetapi, siapa?

“Apa kau mengunci pintu sebelum pergi?’ aku berusaha berpikir wajar. Mungkin tetangga sebelah rumah yang baik hati, pikirku, meski merasa itu tak mungkin.
Istriku mengangguk kuat. Tatapannya seolah memohon: please pahamlah!
“Jadi?”
Secepat kilat istriku meghambur keluar, disusul denganku yang baru memahami situasi.
Seseorang telah mengerjakan pekerjaan istriku, lebih tepatnya sesuatu, yang tak kasat mata. Sesuatu itu telah merapikan rumahku, menyapu dan  mengepel lantai, mencuci piring, melipat baju, membuang sampah, bahkan mengganti sprei!
Sambil lari bertunggangan aku berpikir. Mungkinkah sesuatu itu adalah yang semalam membuat istriku terjaga dan histeris?

Di teras, terlambat kami menyadari, jemuran basah tadi pagi telah kosong...



Jumat, November 04, 2016

pic source: www.wisatalagi.blogspot.co.id

Amazing Lawu

Pulang kembali ke Sidoarjo setelah mudik lebaran kemarin menyisakan rekaman indah tentang pemandangan sepanjang jalur yang saya lewati. Biasanya kami lewat pantura yang gersang dan sepi dari aktivitas manusia, dengan pemandangan pantai di sebelah kiri. Tetapi, kemarin kami mencoba lewat jalur tengah yang dimulai dari Purwokerto hingga Madiun-Jombang-Mojokerto-Sidoarjo.
.
Perjalanan mudik kali ini paling melelahkan karena sampai harus menginap di Magelang. Setelah tiga belas jam berkendara dari Tegal, kami baru sampai Magelang jam sembilan malam. Padahal kalau lewat pantura sudah sampai Sidoarjo. Memenatkan sekaligus mengesankan karena suguhan ciptaan Tuhan yang mempesona sepanjang jalan, juga kesempatan mengenal sekilas kota-kota dan manusianya.
.
Kami tak henti mengucap subhanallah, bertahmid karena diberi kesempatan menikmati ciptaan-Nya yang amazing banget. Jujur, kalau saja jaraknya tak sejauh itu, saya ingin mengulang lagi. Tetapi, rasanya cukup, lelahnya masih terasa sampai sekarang.
.
Sepanjang jalur tersebut, kami kenyang melewati jalanan kota yang padat, kadang macet, kadang sepi, kemudian berliku, menanjak, menurun tajam, dengan ancaman mulut tebing yang memaksa harus selalu waspada. Apalagi Pak Suami hanya mengandalkan marka jalan sebagai petunjuk, walhasil mengikuti jalan yang mainstream, dan rasanya itu, panjaaang dan laammmaaa *itulah choki choki #eh. Kayanya ngga sampai-sampai;(.  Jangan ditanya bosan dan capeknya di mobil seharian penuh ditingkahi rewel dan ributnya anak-anak*skip abaikan :D
.
Banyak view bagus yang terekam otak, tapi karena memotret dari mobil yang melaju kencang, hasilnya ngga maksimal. View yang memanjakan mata sebenarnya dimulai dari Purwokerto, makin menarik ketika memasuki Wonosobo ( di jalur ini horor banget, naik turun, jalannya sempit, mana waktu itu hujan, berkabut pula ), kemudian  Salatiga, dan Kopeng. Dan yang paling berkesan adalah sepanjang lereng Gurun Lawu.
.
Subhanallah, viewnya asli cantik banget. Saya orang kampung, udah biasa lihat hijau tetumbuhan, pepohonan, gunung, bukit, sungai. Tetapi melihat lereng Gunung Lawu hingga ke puncaknya sungguh belum pernah saya jumpai sebelumnya ( mungkin efek kurang piknik jadi norak ). Saya rasa kata-kata tak kan cukup mewakili pesonanya.
.
Gerbang Gunung lawu dimulai dari Tawangmangu yang berhawa dingin. Awalnya jalan menanjak lumayan curam di Tawangmangu, selepas itu kami menyusuri jalanan berkelok dan menanjak dengan hamparan sawah, bukit dan pepohonan di kanan kirinya, makin ke atas semakin berkelok dan menanjak meskipun tidak terlalu curam ( kelokanya mantap, untunglah jalannya lebar dan halus ).
.
Naik lagi, hamparan sawah, pepohonan, bukit-bukit semacam bukit teletubbies, makin kerap dijumpai. Terus seperti itu sehingga di samping kanan kiri jalan adalah tebing tinggi yang curam dan rimbun oleh tetumbuham, seperti masuk ke dalam hutan Gunung Lawu. Lebih tepatnya kami masuk membelah Gunung Lawu, terus menanjak hingga sampai ke “puncak” dimana jalanan tidak lagi menanjak melainkan landai. Dari puncak tersebut mendekati perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah sampai puncak, barulah jalanan menurun terus dengan pemandangan sama seperti pada saat menanjak tadi, hingga ahirnya sampai di Sarangan, Magetan. Sampai sini, petualangan membelah gunungnya selesai, meskipun beum benar-benar berakhir.
.
Lereng Gunung Lawu, sungguh lukisan alam yang menakjubkan sekaligus menyeramkan karena tebing yang rawan longsor, dan saya rasa kurang aman jika berkendara di malam hari apalagi bagi yang tidak kenal medan seperti kami. Untunglah kami melintasi Gunung Lawu pada sore hari sehinga ngga sampai kemalaman di dalam gunung. Kalau kemalaman di situ, bisa bisa ketemu alien pake baju jawa kuno deh, hiyyy!
.
Ya, sepertinya kalau mau ke sana lagi, harus menginap dan tidak pada saat mudik. Supaya lebih puas menikmati surga kecil dunia yang mempesona itu. Selamat traveling #lho



