INYONG BUNGAH DADI WONG TEGAL

Rabu, April 05, 2017



                                                                  www.kaostegalasli.blogspot.co.id
 
Mau bengi, ceritane nyong ndopok karo kanca se-grup ning ODOP. Awale ta ya ndopoke soal kenalan, unggal wong dikon perkenalan. Asli, sebenere ta ya pengine kabur bae lah, soale isin ya, nyong ta ora duwe kelebihan apa-apa. Tapi, karena kudu, dadi ya wis lah ora papa.

 Geliseng cerita, nyonge kenalan o, tek sebutena bahwa nyong kuwe wong Tegal. Eeeh, jebule koh pada respon. Sing respon ya siji loro sih, asline ta, tapi respone kuwe heboh, kaya kuwe. Tapi, embuh ya, nyong koh bangga dikenal sebagai wong Tegal. Mangkia diledek jere ngapak, pan belih a. Ngapak-ngapak ya pora, malah angger ora ngapak ora kepenak, belih? Sisan bae tek kandani jargone wong Tegal: Tegal Laka-Laka. Deweke bingung, laka laka sih, apa? Tek jawab: laka-laka adalah langka saingan, langka tunggale, seng ada lawan, jere wong sebrange kaya kuwe hehehe. 

Nyong wis suwe ora urip ning Tegal. Tapi, mangkia nyong wis suwe ning perantauan, angger wis ngomong tegalan, leeh aja takon, nganti kelalen mandeg, kelalen mangan kelalen nginung#tipu alus dikan, akhire serak. Apamaning nyong ta tegale puncit perek Guci, bahasane luwih ajib o, wong Tegal asli be ora paham. Kaya ta istilah mbarah, lingir, nempur, wade, gegeni lan liyan-liyane. 

Untunge nyong angger soal bahasa ta mada cepet nyambunge. Dadineng urip ning endi bae ya bisa adaptasi karo bahasa setempat. Soale, nyong ta ora wedi salah nyoba ngomong bahasa setempat. Prinsipe: ning endi bumi dijejek...(nang kene kyeh :D), nang kono langit dijungjung. Dadineng, nyong bisa bahasa macem-macem. Logate ya, alhamdulillah bisa melu logat asline, mendekati lah ora kaku temen. Hasile, nyong ngomong sunda ya bisa, ngomong inggris ya bisa, ngomong jawa wetan ya bisa, apamaning arab ta ya cipil o. Arab...arab pati nggenah alias asal mangap bae. Wkwkwk. Otomatis, ngomong tegal ya karo merem be cerem #yaiyalah wong sembareng brojol krungune bahasa Tegal, ora nglotok nda kebongeden o. 

Asline ta kanda soal Tegal, laka pragate. Soale selain unik, juga akeh kekhasane. Kaya ta teh Tegal sing laka-laka, teh poci, teh tong tji, teh dua tang, teh sosro, kuwe asline sing Tegal. Durung, ana gula batu, tahu pletok ( tahu aci ), endog asin, rujak teplak, tempe bosok, soto tauco, lengko, lah...lah...kiye bisane anjoge meng panganan sih? Kanda apa lesu sih, rika? Wakakak, ya wis semono dingin bae. Nulis semono be ail koh otakke mbari mikir. Esuk maning tek ceritani tentang Tegal sing Laka-laka lan ngangeni. Tegal ngapak-ngapak, ora ngapak ora kepenak. Tegal Laka-laka, Brooh!




