Kamis, Oktober 13, 2016

Ruma dan  Henpon
“ Cuma segini?!“ tanya Ruma sambil membeberkan lima lembar uang lima puluh ribuan di meja. Keningnya berkerut, bibirnya cemberut. Andaikan mukanya dicelupkan ke dalam air, seketika berubah asam lah air itu.
.
            “Kau tak ingat hari dan tanggal berapa sekarang? Kita berjualan di pasar, bukan di mall. Tidak ada orang pergi ke pasar di hari Senin tanggal tua begini.” balasku membela diri. Melayani pembeli sejak jam enam pagi di lapak panas bercampur bau segala rupa ikan, sayur busuk, dan keringat kuli angkut membuatku sangat lelah dan ingin segera memeluk mimpi. Tapi bukan Ruma kalau belum menguliti habis diriku sepulang berjualan. Termasuk menginterogasi dengan siapa aku bersenda gurau mengusir jenuh di tempat pengap itu.
            .
            “Kalau begini terus, bisa gulung tikar kita, bah!” sungutnya.  Kemudian, ia mulai mencatat di buku lusuhnya. Aku hanya meliriknya sekilas sebelum mulai menyantap makan malam yang belum berganti menu sejak tadi pagi. Atas nama penghematan, urusan selera pun harus mengalah.
.
            “Jaman sekarang, orang tak perlu keluar rumah sekadar untuk beli baju. Onlin. Semua serba onlin. Kau tau? Pake internet itu!” jelasku mencari alasan.
“Makin malas saja mausia sekarang, semua mau dibelinya lewat henpon. Lama-lama dia beli terasi pun pake henpon.” sambutnya sinis.
“Bah, sudah lama itu! Jangankan terasi, rumah pun bisa dibeli dengn onlin.” kataku dengan semangat sampai nasiku muncrat.
.
Perempuan itu mencibir. Dia memasukkan uang hasil berjualan hari ini ke dalam kotak tabungan. Kepalanya menggeleng-geleng, takjub dengan merosotnya omset belakangan ini.
“Pantaslah makin banyak yang butuh obat pelangsing. Macam si Maryati itu.” sindirnya seraya mengerling kepadaku. Aku acuh tak acuh, berpura-pura menikmati makan.
“Kurasa, kita harus jualan pake onlin juga...” kataku di sela-sela memamah. Kulirik istriku, menerka reaksinya. Dia menoleh padaku sekilas, lalu kembali sibuk mencatat.
“Maksud kau itu apa? Kau minta henpon canggih macam punya si Boni itu?”
            .
            Boni, anak semata wayangku tiba-tiba bersuara “Henpon begini dibilang canggih? Yang Mamak belikan ini sudah ngga suport aplikasi terbaru. Mak tahu tidak, habis aku dibully kawan-kawan aku karena hapeku tak aptudet.” gerutunya.
“Masih bagus kau kubelikan henpon. Daripada kau pake telepati untuk hubungi kawan-kawan kau!” sergah Ibunya cepat.
.
Boni menyeringai seraya melirik ibunya gemas. Aku menahan ketawaku. Rupanya istriku melihat gelagatku, maka selanjutnya aku lah yang disemprotnya.
“Kau, punya henpon lama saja, habis duit aku buat kau telpon-telponan sama si Maryati, bagaimana kalau kukasih kau henpon canggih? Bisa kau jual lapak aku buat kasih makan henponmu itu.”
            .
Aku terbatuk, istriku masih saja mengungkit kesalahanku yang pernah jadi tempat curhat janda muda itu. Hanya curhat, tidak lebih, tapi karena curhatnya pakai henpon, jadi berkuranglah setoran uang hasil jualan untuk beli pulsa.
“Kalau begitu, terima saja lah uang yang kukasih, tak usah kau protes!” kilahku santai.
            .
Istriku termenung. Jari tangannya mencubiti bibir yang maju beberapa senti, keningnya berkerut, mungkin dia sedang mempertimbangkan usulku. Dimiringkanya kepalanya ke kiri, lalu ditegakkan lagi, kemudian menggeleng-geleng.
.
Aku mengunyah lambat-lambat sambil mencuri pandang padanya. Berharap dia mendapat wangsit untuk meluluskan proposalku.
             