Kamis, November 03, 2016

www.menalive.com

GENOCIDE

“Sudah cukup! Kali ini gue akan buat perhitungan!” teriak lelaki itu sambil membanting pintu kamarnya. Aku sampai terlompat dari kursi saking kagetnya. Makan siangku berhamburan ke lantai.
Kenapa dia? Sudah seminggu ini perilakunya berbeda. Ia mudah sekali teriak-teriak menyumpah. Gerak-geriknya pun aneh, dia tampak sering memegangi kepalanya sambil mondar mandir gelisah. Jangan-jangan ada yang mengusik kekuasaannya di pasar.
.
“ Me...”
“Diem lu!” belum sempat ku membuka mulut dia sudah menyuruh diam.
“Lu duduk dan dengerin gue!”
Aku merunduk dengan takzim.
.
“Hari ini gue akan balas semua perbuatan cecunguk-cecunguk ini, lu akan jadi saksinya!“teriaknya sambil menunjuk mukaku.
“Makin hari makin ngga tau diri. Dateng ngga pake ijin, bawa keluarga sekampung. Dudukin wilayah paling penting dalam hidup gue, makan minum gratis!"
Wajah lelaki itu memerah, tangannya mengepal. Hidungnya mengembang mendengus-dengus.
“Pake beranak segala di daerah gue. Sekarang, berani-beraninya pindah-pindah tempat, bikin gue gatel pengin habisin tu makhluk!"
.
            Keringat bercucuran mengaliri dahinya yang legam. Giginya bergemeletukan.
            “Jangan sebut gue preman kalau ngga becus basmi mereka satu persatu. Gue akan bunuh mereka dengan tangan, sampai ke bayi-bayinya. Lu akan liat lapangan akan merah dengan darah pendompleng sialan itu!”
            Nyaliku surut mendengar gelegar sumpahnya. Dia tak pernah mendustai ucapannya. Jangankan penjara, Tuhan pun dia tak takut.
            “Gue heran, kenapa gue racun mereka tapi ngga mati. Jangan-jangan udah kebal!” gumamnya dengan kening berkerut.
            .
            Sambil menyeringai, ia mengeluarkan sebentuk benda persegi panjang berwarna coklat dengan puluhan  gerigi rapat dari balik sakunya. Sepertinya dia sudah menyiapkan rencana jahat.
            Ia menghadap ke cermin, mematut diri. Kemudian mulai bersisir. Aku menahan napas, dia sudah mulai bersiap. Aku ngeri membayangkan yang akan terjadi selanjutnya.
            .
            Tiga puluh menit kemudian...
Puluhan mayat bergelimpangan di lapangan beralas putih yang sengaja disiapkan tuanku. Remuk tak berbentuk, darah berceceran di mana-mana. Dari mulai kakek hingga bayi dibinasakannya dengan sekali aksi. Dengan senjata barunya tuanku telah membuktikan keperkasaannya menghabisi siapapun yang menginjak  harga dirinya. Alat ajaib itu menggiring semua makhluk tak berdaya itu turun ke lapangan, dan tuanku membunuhnya dengan tangan kosong, hanya dengan jempolnya.
            Senyum kemenangan tersungging di bibir coklatnya. Ia menghela napas lega. Ia puas, telah menyingkirkan seluruh makhluk yang menghuni kepalanya selama seminggu ini. Sambil mengelus bulu hitamku dia berkata, “Kau lihat Puss, kutu-kutu itu sudah mati!”

