Report Game 2 Day 2
Hari ini, ternyata tidak lebih baik dari kemarin karena saya pun belum bisa membuat Mahira bangun di waktu subuh. Begitu pun Valya yang sedang saya latih toliet training, hanya bertahan sampai Dzuhur, selepas itu Valya memakai popok lagi ( kebetulan kami pergi keluar dan tidak mungkin membawa Valya tanpa popok). Itu pun Valya masih pipis di celana karena saya terlambat mentatur.
Saya rasa, seharusnya memang tidak ada agenda pergi jika sedang toilet training. Dan untuk case Mahira, saya harus menggunakan cara lain untuk membangunkan, mungkin dengan segelas air dicipratkan supaya mudah bangun.
Semangat, semoga esok lebih baik lagi.
#day2
#level2
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
Report Game Level 2 IIP
BismiLlah...
Sebenarnya ini hari kesekian latihan game level 2 tentang kemandirian, dalam hal ini kemandirian pada anak kedua dan ketiga saya. Tetapi, saya terlupa untuk melaporkan via blog. Jadi, saya anggap ini latihan pertama saya dalam menanamkan kemandirian pada anak-anak.
Ada dua kemandirian yang saya ingin latih pada kedua anak saya. Pada anak kedua saya yang berusia 10 tahun, saya ingin melatih kemandirianya dalam hal bangun pagi minimal pukul 5 pagi. Sementara untuk anak ketiga saya ( 2,5 tahun) saya ingin melatih toilet training ( tutup muka karena sebenarnya sudah terlambat, hiks ).
Sebelum saya melaksanakan latihan, saya sounding dulu pada anak-anak akan apa yang saya inginkan. Pada hari pertama ini, anak kedua saya (Mahira) masih belum bisa bangun pada waktu subuh, meskipun saya sudah membangunkannya. Dia hanya terbangun sendiri sebentar kemudian tertidur lagi. Ketika pukul enam barulah ia bangun dan mandi. Dia beralasan masih ngantuk. Saya katakan padanya bahwa ngantuk harus dilawan karena itu bukan alasan. Bagaimana jika Mama beralasan mengantuk dan tidak mau bangun untuk mengurus keluarga? Atau guru tidak mengajar karena ngantuk.
Semoga esok Mahira bisa bangun sesuai waktunya.
Pada anak ketiga saya (Valya) toilet training saya mulai setelah dia bangun dan mandi pagi. Saya lepas popok kemudian membawanya ke toilet untuk pipis, begitupun setelah sejam kemudian saya tatur kembali. Sampai setelah tidur siang, saya berhasil menerapkan latihan ini. Namun setelah bangun tidur siang, Valya tidak mau pipis karena masih belum on setelah bangun meskipun sudah saya tatur di kamar mandi. Akhirnya, karena saya pun harus keluar rumah dan ayahnya yang menangani Valya di rumah (ayahnya tidak mau ambil resiko pipis di celana), sehingga saya mengalah memakaikan valya popok lagi sampai malam menjelang tidur. Saya belum berhasil pada hari pertama ini.
Kalau boleh jujur, faktor dukungan suami dalam menerapkan latihan toilet training masih belum 100% sehingga membuat saya masih harus mengalah. Sementara pada latihan untuk Mahira, faktor kesungguhan Mahira untuk berubah masih belum kuat, saya harus memberinya motivasi agar ia sanggup melawan kantuk. Demikian report Game Level 2 saya, semoga Allah mudahkan saya untuk berlatih esok. Aamiin.
#level2
#tantangan10hari
#day1
#Kelasbunsayiip
Pic: Thinkstock
"Aargh! Setengah jam lagi!"
Rei menjambak rambut, mengetuk batok kepalanya agar sumbatan di sel-sel syaraf otaknya mencair. Sudah sejam ia berkutat dengan laptop dan catatan kecil di hadapannya, tetapi, hasilnya nihil. Monitor laptopnya masih melompong kosong.
Bunyi notifikasi handphone menyusul, meminta perhatian segera. Rei tahu pasti kalau Nai, pemimpin redaksi, akan menghubunginya menjelang deadline berakhir tengah malam ini.
"Rei, belum ada email masuk darimu ya, Dear!" bunyi pesan masuk tersebut.
Rei melempar handphonenya ke kasur. Nai terus mengingatkan agar Rei menyelesaikan naskahnya. Dan, hal itu membuatnya pusing. Kenapa Nai tidak diam dan menunggu saja daripada terus membanjiri handphone Rei dengan pertanyaan yang sama, pikir Rei.