Selasa, Oktober 11, 2016

Di Balik Cerpen “Jalan Lain Ke Surga”

            Bagi seorang penulis, baik profesional maupun amatir, adalah kebahagiaan ketika tulisan kita diapresiasi, diterima, disukai, syukur-syukur dipuji. Termasuk saya yang amatir ini, mendapat pujian dari beberapa senior dan teman-teman seangkatan ODOP Bactch#3, dan dari pembaca di jagad fesbuk, menjadi kebahagiaan yang sangat berarti.  
            .
Bagaimana tidak, Bang Syaiha yang penulis novel “Sepotong Diam” dan “Masih Ada” mengatakan: “Saya suka tulisannya.”. Achmad Ikhtiar, seorang penulis senior di ODOP yang gaya berceritanya saya kagumi, berkomentar, “Canggih!” Ditambah apresiasi teman-teman yang mengatakan bahwa tulisan itu menyentuh, dahsyat, keren, diksinya indah, pesannya dalam dan nyampe ke hati pembaca, menyayat, pedih sekaligus indah. Sungguh, itu benar-benar di luar dugaan saya, sudah pasti girang hati saya.
.
Cerpen “Jalan Lain ke Surga” yang saya buat sebagai tulisan untuk One Day One Post kemarin adalah hasil try and error saya yang kedua setelah flash fiction “Dunia Kau dan Aku “. Saya katakan try and error, karena saya ngga pernah nulis cerpen dengan gaya bercerita seperti dua cerpen tersebut sebelumnya. Dan bagi saya yang tidak puitis dan miskin diksi, butuh perjuangan yang ngga mudah.
.
Diawali dari kebosanan bercerita dengan alur dan gaya yang begitu-begitu aja, saya mulai mencari dan membaca beberapa tulisan para senior di ODOP, salah satunya dalah Vinny Martina dan Achmad Ikhtiar. Saya baca sebagai pembaca, dan saya ulangi membaca sebagai penulis. Saya amati cara mereka bertutur, pilihan kata yang dipakai, hingga ide yang diambil untuk tulisan keren mereka. Saya terpesona dengan gaya bercerita mereka yang unik, diksi yang pas, cerdas sekaligus enak dibaca. Singkat kata saya mulai bereksperimen, dan jadilah “Dunia Kau dan Aku”.
.
            Cerpen uji coba pertama selesai dibuat, dan itu seperti menghancurkan mental blok saya yang tadinya mengatakan bahwa saya ngga akan bisa membuat yang serupa dengan itu. Rasa pede mulai tumbuh, dan saya terpikir untuk menulis dengan gaya yang sama untuk dibedah di ODOP. Satu ide yang muncul di kepala saya adalah tema paling sensitif di kalangan perempuan, tema yang juga debatable: poligami. Saya bertekad akan menulis sebaik mungkin, sebagus yang saya bisa. Maka saya mulai menyicil tulisan sejak tiga hari sebelum bedah tulisan.
            .          
Selanjutnya, selama kurun waktu tersebut saya mencuri-curi waktu menulis, sejam sehari, kadang lebih. Sebelum memulai menulis, saya ingat-ingat gaya Achmad Ikhtiar dan Vinny Martina mengawali paragraf. Juga pesan senior bahwa deskripsi harus kuat, dan saya tahu betul itulah kelemahan saya. Tapi, saya tetap mencoba.
.