Rabu, November 02, 2016

                                             Nulis Fiksi Yuk!

Menulis fiksi/cerpen adalah cara yang saya pilih untuk menyampaikan pesan-pesan tanpa terkesan menggurui, karena sejujurnya saya pun ngga suka digurui. Dengan menulis cerpen, saya bisa menjadi apapun tanpa merasa bersalah.
Sayangnya, bagi saya yang amatir, menulis cerpen yang cukup bagus membutuhkan waktu yang cukup dan mood yang oke. Dan itu, tidak oke. Apalagi ditambah sifat perfeksionis yang mengganggu. Bisa habis waktu berhari-hari demi beberapa halaman cerpen saja. Sangat tidak produktif. Padahal kata founder odop, Bang Syaiha, celakalah penulis yang menunggu mood untuk menulis.
Selama bergabung di odop, melalui diskusi dengan para senior di odop dalam kelas bedah tulisan, dapat saya simpulkan bahwa untuk membuat cerpen yang menarik a.k.a bagus setidaknya ada beberapa pakem yang harus diikuti. Ini adalah beberapa yang saya ingat:
  1. judul yang menarik dan menggambarkan isi tulisan
Judul yang menarik tidak perlu panjang, cukup satu atau dua kata yang menarik yang menggambarkan isi cerpen. Contoh: Big Bang J
  1. rule of three
Paragraf pertama ibarat teras rumah yang menentukan kesan menyeluruh dari sebuah rumah. jika paragraf pertama tidak menarik, Kemungkinan besar tulisan tidak akan dibaca sampai selesai. Buatlah paragraf pertama dengan tiga kalimat, tidak lebih.
  1. tiga paragraf pertama yang menentukan
Tiga paragraf pertama cerpen yang menarik akan membuat pembaca rela menyelesaikan bacaanya. Usahakan tidak membuat kalimat deskripsi yang berlebihan ataupun deskripsi kronologis.
  1. tema yang unik, tidak pasaran.
Tema cinta adalah tema paling pasaran.
  1. diksi yang indah/sesuai
Pemilihan dan penempatan kata yang sesuai akan menambah cita rasa cerpen. Jika tema cerpen termasuk pasaran, bumbuilah dengan diski yang megah supaya tetap indah.
  1. alur yang menarik. Contoh alur yang menarik adalah alur maju-mundur /pingpong
  2. deskripsi ruang yang detail, deskripsi gesture dengan cara show not tell supaya pembaca ikut merasakan suasana dan emosi yang diinginkan penulis
  3. sudut pandang/pov yang berbeda
  4. ending yang terbuka lebih menarik dibanding yang tertutup. Dengan ending terbuka, pembaca bebas menafsirkan sendiri akhir ceritanya. Apalagi jika dibuat twist ( melintir )
Nah, itulah beberapa ilmu baru yang saya dapat di odop selama ini. Selamat membuat cerpen J