BIRU TOSCA

Selasa, April 04, 2017




Minggu, 28 Januari pukul 16.00
“Mas, jangan lupa, minggu depan ada undangan nikah teman kantormu loh, ya?” teriak istriku dari kasur tempatnya berbaring, dengan ponsel menyala di tangan.
“Hemm...” aku hanya menjawab pendek dari ruang tamu. Kembali fokus pada pekerjaanku menyusun laporan pekerjaan.
“Kamu mau pakai baju yang mana, Sayang?” teriaknya lagi.
“Hemmm....”
“Sayaaaang?!” teriaknya lebih kencang, kali ini ditingkahi lemparan bantal.
“Eh, apa?”
“Baju, sayaaang!” nada suaranya gusar.
“Baju apa aja lah, yang tempo hari dipake buat ke kondangan sepupu juga boleh.”
“Whaat? Masa pakai yang itu lagi?”
“Kenapa memangnya, kan masih bagus?!”
Perempuan itu melengos, bibirnya manyun, kemudian kembali sibuk menggerakkan layar ponselnya dengan mimik serius. Mungkin, dia membaca gosip bulu mata anti kelilipan milik artis.
“Coba lihat Yang, menurut kamu bagus yang mana? Yang kanan apa yang kiri?”
Aku melirik sekilas, terlihat samar dua gradasi warna: biru tosca di kanan dan merah marun di kiri.  
“Hemm, yang kanan.”
“Tapi, lebih mahal dikit, ngga apa-apa ya?”
Mahal? Oh, itu bukan bulu mata? Sayangnya aku tak punya waktu untuk memeriksa. Bosku menunggu laporan segera di email dan itu lebih penting. Soal bulu mata atau apapun  itu, terserah dia saja.
“Oke?” desaknya lagi.
“Hemmm. Hemmm....” dengusku yang diartikannya sebagai setuju.
#
Minggu, 4 Februari, pukul 09.00
Wanitaku sibuk berhias di depan cermin dengan seperangkat alat perangnya. Aku sudah tahu bahwa waktu prosesi dandannya cukup untukku melanjutkan sesi tidur yang terputus. Jadi, aku memilih berbaring santai sambil memantau berita online.
“Yang, ganti baju dong! Sudah jam sembilan, nih!”
“Hemm, gampang. Aku tinggal ganti, ngga sampe lima menit. Bajuku sudah siap, kan?” kilahku.
“Sudah, dong. Emang belum lihat? Yang aku taruh di kasur itu?”
“Ooh, iya. Nanti aku pakai.”
Ia memulas pipinya dengan kuas. Dengan ekspresi senyum agar pipinya menonjol dan tersapu blush on.
“Mas, nyalain dulu deh, mobilnya. Bentar lagi aku siap.” Kali ini ia bersabda sambil memutar jilbab pasminanya ke belakang, kemudian ke depan lagi, ke samping, dan akhirnya kepalaku yang pusing. Entah bagaimana hasilnya kreasi jilbabnya nanti.  Kukatakan padanya,”oke.” Tetapi, tetap tak beranjak dari kursi. Kulanjutkan lagi sesi malas-malasan dengan ponselku.
Beberapa menit kemudian, kulirik jam. Setengah jam berlalu dan dia masih belum siap.
“Kamu masih belum siap juga?! Tahu gitu aku tidur dulu...”
“Ih, Bebeb kalau kondangan itu mesti all out. Kita ngga tau akan ketemu siapa nanti. Kan, kalau aku stunning, kamu juga yang seneng.” kilahnya sambil mengedipkan mata.
“Iya, tapi ini sudah jam berapa? Belum macet di jalan. Sampe sana udah bubar, deh.”
Dia tak sempat menjawab lagi, asyik dengan kreasi hijab dan penampilannya. Ia baru keluar kamar ketika kantuk benar-benar datang menyerangku.
“Sini aku dandanin!” ia mengambil baju dan menyuruhku memakai setelan baju plus celana yang sudah rapi dan wangi. Melihat set baju baru itu, dahiku berkerut.
“Baju yang mana lagi, nih?”
“Yang tempo hari kamu pilih, biru tosca. Aku beli online.”
Aku? Memilih baju biru tosca? Kapan? Bagaimana bisa?
“Kenapa beli lagi? Bajumu ini, beli baru juga?”
“Ya iya, lah. Masa pake yang lama, sih...”
“Berapa duit?”
“Ngga sampe sejuta, lah”