Dimulai dari membayangkan seorang perempuan yang berdiri di tengah hujan sambil menangis. Saya membayangkan, dia mulai “bicara”, bercerita pada kita tentang laranya pada sang suami, dan muncullah kata: pernahkah kau menangis dalam hujan? Dari situ, cerita mulai mengalir. Saya membuat alur maju mundur tanpa saya sadari, bahkan saya ngga tahu bahwa itu disebut alur maju mundur. Yang jelas, pembaca diajak ke situasi dimana tokoh aku sedang berdiri di tengah hujan, kemudian diajak masuk ke kenangan si aku, kembali lagi ke latar si aku berhujan-hujanan, lalu ke kenangan si aku dst.
.
Setelah cerita si aku selesai, saya menutup laptop karena kepala mulai ngebul. Bukan hal mudah buat saya berpuitis ria. Tetapi, meski tidak menghadap laptop, otak tetap sesekali memikirkan, kira-kira enaknya si tokoh dia ini ngomong apa dan reaksi si aku ini gimana. Saya bayangkan dan coba rasakan emosinya, lalu mencari kata yang menggambarkan emosi tersebut. Setiap emosi saya praktekkan, saya hayati sampai ke tahap gimana kalau saya mengalami hal itu. Ini menjadi bekal menulis esoknya.
.
Esoknya, saya mencoba menyempurnakan tulisan mentah saya yang tentu saja masih berlepotan salah ketik, tanda baca dll. Saya abaikan itu semua, baca tulisan sekali lagi, dan jika ada ide baru langsung dituliskan. Ide yang sebelumnya terpikir saya tambahkan.
.
Hari berikutnya saya baca lagi dari awal, lalu mulai memoles dan mengedit tulisan. Saya buka EBI online dan situs sinonimkata untuk mencari diksi yang tepat. Ternyata kalau dicari, sinonim itu banyak banget dan itu sangat membantu untuk mencari diksi yang pas.
.
Tibalah di hari terakhir dimana malamnya tulisan saya akan dibedah. Hari itu saya hanya mengedit dan menyempurnakan, membaca lagi, edit lagi, poles lagi. Jujur mengedit ini butuh kesabaran dan waktu, juga ilmu tentang EBI. Syukurlah saya masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia , jadi tidak terlalu sulit. Hehe...
.
Dan setelah dirasa sempurna, saya posting tulisan try and error tersebut ke blog, dan saya copas-kan ke facebook. Di luar dugaan, satu persatu komentar dan reaksi mengapresiasi tulisan saya dan mengatakan: keren! Ulala!
.
Jujur, saya tak percaya bisa melakukannya, makanya sebelum lupa, saya perlu membuat catatan ini agar bisa dijadikan pedoman jika ingin menulis lagi yang serupa. Dan meskipun benar-benar lelah hanya demi 4 lembar cerpen tersebut, saya merasakan kepuasan batin ketika pesan yang saya titipkan pada cerpen itu bisa sampai tanpa distorsi.
.
            Ternyata, menulis itu mudah, sekaligus sulit. Dengan sedikit usaha dan waktu yang cukup, akan tercipta tulisan yang bagus. Itulah mengapa kita perlu menghargai tulisan seseorang, sebab banyak yang dikorbankan hingga tercipta tulisan yang bagus. Makanya, ketika Bang Syaiha mengumumkan PO novel barunya dibuka, saya langsung daftar. Hargai penulis dengan membeli buku aslinya, jangan bajakan. Ups!
                .
                Demikian.