Rabu, November 02, 2016

pic source: www.loverofsadness.net

Tak Waras

“Kamu sudah gila!”
Perempuan itu menyerangku dengan serapah. Napasnya berkejaran, derunya menggangu. Dengan wajah merona merah, alis bertaut, dan kepala yang konstan menggeleng, ia telah menjelma serupa ibuku ketika murka. Tetapi, dia bukan ibuku, dia hanyalah sahabatku
Perempuan itu sudah murka sejak menerima pesanku semalam. Bagaimana tidak, di tengah persiapan pernikahan yang tinggal hitungan bulan, aku berniat membatalkan pernikahan.
.
“Lebih gila lagi jika aku menikah kemudian bercerai.”aku berusaha sesejuk air untuk menyimbah amarahnya.
“Hanya orang tak waras yang berniat bercerai pada saat menikah.” tukasnya
“Itulah. Sebelum terlambat, aku akan batalkan...”
            .
Dia menatapku setajam elang mengincar mangsa. Beberapa detik lamanya, ditemani diam. Lalu, dia membuang pandangannya ke depan, sambil mendengus.
“Kau tak sadar berapa umurmu sekarang? Tiga lima, sayang. Kau yakin akan bertemu orang sebaik dia setelah ini?”
Tatapannya kembali menjilati setiap senti tubuhku. Biarlah, dia pantas marah.
“Dia anak tunggal, ibunya sudah tua dan sakit. Kau tau apa artinya? Dia pewaris tunggal harta orangtuanya!”sambungnya berapi-api.
“Oh, alasan itu kurang menarik? Kau sangka aku matre? Baiklah. Dia lelaki baik-baik, rajin ibadah, pekerjaan mapan, wajah tampan,” dia berhenti sejenak, ”meskipun masih lebih tampan suamiku...” lanjutnya.
            .
Aku menoleh, ganti menatapnya.
“Menurutmu, aku akan bahagia dengannya?”tanyaku.
“Di atas kertas: iya. Dia memiliki semua syarat kelayakan menjadi suami.”
“Meskipun aku tidak mencintai dia?”
Permpuan itu tergelak, nadanya mengejek. Tawanya lebih menyiratkan bahwa pengalaman telah mengajarkan hal yang hanya diketahui oleh yang sudah menikah.
“Nikah saja dulu, cinta kemudian!”
“Jadi, aku tak boleh menikahi lelaki yang kucintai?”
“Tentu saja boleh, jika lelaki itu ada dan melamarmu sekarang!”sergahnya sewot.
            .
Sambil memandangi goyang pepohonan di taman sore itu, dia bergumam,
“Kenapa kau terima lamarannya jika kau tak yakin? Seandainya kau lakukan ini dari sejak aku mengenalkanmu padanya. “ sesalnya. Aku hanya mematung.
“Kau terus menerus bilang cinta. Memangnya siapa yang kau cintai, Widia?! Aku bahkan belum pernah mendengar namanya.”
Lalu, perempuan itu menoleh ke arahku tanpa berkedip. Aku melawan dengan diam. Dia benar, lima belas tahun persahabatan kami seharusnya tak menyisakan sedikit pun celah rahasia.
“Ada apa sebenarnya Widia? Terlalu konyol jika alasanmu hanya karena cinta.”
Aku menggeleng. Benar-benar tak waras jika aku berkata jujur. Meskipun, mungkin jiwaku sudah tak sehat.
.
Mungkin dia sadar, murkanya tak berguna. Maka, dia menggenggam tanganku, seraya mencari yang tersembunyi di bola mataku.
“Setidaknya, pikirkanlah tentang ibumu...” nasihatnya.  
Aku melengos. Siapa pula yang tak ingin membahagiakan ibu dengan pernikahan dan cucu? Tetapi, apakah ibuku akan bahagia jika aku tak bahagia?
.
Cinta memang gila, tak kenal logika. Bagaimana bisa dia lekat tertambat pada lelaki yang...ah, perih batinku mengingatnya.
Lelaki itu, ia mendekati sempurna. Ia baik dan penyayang keluarga. Dia sabar, meski sering dimurkai, ia mencintai pekerjaannya, dan tak pernah lupa mengaji. Jangan lupa, ia tampan. Telah kusaksikan kesempurnaan itu bertahun lamanya, sejak sahabatku menikah.
 Ya, ini semua salahmu, sahabatku. Aku mengenalnya dari dirimu, dari ceritamu, dari keluhanmu.  Dan kamu, perempuan itu, sangat beruntung memilikinya. Lelaki yang kucintai itu, suamimu...