Rei meraih sehelai tisu, menyeka hidungnya yang dua hari ini diserang flu. Terlalu sering diseka, hidungnya memerah. Gatal dan sulit bernafas karena pilek. Mampet.
"Oh ide, pada kemana kalian, sih?" rutuknya kesal.
"Sebentar lagi jam dua belas malam, waktu pergantian hari, bahkan Cinderella pun sudah akan pulang!" keluhnya.
"Tapi, aku belum menulis apapun!"
Ia sangat sibuk melebihi jadwal protokoler presiden, mulai dari kuliah, terlibat kegiatan organisasi, bantu teman, hingga nyambi jadi freelancer tulisan seperti sekarang ini. Ia tak pernah bermasalah dengan ide kecuali malam ini, ditambah hidungnya pun turut berdemo, macet.
"Jika aku tak mengirim tulisan malam ini, tamatlah karirku sebagi freelancer!"
"Sekarang waktu terus berjalan, lalu aku harus menulis apa?" racaunya dengan wajah memelas. Matanya berair karena gatal dan mampet pada hidungnya.
Aku iba padanya, ia butuh bantuan. Ia tak boleh berakhir, ia sangat berbakat.
"Tulis saja tentang kita, Rei."
Rei terkesiap. Ia mencari-cari sumber suara yang membuatnya merinding. Bagaimana tidak, ia selalu sendiri selama ini di dalam kamar kosnya. Tetapi, ia baru saja mendengar seseorang atau sesuatu bicara. Suaraku.
"Siapa kau?!" tanyanya waspada.
"Aku, kegundahanmu , Rei!"
Rei bangkit, wajahnya menegang, tangannya bersiap memasang kuda-kuda.
"Siapapun kamu, keluar kau!"
"Apa kau yakin, Rei? Aku sangat besar dan buruk rupa."
Wajah Rei pias. Tangannya bergetar menahan takut yang menyusupi hati.
"Aku tidak percaya! Keluar sekarang juga, jangan pengecut!"
Aku benci kata pengecut! Dasar konyol, ia penakut tetapi berpura-pura berani. Maka, tak peduli apapun reaksinya nanti, kutampakkan wajah dan tubuh di depan mata Rei. Benar saja, tidak butuh waktu lama untuk membuat gadis tomboi itu lunglai dan rebah ke bumi.
Kumenyeringai, kemudian asyik mengolah huruf menjadi kalimat dan tulisan. Mengirim ke seseorang dan selesai, tugasku kelar.
Sebuah notifikasi pesan baru masuk ke handphone Rei. Dari Nai, beberapa detik yang lalu.
"Thanks Rei, artikelmu sudah kuterima! Siap untuk naskah berikutnya ya!"
Sementara, Rei masih lelap memeluk bumi.
#tantangankelasfiksi1
Mengembangkan Ide dengan Mind Map
*Sebuah Ringkasan Materi 2 Kelas Fiksi Odop*
Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai trik untuk mendapatkan ide dari berbagai sumber inspirasi di sekitar kita. Langkah selanjutnya adalah bagaimana agar ide yang terpikirkan bisa direalisasikan menjadi sebuah tulisan. Langkah pertama adalah dengan membuat mind map.
Mind map atau disebut juga peta konsep berfungsi sebagai rel agar cerita yang akan dibuat tidak melenceng kemana-mana. Mind map biasanya masih berupa coretan kasar yang hanya diketahui oleh penulisnya. Isi mind map adalah ide dan pengembangan ide tersebut yang dibuat dengan cara menuliskan ide di tengah (pusat), sementara pengembangan ide dibuat menyebar radial sebagai cabangnya. Tidak harus berupa gambar, mind map bisa juga dinyatakan seperti premis, tetapi premis yang dipanjangkan (lebih lengkap).
Karena masih berupa coretan kasar, sangat mungkin berubah pada saat menuliskannya, bisa jadi karena munculnya ide baru yang lebih menarik, misalnya. Hal tersebut sah-sah saja. Bagi penulis yang sudah piawai, mind map pertama yang dibuat seringkali malah dianggap sampah karena setelah dilakukan pengembangan ide, coretan awal tersebut malah berubah sama sekali sehingga tidak terpakai.
Setelah menyusun mind map, ekplorasilah mind map tersebut dengan cara membongkar kembali sampai dirasa mendekati final. Sampai di langkah ini, mind map tersebut bisa dikatakan siap untuk dikembangkan menjadi kerangka cerita yang lebih detail.