                                                                         Catatan menjelang malam, sebelum lupa






Senin, Oktober 10, 2016

Jalan Lain ke Surga

Pernahkah kau menangis berbungkus hujan? Tak semata demi menyembunyikan bulir air mata dari sesiapa. Namun juga berharap rinainya menghanyutkan segala luka ke muara, seraya memohon agar rahmat itu menjadi obat lara.   
.
Dan begitulah diriku. Diantara hiruk pikuk manusia yang berlarian mengelakkan basah, aku justru melangkah di dalam gerimis yang semakin kerap. Tak gentar menantang petir menggelegar pembuka simfoni hujan. Sebab, pernah kudengar yang lebih menyentakkan dari itu. Ketika di penghujung malam dia berkata, lirih tetapi yakin, “Aku akan menikah lagi.”
.
Berpuluh detik aku terpana tanpa kata, sia-sia kuyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi di ujung malam. Namun lelaki itu menatapku dengan pandangan yang kuterjemahkan sebagai permohonan. Detik berikutnya pandanganku hanya tertuju padanya, hanya padanya. Mencoba mengenali siapa lelaki di hadapanku, yang seketika itu seperti baru pertama kali kujumpai.
.
Pernahkah kau berjalan di taman cahaya yang menyambar menyilaukan pandangan? Rinai hujan makin lebat, menusuk setiap inci tubuh lelahku yang menahan rasa. Awan tebal menghitam mengabarkan bahwa langit akan mengucurkan banyak kubik air, cukup banyak untuk menghanyutkan ingatan tentangnya.
.
Sepuluh tahun lalu sejak akadnya mengguncang Lauhul Mahfudz, yang kutahu dia mencintaiku. Hanya aku. Dia pandai mengukir senyum, piawai mengambil hati dengan sukarela meringankan pekerjaanku, tiada hari berlalu kecuali kami telah kenyang dan senang. Ucapannya sejujur perilakunya bahwa dia menyayangiku. Ketahuilah, aku jauh lebih menyayangi dirinya. Kebahagiaan itu makin lengkap ketika lima tahun kemudian buah hati kami lahir.
.           .
Kini hujan telah benar-benar menyimbah bumi tanpa ragu. Bukan hanya basah, tubuhku mulai menggigil. Satu-dua orang menyuruh berteduh, sebagian besar menatap tak mengerti. Tapi, aku ingin hujan tak berhenti.
.
Guntur yang berkejaran menyamarkan teriakku. Mengapa? Kenapa? Bagamana bisa? Tetapi semua hanya tanya tanpa jawab yang lenyap ditelan desau angin. Dia katakan, “Aku jatuh iba padanya, lalu lambat laun tumbuh cinta sebagaimana aku cinta padamu.”
.
Larik-larik air mengalir di pipiku yang memanas. Sering kudengar kabar lelaki mampu mencintai dua wanita, tapi tak pernah kusangka salah satunya adalah dia, imamku. Dalam nanap kusanggupkan bibir ini bertanya, “Adakah salahku padamu? Hingga kau berpikir untuk  menduakan aku?“
Lelaki bermata teduh itu menggeleng, tatapannya mengirimkan pesan, “Tak ada yang salah denganmu, bahkan kau begitu sempurna.“
“Lantas kenapa?”tanyaku dengan keheranan yang sangat.
“Aku hanya lelaki biasa yang jatuh cinta. Dan aku tak ingin berkubang dosa...”
            .
Sekelebat kilat membuyarkan ingatan akan malam itu. Waktu bergulir menghadirkan senja yang berbondong turun. Derai hujan semakin asyik bercumbu dengan remang. Mereka bahkan tak peduli ada jiwa yang butuh kawan.
“Gerangan siapa dia?” tanyaku dalam isak yang tak sengaja.  
“Ia seorang kawan di masa lalu. Suaminya telah tiada, meninggalkan seorang anak yang yatim. Aku ingin menolongnya, menjaganya dari fitnah...”
Susah payah ku menata rasa agar tak meluap menjadi rentetan serapah. Betapa tenang tutur katanya, seolah ia telah lama merencanakannya.
“Haruskah kau menikahinya?”tanyaku dengan mata membasah.
“Aku menghindari fitnah yang lebih besar jika menolongnya tanpa ikatan.”jelasnya tanpa ragu.
“Lalu bagaimana denganku?”
Dia hanya menatapku, mengirimkan keyakinan bahwa keputusannya sudah benar.
            .