Glek! Aku menelan ludah. Ingin protes, tapi dia memberi isyarat untuk diam dan menurut selama proses grooming.
“Oke, kita siap berangkat. Come on, kita bisa terlambat!”
Ia menyeret tanganku seolah-olah aku yang akan menyebabkan kami terlambat. Otakku masih merekam kata “tidak sampai sejuta” yang dia katakan.
#
Minggu, 4 Februari, pukul 12.00
“Fyuh, akhirnya.....” katanya seraya menjatuhkan diri di jok mobil. Make up dan dandanannya masih mempesona, hanya sedikit berkurang intensitas warna di bagian bibir akibat makan segala saat resepsi.
“Ayo pulang, aku capek. Pengin tidur...”
Tak menunggu perintah kedua, kustarter mobil dan mulai melaju perlahan. Wanitaku memejamkan mata sambil bersandar.
“Thanks God, kemarin kamu pilih biru tosca, kalau ngga....” ujarnya sambil menggeleng-geleng tak percaya, seolah baru melewati peristiwa menegangkan.
“Kalau ngga, kenapa?”
“Kita bakal kembaran sama Andi, teman kantormu.”
Dia meniup udara seolah lega. Menoleh ke arahku, memandangku lama. Sadar sedang diperhatikan, aku tersenyum simpul.
“Yeah, tapi kata ‘ngga sampai sejutamu’ itu bikin aku migrain...”
Dia mengedikkan bahu, cuek.
“Menurutmu, apa semua orang melakukan hal yang sama dengan kita? Berburu baju untuk dipakai ke undangan, menggelontorkan uang untuk membeli yang belum ada, menghabiskan waktu di depan cermin hanya untuk tampil beberapa jam saja, berfoto dan mengaplod di medsos, mengamati baju yang dipakai tamu yang lain, makan dengan rakus, kemudian pulang membawa souvenir yang harganya tak lebih dari dua puluh ribu rupiah...”
“Kita? Kamu aja, kali?!” ledekku yang dibalas dengan cubitan di lengan.
“Yeah, kalau mengingat bahwa kita hampir kembaran baju dengan teman, rasa-rasanya iya.” jawabku.
“Ngomong-ngomong, mahal sekali biaya untuk pergi ke undangan. Gaunku sama baju kamu, bensin, angpau. Pulangnya, cuma bawa tempat tisu...”
“Eh? Jadi, ceritanya insyaf, nih?” Tiba-tiba aku merasa senang sekaligus takjub karena dia telah mendapat hidayah atau ilham atau pencerahan atau apapun itu namanya.
“Ngga juga, aku cuma ngomong kok....”
Senyumku langsung lenyap. Padahal, ada dua undangan lagi dalam bulan ini.
 “Siapa sih, yang bikin acara ke kondangan ini jadi ribet dan mahal?” tanyaku agak kesal. Heboh ketika akan menghadiri undangan bukan sekali ini saja terjadi. Menuruti ego dan gengsi lambat laun akan membuat tabunganku menipis.
Wanita yang terlihat cantik itu menunduk. Bibirnya manyun.
“Apa yang terpenting dari menghadiri undangan?” pancingku.
“Ya, silaturahmi sama ngasih sumbangannya....” ia menjawab sekenanya.
“Itu aja?”
Dia terdiam, keningnya naik turun, seolah berpikir.
“Apa kamu sudah doakan pengantinnya tadi?”
“Eh?” nada suaranya terdengar kaget. Lalu, ia tercenung. Kemudian, tersenyum masam.
“Kamu sibuk dengan diri kamu sendiri hingga lupa esensi dari menghadiri undangan adalah memberi doa untuk kedua mempelai.”
Perempuanku masih diam sambil memainkan bibirnya.
“Lagipula, siapa yang peduli apakah kita pakai baju yang lama atau yang baru. Yang penting cukup pantas dan ngga bau.”
Ia masih bungkam.
“Iya, deh...,” akhirnya, dia mengerti juga, “tapi, kalau ada undangan, kamu aja ya yang datang. Aku di rumah aja, oke?”
Dasar keras kepala.
“Ya, ngga apa-apa. Asalkan, jangan marah kalau aku pergi sama yang lain. Oke?”
Pertanyaan yang dijawab dengan sebuah tinju sempurna di pipiku. Ugh!