Kerangka cerita berisi eksplorasi ide yang lebih detail dan lengkap bahkan hingga ke penjabaran karakter dan tokoh ceritanya. Jika kerangka cerita sudah selesai dikerjakan, maka pekerjaan selanjutnya adalah mulai menuliskan cerita sesuai kerangka yang sudah dibuat.
Bagaimana? Mudah bukan? Dengan berlatih membuat mind map, lambat lain akan terbiasa dan mahir. Demikian materi kedua kelas fiksi odop yang disampaikan Uncle Achmad ikhtiar pada Rabu, 12 Juli yang lalu. Semoga bermanfaat, selamat bereksplorasi!
#kelasfiksimateri2
#odop
How to Catch the Idea and Get the inspiration
*Sebuah Ringkasan Materi Kelas Fiksi Day 1*
Bagi penulis, ide dan inspirasi adalah kebutuhan pokok. Tanpa ide, tidak akan ada tulisan. Ide dan inspirasi menjadi bahan baku utama sebuah tulisan, dengan ramuan, teknik, dan bumbu-bumbu penyedap lahirlah tulisan memikat pembacanya.
Ide dan sumber inspirasi sebenarnya bertebaran sejauh kita memandang, setajam penciuman, sekuat pendengaran, dan sepeka perasaan kita terhadap sesuatu. Pendeknya, semua hal, benda, kejadian, bisa jadi sumber inspirasi. Jika diklasifikasikan, ada tiga faktor sumber inspirasi yaitu internal, eksternal, atau kombinasi keduanya.
Faktor internal berasal dari kegelisahan yang dirasakan oleh penulis terhadap suatu hal. Faktor eksternal lebih banyak lagi, contohnya kejadian sehari-hari, benda, foto, musik, film dll.
Jika sumber inspirasi begitu banyak, mengapa masih banyak yang mengeluhkan tidak menemukan ide? Hal itu disebabkan karena kurangnya kepekaan dalam menangkap ide. Salah satu tugas penulis adalah menyuarakan keadaan. Jika ia tidak peka, ia takkan menghasilkan apapun, meskipun sumber inspirasi terhampar di hadapannya.
Kalau begitu, yang perlu dilakukan adalah dengan mengasah kepekaan terhadap sekeliling kita. Mari lihat benda-benda di sekitar kita, ambillah satu contoh misal bantal. Mari kita coba asah kepekaan dengan memikirkan: bagaimana jika bantal itu adalah bantal kesayangan milik seseorang yang sebentar lagi akan pergi ke luar negeri untuk kuliah dan bantal tersebut tidak boleh dibawa serta. Bantal yang sejak kecil telah menemaninya meskipun sudah kumal, bau dan tak berbentuk itu kini harus ditinggalkan. Apa kira-kira perasaan si bantal dalam situasi tersebut? Alih alih memikirkan perasaan si pemilik bantal, kita malah memikirkan perasaan si bantal.
Nah, disini terjadi pergeseran obyek pencerita tulisan. Biasanya kita lah yang menjadi obyek pencerita tulisan, sekali-kali ubahlah menjadi benda yang menjadi obyek pencerita dalam tulisan kita. Era literatur sekarang kabarnya adalah tentang how to live the unlive and how to kill the undeath. Jadi, buatlah cerita dimana bantallah yang bercerita, bukan kita yang bercerita.
Sumber inspirasi yang tak kalah kayanya adalah foto. Foto adalah media yang tidak dibatasi oleh kata, lirik, musik, atau gambar. Beragam interpretasi bisa muncul dari sebuah foto yang sama.
Sampai di sini, kita sudah mendapat sumber inspirasi dan ide. Lantas bagaimana cara menuliskannya? Kesulitan muncul ketika menuliskan ide tersebut. Bisa karena kendala waktu, kosakata, atau ilmu untuk menuangkan gagasan yang mandek. Untuk mengatasi hal tersebut, cobalah untuk menempatkan konflik cerita di awal agar memikat pembaca, bukan di akhir cerita seperti pada umumnya. Buatlah konflik yang berat, tidak biasa, atau yang original sehingga cerita benar-benar menarik. Jika perlu tambahkan bumbu ending twist Dimana konflik tidak jelas apakah sudah selesai atau belum.
Demikian ringkasan materi kelas fiksi yang disampaikan oleh uncle Achmad Ikhtiar dalam kelas fiksi day 1 odop (dengan penambahan seperlunya). Semoga setelah selesai kelas ini, mendapatkan ide bukan perkara sulit lagi. Selamat berimajinasi dan menghasilkan cerpen yang menjerat hati pembaca!
#Odop
#ringkasanmaterikelasfiksi1
#10Juli2017
Untuk Mereka Yang Pergi
"Maaf, aku harus pergi...."