Berat kuhembuskan nafas, mengenyahkan sesak. Jika kenangan masa lampaumu begitu indah akannya, tidakkah kenangan kita bernilai? Lupakah kau akan seringai sakit menjelang kelahiran anakmu? Lolongan menyayat saat buah hatimu menghirup udara dunia pertama kalinya? Banjir peluh dan nafas yang keluar satu-satu saat membersihkan rumahmu, menggosok periuk berjelagamu demi apa yang disebut baiti jannati? Serpihan kenangan kecil tentang berkejaran dalam hujan, berpanas-panas demi pekerjaan mapan, atau sekadar berdebat kecil tentang sambal mana yang paling sedap sebagai teman makan. Tidakkah mozaik kenangan kita cukup indah dan berwarna meriah, tidakkah itu cukup berharga untuk kau pertimbangkan?
.
Serupa pohon yang roboh disapu deru angin, tubuh ini limbung tanpa kuperintah. Mataku nanar dan kosong, darahku tersirap sampai tak kurasakan lagi tengkukku. Rebah di pangkuannya dalam isak lirih dan derai air mata. Berulang kali bibirnya mengucap maaf, mencoba berempati pada yang kurasakan, tapi tidak! Dia tak memahami yang kurasa. Aku ingin bangkit berontak, tapi kekagetanku tak menyisakan sedikitpun daya.
.
Lalu dia melantunkan ayat tentang surga, tentang ikhlas, tentang pemakluman Tuhan atas keputusannya. Aku tak menolak apapun yang dia katakan, tapi saat itu aku hanya ingin sendiri. Lalu aku tak sadar hingga menjelang pagi. ...
            .
Gulungan awan mulai menipis senja itu, menyisakan gerimis. Gelap semakin pekat menyambut malam. Tapi, aku belum ingin beranjak dari hujan. Mengapa harus mereda, wahai hujan. Lukaku belum luruh seluruhnya, mengapa tak kau bawa saja tubuh ini bersamamu menuju samudera.
.
Ibarat kematian mendadak tanpa firasat, begitupun kabar keputusannya memeranjatkanku. Maka hari-hari berikutnya bagai seorang yang dikutuk mati oleh kanker, menciptakan tanya, mengapa harus aku? Menyisakan tangis diam-diam menjelang tidur, teriak dalam doa panjang yang lebih mirip disebut unjuk rasa pada Tuhan.
.
Dia mendapatiku selalu tanpa senyum, muka tak berona, dan mata kosong tak bergairah. Kebaikannya masih seperti dulu, direngkuhnya aku dan ditenangkannya badai dalam hati. Tapi, bagaimana dia menenangkan badai sedangkan dia adalah badai itu sendiri?
.
Kupinta waktu untuk berpisah sekadar menenangkan diri, dalam kesadaran yang terbit sedikit-sedikit, aku menyungkurkan diri dalam sujud panjang istikhoroh. Ingat bahwa bahkan nyawa pun bukan kepunyaan kita. Sadar bahwa diri terlalu mencintaimu, tak akan sanggup berbagi dengannya. Paham bahwa ada jalan lain ke surga selain dari keihklasan dimadu. Dan inilah yang kupilih...
.
            Kupilih jalan lain ke surga, meski tanpanya. Bukan aku mendustakan sunnah Rasul-Nya, bukan pula aku tak cinta. Hanya  takut cemburu mengalahkan iman dan logika, sehingga ia menjadi panglima yang menyuruhku membantah perintahnya. Khawatir emosi lebih berkuasa sehingga bibir tak mampu tersenyum, hati sulit berbaik sangka dalam cinta segitiga.
.
Gerimis telah benar-benar pergi, meninggalkanku dalam gelap pekat, sepi, basah dan beku. Ia benar-benar telah membawa semua tangisku. Tapi tidak dengan luka yang semakin biru. Aku mengutuk hujan, mengapa dia berlalu.
.
Sayup terdengar lantunan panggilan untuk memuja Tuhan, membuatku terkesiap. Alunannya syahdu mengusik kalbu, menyadarkan bahwa aku masih punya Tuhan. Dia yang tak pernah meninggalkan, Dia yang tak melupakan. Kembali aku tergugu. Tidak...bukan karena dia, tapi karena Dia. Kuyakin ada pelajaran atas semua takdir-Nya, meski aku tak mampu meraba apa. Kupercaya pada akhirnya akan kudapatkan lagi bahagia dalam bentuk yang berbeda. Kuimani bahwa tak ada selembar daun pun yang gugur kecuali atas perkenan-Nya.
                                   