BINGUNG

Jumat, Maret 31, 2017



                                               pic source:  www.123RF.com

Di suatu ketika dalam perjalanan menuju sekolah yang terburu-buru, Rusmini bicara kepada anaknya yang masih kelas lima sekolah dasar.  
“Besok-besok ngga boleh bangun terlambat lagi!” katanya gusar.
“Mau jadi apa kamu kalau kamu kesiangan terus!” lanjutnya.
“Untung kamu diantar Mama ke sekolah, coba kalau harus jalan kaki, bisa-bisa dijemur tiap hari kamu di lapangan!”
Sang anak, Farhan, mendengarkan lamat-lamat sambil menahan kantuk yang tersisa. Omelan ibunya seperti lagu nina bobo yang melenakan. Deru motor yang bersahutan bak irama lagu pengantar tidurnya yang terjeda.
“Dulu, Mama berjalan kaki ke sekolah, bareng teman-teman. Jauh, tapi rasanya senang, tak terasa capeknya.”
“Pagi sekali sudah ke kali untuk mandi, udara dingin tak dirasa. Nggak kaya kamu mandi harus air hangat, padahal mandi jam setengah tujuh.”  
Farhan mendengarkan di sela malas yang belum beranjak dari tubuh mungilnya. Badannya terguncang-guncang ketika motor yang dikendarai ibunya melalui gundukan.
“Tapi, Mama tak pernah malas ke sekolah, karena mama ingin jadi dokter.” sambung Rusmini dengan semangat.
Meski mengantuk, tapi Farhan dapat mengingat bahwa ibunya bukan dokter. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang pernah bekerja sebagai karyawati bank dan sekarang sibuk berjualan di rumah.
“Tapi, Mama tidak jadi dokter....” sanggah Farhan.
Sang mama rupanya sudah menyangka akan disangkal anaknya. Maka dia menjawab dengan tegas ”Sebab Mama takut melihat darah. Jadi dokter tidak boleh takut, sama hantu sekali pun!” kilahnya cepat.
“Terus, Mama sekolah apa?”
“Mama sekolah di perbankan.”
“Mama ngga kerja di bank lagi? Kan, enak di bank banyak uangnya, Mama tinggal ambil dari brankas.”
“Heeh?! Itu uang orang, kali! Mama kurang suka kerja di bank, membosankan.”
“Terus apa yang mama suka?”
“Mama sukanya keluar, jualan, ketemu sama orang, dapet duit. Enak, kan?”
Dahi Farhan berkerut. Ingin jadi dokter, tapi kuliah di perbankan, kemudian menjadi pedagang. Kenapa jadi begitu membingungkan?
“Nah, kamu mumpung masih kecil, harus punya cita-cita yang tinggi.” nasihat sang mama.
“Apa cita-citamu, heh?”
Farhan terdiam. Ia tak tahu pasti. Yang jelas, sering yang ia dengar adalah menjadi dokter, arsitek, pengusaha, guru, pilot.... Tetapi, sampai detik ini ia tak tahu harus memilih yang mana.
“Aku tidak tahu, Mama....”
“Heh? Kamu belum punya cita-cita? Wah, gawat ini! Terus mau buat apa kamu sekolah, heh?”
Ibunya masih meracau. Farhan merasa bersalah karena menjawab demikian.
“Mama sama Ayah kerja keras buat kamu sekolah. Kamu yang disekolahin, bingung!”
Farhan meneguk ludah.
“Kalau mama ngga suka kerja di bank, kenapa Mama kuliah perbankan?”
Alih-alih menjawab, ia malah menyelidiki sang mama.
“Ya, karena Mama pikir, kerja di bank itu keren, banyak uang.”
“Ternyata nggak keren ya, Mama?”
“Bukan nggak keren, tapi Mama yang ngga suka di dalam ruangan terus menerus dari pagi sampai sore di depan komputer.”
“Ooh....”
"Apa sekarang Mama senang menjadi pedagang?"
Rusmini terdiam beberapa jenak. Dahinya berkerut.
"Hemm, sepertinya begitu. Mama senang menjadi pedagang...." kalimatnya menggantung.
Otak Farhan mencoba mencerna. Berarti cita-cita boleh diganti walaupun karena alasan yang sederhana. Hanya karena tidak suka di depan komputer. Berarti ia boleh menjadi apa saja meskipun tidak sesuai dengan yang dipelajarinya di sekolah, asalkan dia senang menjalaninya.
“Kalau begitu, Farhan akan bercita-cita kalau sudah besar saja.” Farhan menyimpulkan.
Motor yang dikendarai ibunya masuk ke pelataran sekolah. Sang mama menghentikan laju motornya dan memarkir kendaraannya, kemudian Farhan turun dengan cekatan.
“Kamu sudah terlambat masuk kelas, tapi dengarkan ini, kamu tidak boleh bercita-cita NANTI, kamu harus tentukan dari SEKARANG!”
Sambil membenahi tasnya, Farhan menjawab, ”Aku tidak mau seperti Mama yang kebingungan. Ingin jadi dokter, tapi kuliah di perbankan, lalu sekarang menajdi pedagang. Kalau aku bercita-cita sejak aku besar, aku tidak akan bingung seperti Mama!”
Sang anak mengambil tangan ibunya, menciumnya takzim, kemudian berlari menuju kelas. Meninggalkan Rusmini yang ternganga. Mukanya memerah, hatinya tertohok.
Jika ia yang telah berumur saja masih bingung, apalagi anaknya yang masih bau kencur?
Sang mama berlalu dari sekolah anaknya sambil berpikir. Terus berpikir....