Lagi? Rasanya baru kemarin kulepas seorang adik dan dua orang sepupu. Kini, engkau pun hendak berlalu. Seorang kakak....
"Ada apa gerangan?" tanyaku.
"Tak apa, aku hanya butuh sendiri. Rumah ini terlalu sesak, berisik, dan banyak percakapan yang tak bisa kuikuti. Aku perlu ketenangan agar bisa berkarya."
"Selama ini kau berkarya dari dalam rumah ini, kau bohong! Bukan itu alasannya!" tukasku. Ia membalas dengan tatapan dalam.
"Aku hanya merasa asing. Itu saja." katanya kemudian.
Aku tertegun sekian detik lamanya. Asing?
"Untuk seorang kakak yang selalu menyapa setiap pagi dan menasehati kami dengan petuah kebaikan, asing adalah kata yang aneh..." bantahku, "kau ada di tengah kami. Ya, mungkin kau tidak terlibat obrolan seru kami, tapi jelas kau ada."
Ia tersenyum kecil.
"Aku sudah coba bertahan dengan ragam sifat dan obrolan kalian yang aneka rupa itu, tapi tetap aku semakin merasa terasing, sendiri dan...sepi."
"Apa pergi adalah solusi?"
"Bisa iya, bisa juga tidak." katamu sangsi.
"Kau mau kemana? Rumah baru kah?"
"Aku selalu ada di sekelilingmu. Jangan khawatir. Kita masih bisa bertemu, masih bisa ngobrol, dan tentu saja, aku akan selalu menunggu karyamu. Jika bukumu terbit, aku yang akan pertama kali membelinya!" ujarnya seraya menepuk bahuku.
"Jangan pergi, kumohon!" pintaku, meski sepertinya mustahil mencegahnya di saat ia sudah berkemas.
"Kudengar ayah dan ibu akan membuatkan rumah untuk anak asuh yang baru, bergembiralah! Saudara baru akan datang meramaikan keluarga kita!"
"Kau mengalihkan pembicaraan!"
Ia tertawa kecil. Lalu, mengacak rambutku gemas.
"Sudahlah, pertemuan dan perpisahan itu pasti dalam hidup. Kau harus membiasakan diri."
"Kau akan tetap menulis?" tanyaku.
"Kau bercanda! Menulis adalah hidupku."
"Kau tega!"
Ia menarik nafas panjang. Menghembuskannya perlahan.
"Aku sayang kalian, tapi, maaf, aku harus pergi!" ucapnya lirih, sambil menenteng tasnya tanpa menoleh lagi padaku.
"Maukah kau berjanji padaku?" tanyanya.
"Apa?"
"Berjanjilah kau akan tetap menulis."
"Di rumah kita atau dimana pun dirimu, tetap menulislah. Menulis dari hati, karena panggilan jiwa. Menulis dimana pun kapan pun, meski seorang diri!" sambungnya bersemangat.
Bulir bening bersusulan menyusuri pipi. Aku pernah merasa ini akan terjadi. Tapi tak pernah menyangka akan benar terjadi.
"Kakak!"
Ia melambaikan tangan kanannya, tanpa menoleh lagi.
"Aku akan merindukan kalian!" teriaknya parau.
Malam kesepian tanpa bintang. Pun hatiku.
Kuberjanji, ini akan jadi perpisahan terakhir. Takkan ada lagi selamat tinggal dan kehilangan. Bismillah, Insyallah.
pic: ljbitzki.deviantart.com
"Terlambat! Aku sudah membunuhnya!" desis Meera hampir tak terdengar.
Kemudian, daun kering berguguran, seiring malam menjelang. Desau angin berbisik, yang terasa asing dalam pendengaran Neera.
#
Meera tengah membolak-balik tumpukan buku di kamarnya ketika Neera datang.
"Kau mencari apa?"
"Cincinku."
"Dimana terakhir kau menyimpannya?"
"Entahlah, tapi aku rasa di lemari gantung di depan kamar mandi," ia menoleh ke arah Neera,"apa kau melihatnya?"
Neera menggeleng pasti.
"Aku sudah mencari ke semua sudut rumah, tapi belum ketemu,"
"Termasuk ke kamarku?"
Meera berhenti. "Apa kau pikir aku menuduhmu?"
"Tidak, bukan begitu. Maksudku, kau boleh melakukannya."
Meera kembali mencari.
"Kau sudah tanya Mama?"
"Sudah, Mama pun tak tahu." jawabnya enggan, "aku rasa, hanya satu tersangka yang paling mungkin melakukanya. Mia!" lanjutnya yakin.