                                                                        Sidoarjo, 10 Oktober 2016


Jumat, Oktober 07, 2016

Dunia Kau dan Aku

Mendapatimu tersenyum mengembang di pagi hari, itulah bahagia. Kau menggelayut manja sekadar ingin mendengar irama jantung yang akrab di telinga sejak tercipta di rahimku. Tubuh kecilmu menebar aroma bangun tidur yang kubaui dengan sukacita, mengajarimu cinta tanpa syarat, apapun keadaanmu.
.
Dengarkan untaian doa pembuka hari ini sayang, kelak kau harus mampu melafalkannya sendiri. Tambahkan di antara pintamu pada-Nnya akan keselamatanku kelak di keabadian. Jangan pernah kau alpa melantunkan puja-puji kepada sang pemilik kehidupan, ingatlah selalu untuk memohon kebahagiaanku di sisi Tuhan, sebab hanya doamu lah yang akan sampai ke haribaan-Nya
.
Naluri menuntunmu mencari sumber kehidupan. Tetes-tetes air kehidupan yang paling nikmat nan manfaat dibanding semua air di dunia. Membasahi lambung kosong yang berteriak sejak semalam. Lagi, menyaksikan dua kebesaran kuasa-Nya membimbing hati mengucap syukur akan hadirnya seorang makhluk mungil lengkap dengan makanan terbaiknya.
.
Tergoda akan wangi sarapan ditingkahi celoteh saudara-saudaramu, kau lepaskan pelukanmu. Pengembaraan dimulai sudah, kaki kecilmu siap menjelajah. Menyusuri setiap sudut rumah, menemui wajah-wajah cerah yang tersenyum menyapamu, menerima pelukan dan ciuman bertubi meski kau tak wangi, mendapati pengalaman baru nan menantang, lalu satu demi satu kenangan kau simpan erat dalam ingatan.
.
Hari ini, lagi kau merasakan perihnya perpisahan. Ketika tiba saat semuanya, kecuali kita, harus melangkahkan kaki bertebaran di muka bumi untuk sejumput rizki dan bekal ilmu. Kau meronta, berderai air mata melepas mereka yang memberimu pelukan dan senyum paling tulus, berontak ingin turut. Tetapi tidak sayang, kau tetap disini. Mereka akan kembali di sore hari jika Tuhan mengizinkan.
.

Kau pun ingin mengembara ke dunia luar, sayang? Bagaimana kalau kita basuh sumber aroma tak sedap ini dulu ? Bunda akan siapkan pengalaman seru hari ini. Berdua saja, hanya kau dan aku.