FIRST LOVE STORY

Selasa, Maret 28, 2017



                                         www.archivecontsantcontact.com

“Sst, gimana? Dia jawab apa?”
Putri menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti. Agak lama sampai aku merasa ia terlalu lama mengulur waktu.
“Kayanya bukan berita baik, ya?” kumenebak.
Putri meringis. Matanya masih menatapku, kali ini terlihat empatik.
“Sayangnya, iya.” jawabnya enggan. Sinar mataku meredup mendengar jawaban pasti dari sahabatku di SMP N 1 ini. Dunia serasa berhenti berputar, rasanya aku baru saja dijatuhkan dari lantai empat gedung sekolah ini.
Putri meraih tanganku, ia mencoba berempati dengan yang kurasakan. Tentu saja, ia tahu bahawa aku mengharap kabar baik tentang seseorang yang kutaksir sejak duduk di kelas dua SMP. Seseorang yang kuyakin dia pun menyukaiku.
“Apa katanya?” tanyaku lemas.
“Katanya, dia sudah punya pacar. Bahkan dia menuliskan nama pacarnya di baju seragamnya.” Putri menjelaskan.
Sudah kuduga. Jawaban semacam itulah yang akan kudengar. Meski demikian, aku tak dapat menutupi kecewaku. Bagaimana bisa, cowok yang selalu bersitatap di setiap kesempatan mencuri pandang di kelas bisa menjawab seperti itu. Aku yakin betul bahwa yang dia kirimkan lewat binar matanya adalah cinta. Tapi, apa yang kudengar baru saja meruntuhkan perkiraanku terhadapnya. Huh, ternyata, aku hanya seorang yang terlalu geer.
“Itu berarti, dia sangat mencintai pacarnya, kan?” tanyaku.
“Bisa jadi...”
Aku menelan ludah.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya teman sebangkuku itu.
“Entahlah...” jawabku sambil berusaha tersenyum. Mungkin, aku akan melupakannya, atau mungkin aku akan menerima cinta dari cowok yang pernah mengirimiku surat dan menyatakan cintanya? Hemm...agaknya semuanya cukup menarik untuk membuat sakit hati ini terlampiaskan. Tetapi, untuk saat ini, aku hanya ingin sebatang coklat untuk membuat moodku lebih baik.
            ##
            Pelajaran kosong adalah saat  yang paling dinanti oleh seluruh siswa di kelasku. Kami bisa menyanyi, bercanda, baca komik, atau jajan ke kantin di jam kosong. Dulu, aku menyukai jam kosong karena bisa dengan leluasa mencuri pandang pada Ari, teman sekelasku yang tinggi dan ganteng itu. Yang lebih menggembirakan lagi, dia pun membalas tatapanku dengan pandangan yang kuartikan sebagai suka.
 Sayangnya, anggapanku sepanjang kelas dua SMP itu ternyata semu. Ketika naik ke kelas tiga dan kembali satu kelas dengannya, Putri yang kuutus untuk bertanya tentang apakah dia punya pacar atau tidak, ternyata membawa kabar buruk. Ari sudah punya pacar.
Ya, aku kecewa dan sedih, tapi pantang bagiku larut dalam kecewa. Jadi, kuputuskan untuk membuang rasa malu pada Ari dan menjadikannya teman yang asyik. Meski kikuk pada awalnya karena aku tak pernah sekalipun bicara dengan Ari sebelumnya. Hanya mata kami yang selalu bertemu, tapi tak pernah sekalipun bicara.
            “Jadi, kamu juga punya pacar?”
            Ari, cowok yang kutaksir itu, bertanya dengan mimik serius di jam kosong hari itu. Aku mencoba menetralkan hati saat menatap mata coklatnya. Hanya ingin menegaskan padanya bahwa ya, aku punya pacar, dan itu artinya aku tidak mencintai dia seperti yang dikiranya.
Aku mengangguk pasti. Mataku tak lepas mengawasi air mukanya, aku ingin tahu bagaimana reaksinya. Ari terdiam beberapa detik, keningnya berkerut, dia tampak tak percaya. Entah kenapa, kumerasa puas. Seperti telah membalaskan sakit hati padanya.
“Anak mana?” tanyanya dengan wajah datar.
“Rahasia dong?!” balasku sambil tersenyum puas. Kamu tidak berhak membuatku patah hati, batinku. Kamu dengar? Sekarang aku pun punya pacar.