"Mia? Apa kamu gila? Untuk apa dia mengambil cincinmu?"
"Dia sangat suka semua benda berbentuk bulat. Lihat saja semua barang miliknya, semua bulat!"
"Itu karena Mama yang membelikan. Mia tidak pernah meminta!"
"Neera, di rumah ini hanya aku, kamu, mama dan Mia. Mia penghuni baru yang belum aku kenal dan dia bukan saudaraku. Hanya dia yang mungkin mengambil cincinku!"
"Kamu tidak punya bukti, Meera!"
"Buktinya dia selalu tertarik pada benda berbentuk bulat, semua benda miliknya bulat, apa lagi?"
"Meera, cincin itu hanya terselip di suatu tempat, aku yakin!"
"Aku sudah memeriksa semua tempat Neera, sampai hampir gila."
"Aku akan membantumu mencarinya. Aku yakin ia hanya terselip." tukas Neera menyudahi perdebatan.
"Meera. Seberapa penting cincin itu untukmu?" tanya Neera sebelum berlalu.
"Ya Tuhan, Neera! Itu cincin pertunanganku." seru Meera gusar.
"Ya, ya...Oke!"
#
Seminggu berselang, di suatu malam.
"Banyak sekali cincin yang kamu beli, Meera. Untuk apa semua ini?" tanya mama heran.
"Semuanya bagus dan aku kesulitan memilih, jadi kubeli semua," jawab Meera sambil melirik Mia yang tengah makan biskuit susu.
"Aku terlalu kecewa kehilangan cincinku, kurasa cincin-cincin ini akan menghibur."
Neera mengrenyitkan dahi, ia mengunyah snacknya lambat-lambat seolah ingin mengatakan: Oh, ya Tuhan, kau tak harus berbuat ini!
"Lima belas cincin yang menarik, bukan, Mia?"
Mia mulai mengabaikan biskuitnya, kemudian mendekati Meera yang memainkan cincin-cincin itu sehingga bergemerincing menarik perhatian.
"Kau lihat, Neera. Mia tertarik pada cincin." bisik Meera.
Neera melirik tak mengerti.
Mia dengan antusias mengamati setiap cincin yang terhampar di meja. Matanya mengerjap, bersinar penuh gairah melihat benda bulat berkilauan itu. Dada Meera berdegup kencang. Jika Mia benar mengambil cincin pertunangannya, maka ia akan mengambil salah satu cincin di meja itu.
Neera baru menyadari maksud Meera ketika Mia tiba-tiba mengambil satu cincin yang paling bagus dan berkilau di meja.
Neera menahan nafas, ia melihat bara di mata Meera.
#
Dua hari kemudian....
"Meera! Mama bilang ia menemukan cincinmu!"
"Sungguh aneh!" Meera melompat menuju kamar ibunya. Mama berdiri di depan nakas dengan cincin di tangannya.
"Bagaimana bisa ada di sini? Kita memeriksa kamar ini bersama-sama, bukan?"
Meera membekap mulutnya. Wajahnya pias. Ketegangan tiba-tiba menghias wajahnya.
"Meera, kau seharusnya senang cincinmu kembali!" desis Neera demi melihat ekspresi Meera, alih alih senang, ia malah terlihat ketakutan.
"Kapan mama menemukannya?" tanya Neera heran.
"Ya, baru saja. Beberapa detik yang lalu sebelum kau memanggil Meera!"
Meera terhuyung. Ia berlari ke belakang rumah menuju halaman kecil yang rimbun ditumbuhi bebungaan. Sebuah gundukan merah yang masih basah terlindung di bawah perdu. Hampir tak terlihat.
"Kenapa Meera?"
Meera terlonjak kaget. Ia tak menyadari kedatangan Neera.
"Mustahil Mia yang mencuri kemudian mengembalikan cincinmu, bukan?"
Meera mengangguk.
"Kalau begitu, bukan Mia pelakunya. Omong-omong, aku belum melihat Mia sejak bangun pagi ini."
#
"Ini bencana!" pekiknya tertahan, "membunuh kucing adalah bencana!" lanjut Neera.
"Tidak mungkin, dia hanya binatang, sama seperti kecoa atau kalajengking!" sangkal Meera.
Meski menyangkal, wajahnya menegang, perasaan ngeri merayapi hatinya.
"Tidak! Kucing adalah pengecualian! Sebaiknya kau tidak kemana pun, supaya kau selamat!" bantah Neera kesal.
Meera menelan ludah. Semalam ia bermimpi Mia datang di pesta pernikahannya.
End.