Jumat, Oktober 07, 2016

Saya memang nekad. Bahkan sangat nekad. Gimana ngga nekad coba? Berani melibatkan diri sebagai ODOP-er padahal jarang baca buku ibarat menjatuhkan diri ke lautan. Tak punya ilmu teknik berenang, bisa berenang tapi tak lihai, tapi tak mau tenggelam juga, jadi terpaksa harus terus bergerak kalau tidak ingin mati. Kondisi itu diperparah dengan sediktinya waktu luang untuk menulis karena kesibukan tanpa jeda sebagai seorang ibu tiga anak tanpa asisten.
.
Pasalnya membuat suatu tulisan setiap hari dengan kategori bagus nan bergizi itu tidak mudah. Ide boleh banyak, tapi lagi-lagi kekayaan pengetahuan, diksi dan kosakata yang akan menentukan kualitas tulisan. Seperti yang dikatakan Bang Syaiha, founder ODOP, seorang penulis yang hebat adalah pembaca yang hebat, selalu begitu.
.
Terkadang ide mampir begitu saja, lalu tiba-tiba ingin segera menuliskannya. Tapi begitu membuka laptop dan mulai menuangkan gagasan, mandek karena minimnya ilmu atau miskinnya kosakata. Atau ketika ide dan bahan sudah lengkap, waktu seperti enggan memberi kesempatan untuk berkarya. Kombinasi keduanya menjadikan menulis adalah hal yang sangat spesial untuk saya yang sudah padat aktivitas. Ditambah sebagai amatir, perlu waktu berjam-jam hanya untuk menulis sebuah hal sederhana. Fyuuhh...
Tapi saya memang nekad. Saya ingin mahir menulis, dan tidak ada cara lain untuk pandai selain terus belajar dan berlatih. Menjadi ODOP-er adalah salah satu cara memaksa diri agar keinginan bukan sekadar kemauan. Kadang untuk berubah kita harus dipaksa bukan?

Semangat !

Rabu, Oktober 05, 2016

---Tolooong, Aku Kecewa Sama Olshop---

Suka belanja online? Pernah kecewa dengan olshop? Yang barangnya ternyata tidak sesuai harapan lah, slow respon lah, yang bahasanya terkesan jutek lah, packingan ngga oke lah, atau lah-lah yang lain ( bisa panjang kalau diterusin ). Toss lah kalau begitu. Saya pun beberapa kali kecewa dengan barang dari olshop yang berbeda. Herannya nggak kapok beli online :D
.
Pengalaman menjadi pembeli di beberapa online shop mengajarkan satu hal, bahwa jual beli online utamanya berlandaskan saling percaya dan itikad baik saja, apalagi seringnya antara penjual dan pembeli tidak saling kenal. Pembeli terbius ketika melihat foto produk yang sangat bagus, iklan yang menyihir, dan testimoni yang meyakinkan. Semuanya menumbuhkan kepercayaan pada olshop yang diincar. Berlanjut dengan chatting yang memberi kesan lebih, ramah atau biasa saja, jujur dan amanah atau tidak. Tapi sebelum barang diterima, itu semua belum cukup. Si pembeli belajar percaya bahwa barang yang diterimanya sebagus penawaran si penjual, lalu dengan harap-harap cemas meyakinkan diri bahwa dia tidak salah beli barang di orang yang salah.
.
Pembeli belajar percaya bahwa barangnya akan datang sesuai jadwal dalam keadaan utuh dan selamat. Dan begitu barang diterima, yang pertama dilihat tentu saja packinganya, rapi atau tidak. Buat saya, itu adalah poin plus ketika olshop begitu perhatian dengan packingannya, bahkan kalau ada yang sampai memberi perhatian dengan ucapan terimakasih, atau ada label / stiker kecil tentang olshopnya, atau sebuah pita kecil yang manis.
.
Kemudian, bungkus dibuka, dan segera dengan cermat barang diamati, dipegang, diraba, diterawang, dibuka, dimainkan, dinyalakan. dicium, atau dimakan. Inilah fase yang sangat menentukan, ketika fresh from the packagingnya barang dillihat langsung oleh pembeli, disitulah fase kritis apakah dia puas atau malah kecewa. Saya percaya kesan pertama itulah yang paling jujur, oleh karenanya sebaiknya jika ingin komplen segera kabari penjual dan katakan dengan jujur tapi tetap santun. Kalau puas, ya sampaikan kepuasan kita, dan doakan selalu kesuksesan untuknya.
.
Saya percaya bahwa apa yang kita tanam itu pun yang akan kita tuai, dan setiap perbuatan ada tanggungjawabnya. Kalau kita baik, insyaAllah timbal baliknya pun demikian. Katanya sih, pembeli yang baik akan ketemu dengan penjual yang baik pula. Kalau masih ketemu dengan yang nakal? Ya cukup tahu saja, tetapi tidak perlu juga menyebarluaskan di sosmed, toh nanti suatu saat dia akan mendapatkan balasannya ( sadisss : D ). Maksudnya ya tidak usah belanja lagi di olshop tersebut.
.
Berkaca dari potret olshop selama ini akhirnya memberi pelajaran berharga tentang apa yang diinginkan oleh pembeli, sehingga nanti kalau jadi olshop sudah tahu harus begini dan hindari yang begitu. Ya, kira kira begitu...:)
.