Dia tersenyum masam. Dapat kulihat ada kecewa di matanya. Tapi, kecewa karena apa? Dia kan sudah punya pacar, artinya dia tidak menyukaiku. Tapi, senyum masam dan sikapnya yang tiba-tiba pendiam itu? Aku bergelut dengan batinku sendiri.
##
Bagaimana perasaanmu jika berada di kamar pacar dari orang yang kamu sukai? Mungkin sebagian orang akan berpikir itu ide gila. Tetapi, faktanya, di sinilah aku sekarang. Di kamar Tery, pacar Ari.
Aku harus berterimakasih pada Putri yang pandai menguak info dari Ari tentang Tery yang beda sekolah dengan kami. Dari informasi tersebut, aku mengirim surat perkenalan dan tadaa...kini aku berteman baik. Yah, sifatku yang supel membuatku mudah berteman dengan cepat dan akrab dengan siapa saja, dan Tery dengan mudah menerimaku sebagai...sahabat pena. Tentu saja, karena pacarnya satu sekolah denganku. Bukankah itu menguntungkan untuknya? Ia bisa menggunakanku sebagai mata-mata.
Lalu apa untungnya buatku? Entahlah, hanya itu ide yang terpikir saat aku patah hati. Mendekati dua orang yang saling mengklaim diri sebagai kekasih dan menjadikan mereka sahabat. Kemudian, aku bisa mencari tahu fakta sebenarnya tentang mereka. Licik? Atau jenius? Oh, jangan sebut aku jahat, aku hanya seorang yang patah hati. Kamu tidak tahu bagaimana kuatnya dorongan broken heart membuat seseorang berbuat nekat. Yang kulakukan belum seberapa kan, dibanding dengan orang lain yang tega menyakiti karena patah hati?
Tenang saja, aku tidak akan menghancurkan hubungan mereka, meskipun aku selalu cemburu bila Tery dengan berbinarnya menceritakan tentang Ari. Malangnya, Tery suka sekali bicara, sehingga aku harus sabar mendengar semua kisah manis yang terdengar seperti berita kematian.
Kau tahu apa yang kupikirkan saat mendengar dia bercerita? Aku memikirkan bagaimana bisa Ari jatuh cinta dan menobatkan dia sebagai kekasih. Ia tak terlalu cantik, ia jelas tak setinggi Ari, dan kurasa prestasinya tak melebihiku yang selalu juara kelas. Tapi kenapa? Cinta memang buta, kan?
Tetapi, kekuatan cinta memang dahsyat. Aku bersabar setahun lamanya menjadi kambing congek yang setia untuk sahabat penaku dan berpura-pura tak ada perasaan apa-apa saat bersama Ari. Hingga akhirnya penderitaan itu berakhir ketika kelulusan tiba.
Tak ada lagi yang harus tersisa, bersama selesainya masa sekolah  di SMP ini, aku bertekat mengakhiri kisah cinta monyet yang membuatku terkungkung bersama dua orang yang membuatku menjadi orang lain.
Tapi, tunggu dulu, aku akan ceritakan satu part yang paling penting. Part di saat aku dengan berani menyatakan cintaku pada Ari. Meskipun sebenarnya cinta itu sudah memudar, dan aku pun telah menjalin persahabatan tulus dengan kedua kekasih itu. Tetapi, aku ingin Ari tahu bahwa aku pernah menyukainya, bahwa setiap curi pandang itu bermuatan dan penuh getar cinta. Meskipun dia mengelaknya, tetapi aku bukan pengecut yang menafikan isi hati sendiri. Kau tahu apa reaksinya? Dia diam tak menjawab, hanya tersenyum kaget...
Tapi, tak mengapa....
##
Lima tahun kemudian....
“Si Ari kemaren ke rumah, tau! Dia nyari kamu.” tutur adikku dengan semangat. Ia menggodaku habis-habisan karenanya.
“Mau ngapain?” tanyaku penasaran.
“Ngga bilang, sih. Tapi, dia ganteng sekali...”
Aku tersenyum geli. Yah, mungkin dia akan memberitahuku jawaban atas pernyataan cintaku padanya. Tetapi, sayangnya, sudah terlambat. Tak kutemukan lagi cinta yang tersisa untuknya. Semua sudah berakhir, seperti cerita ini. Berakhir sampai di sini.
Sekarang kusadari, semua itu bukanlah cinta. Sebab aku telah temukan cinta yang sebenarnya dalam pernikahan yang bahagia...Insyaallah, hingga menutup mata.


I