Demikian celoteh saya kalau lagi ngga ada ide hehehe...

Selasa, Oktober 04, 2016

                                                                    POTRET

“ Psst...psst!  anak lelaki itu berbisik pelan di samping sebuah jendela kamar. Sesekali matanya melirik ke arah pintu depan rumah yang tertutup.
“ Alea, psst!”
Gadis yang dipanggil Alea itu meghentikan bacaannya. Beringsut dicarinya sumber suara. Ditolehkannya kepalanya ke seluruh ruangan. Nihil.
“ Alea, ini aku! “ Rayhan memekik pelan dari balik jendela.
Gadis berambut sebahu itu berjalan menuju jendela kamarnya. Dilihatnya sang kakak berdiri takut-takut. Wajah gadis itu berubah gusar begitu melihat abangnya.
“ Dari mana saja kamu?!” Tanyanya dengan teriak yang tertahan. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya, kuatir Ayah akan mendengarnya. “ Kamu membuatku dihujani makian Ayah. Bukan itu saja, sekarang aku dikurung disini.” Lanjutnya dengan mata mendelik.
“ Buka jendelanya dulu! Aku harus ke kamar mandi...”
“ Kamu gila? Kalau tahu Ayah akan semakin murka.”
“ Buka saja dulu, cepaaat!” Perintahnya sambil menahan kencing.
Setengah terpaksa Alea membukakan jendela. Rayhan bergegas  melompati jendela kemudian berlari menuju kamar mandi pribadi Alea.
.
Sepuluh menit kemudian anak SMP kelas delapan itu selesai dengan urusannya. Alea menunggunya sambil duduk bersedekap. Air mukanya tak senang.
“ Sekarang aku lapar. Ambilkan makanan, dong!” Rajuknya dengan muka memelas.
Alea mendelik. “ Kamu membuatku dihukum, padahal nilai rapotku bagus. Bagus sekali idemu menghilang sejak pagi, kamu sudah tahu kamu akan dihabisi.”
Rayhan tersenyum sinis. “ Jangankan nilai rapot yang jelek, tak sengaja menumpahkan air pun kita dimaki.” Anak lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk. 
“ Lihat  dirimu! Kamu belajar mati-matian untuk membuat mereka senang dengan prestasimu, tapi apa yang kamu dapat? Ayah selalu bisa menemukan kekuranganmu...”
Mata gadis itu tajam menghujam, wajahnya memerah, bibirnya makin mengerucut.
“ Setidaknya permintaanku selalu dipenuhi.” Kilahnya ketus.
Rayhan terkekeh. “ Itu karena rengekanmu terlalu memekakkan telinga.”
“ Kamu tidak hanya bodoh, tapi juga menyebalkan! Pergi dari kamarku !”
Alea bangkit dari duduknya. Pandanganya lurus tajam menatap Rayhan, telunjuknya mengarah ke luar jendela.
“ Sekarang bahkan gayamu sudah sama seperti Ayah.”
“ Keluaaar!” Teriak Alea tertahan.
Rayhan bangkit. “ Aku memang akan pergi lagi, jangan kuatir. “ Sejurus kemudian anak lelaki itu melompat keluar melaiui jendela.
Alea mematung. Nafasnya menderu menahan kesal, matanya kosong menatap lantai di depannya. Dia benci mengakui bahwa kata-kata kakaknya itu benar.

Sidoarjo, 4 Oktober 2016