SEKALI SAJA

Selasa, November 29, 2016


                                                  pic source: www.blogplatechno.com

Seraut wajah manis dengan alis bak semut berbaris menyembul dari balik pintu. Ia menatapku penuh tanya, meski tetap tersenyum ramah. Tentu saja, dengan helm dan penutup muka yang masih terpasang, dia takkan mengenali siapa aku.

“Mbak Dina?” tanyaku memastikan. Lebih baik aku mendahuluinya daripada dia yang bertanya lebih dulu tentangku.
“Iya, saya sendiri...” jawabnya sambil  mengangguk.

Gadis berwajah bersih dengan sebentuk lesung pipit yang indah, pantas saja abangku tersihir dalam sekali perjumpaan. Ia pasti punya kekuatan magis sehingga sanggup merubah seorang brengsek menjadi penyair.

Sejurus kemudian dia telah muncul seutuhnya di hadapanku. Semampai, agak kurus, dengan gamis dan kerudung rumah yang senada. 
“Saya hanya mau menyampaikan ini..” kataku sambil cepat-cepat menyerahkan sebuah amplop biru kepadanya.

Dia meragu. Tapi, tak urung diterimanya juga pemberianku.
“Mbak ini si..”
“Itu dari Abang saya. Saya permisi.” potongku cepat.
“Loh?! Mbak!”

Tanpa memedulikan teriakannya, aku melesat menuju sepeda motor, menghidupkan mesin dengan terburu-buru, lalu melaju secepat yang kubisa. Sudah seharusnya aku segera pergi, setelah beberapa waktu ini berita tentang abangku menjadi obrolan di setiap warung kopi. Aku tidak akan konyol dengan berlama-lama di sini.

Samar kuingat wajah abangku.
“Bang, telah kutunaikan pesanmu. Kau benar, gadis itu istimewa, meski baru sekali  kubertemu dengannya.”
Larik-larik air berbondong-bondong meluncur dari pelupuk mata, menganak sungai tanpa kusuruh. Batinku perih.

#bersambung...

GADIS BERBALUT KIDUNG

Senin, November 28, 2016


Aku sedang memacu sepeda motorku ketika kudengar seseorang bersenandung di belakangku. Mendengar suara keras yang melafalkan lirik asing dengan beat cepat,  aku langsung berpikir mungkin dia anak sekolah yang mengikuti lirik lagu dari headsetnya sambil berkendara.

Senandung itu lebih mirip nyanyian kamar mandi yang pindah panggung ke jalanan saking kencangnya, sehingga hatiku tergelitik ingin tahu, siapa sebenarnya anak “kurang sopan” yang nyanyi sekeras itu di jalan raya, padahal dia tidak sendiri.

Ketika dia menyalip, kuperhatikan dengan seksama anak itu. Ternyata, dia bukanlah seorang anak seperti yang kukira. Dia seorang gadis, setidaknya menurut firasatku, karena perawakannya yang langsing (selangsing-langsingnya emak, masih ada ciri khas yang membedakan dari gadis, yaitu lemak yang berdesakan di perut :p). Bukan soal gadisnya yang membuat keningku berkerut. Ada yang lebih membuat takjub, dia bukan sembarang gadis. Dia gadis berhijab rapi, dengan gamis plus manset tangan, kaos kaki, jilbab lebar berkibar dan asesoris khas lajang: tas punggung. Sayangnya, tak bisa kuamati wajah yang tertutup masker di balik helm full facenya.

Dia berhijab rapi, tetapi jelas dia tidak sedang mengaji. Tidak pula mendendangkan nasyid atau lagu perjuangan kemerdekaan, apalagi lagu anak. Dia menyanyi lagu barat, yang sayangnya tidak kukenal. Mungkin suara dari headset menyesaki ruang dengarnya sehingga ia tak kuasa menahan godaan untuk tak ikut menyanyi. Atau mungkin, ada rasa yang diluapkan ketika menyanyikan lagu itu. Dari keduanya, kurasa pilihan kedualah yang jadi alasan dia melakukannya.

Aku bisa merasakan: ada emosi, rasa, pesan, yang dikirimkannya lewat pekikan lagu. Entahlah, firasatku mengatakan, itu lebih mirip ekspresi kekesalan atau kemarahan ketimbang kegembiraan.

Terbukti, dia bergeming meskipun saya menoleh padanya dengan menyelidik sambil menganga, antara geli dan tak percaya. Dia tak peduli.
Mungkin dia kesal
Dan saya paham....
Sebab saya pernah begitu

Melaju di atas motor dengan tatapan kosong, mata basah oleh air mata, dan mulut bersenandung. Oh, bukan..., bernyanyi lagu sedih milik Rhoma Irama yang dinyanyikan Rita Sugiarto: Janji

Ada emosi kesedihan yang menghambur melalui bait-bait bernada sedih, saat menyanyikannya. Bukan isi lagunya yang menyayat hatiku, sama sekali bukan. Tetapi, ada kenangan haru di balik lagu itu.

Aku teringat Mama, yang di hari-hari terakhir hidupnya tertawa melihat Bapak berjoget diiringi lagu sedih itu...
Bapak menggoda Mama, agar senyum terbit dari bibirnya, melupakan sejenak sakitnya. Lalu, Mama tertawa dengan riangnya...

Aku kenang saat itu, ketika Mama telah tiada, dengan bernyanyi (atau teriak?) lagu kenangan tentang dua orang yang saling cinta itu.
Tidak dengan tawa...tapi dengan derai air mata.

Seperti halnya diriku, gadis berhijab itu mungkin tengah menahan emosi yang mengurung jiwanya. Entah emosi apa itu, biarlah hanya dia yang tahu. Maka aku maklum dan akhirnya tersenyum simpul padanya.

Meskipun janggal, lepaskanlah...mungkin dengan begitu bebanmu akan berkurang, wahai gadis berbalut kidung...



FOKUS

Jumat, November 25, 2016


www.kabarbisnis.com

Ada yang menarik dari pembahasan di grup ODOP  Batch#3 Jum’at malam ini. Yaitu, tentang segmentasi tulisan. Segementasi tulisan adalah tentang memilih genre apa yang akan ditekuni, dikuasai dan dijadikan tema dalam menulis. Apakah misteri, komedi, thriller, romance, sience fiction atau fantasi.

Kalau dipikir-pikir, menulis dan bisnis adalah dua dunia yang lekat satu sama lain. Kata Mbak Indari Mastuti, penulis yang juga CEO Indscript Training Center, pebisnis harus bisa menulis, dan penulis harus bisa berbisnis. Kalau diamati, ilmu dan perjuangannya sama, meskipun dalam bidang yang berbeda. Nulis dan bisnis, sama-sama harus fokus, tidak boleh palugada. Fokus akan memudahkan pekerjaan, karena pikiran kita hanya dicurahkan untuk hal itu. Fokus menjadikan kita mahir dan menguasai yang kita kerjakan.

Fokus pada salah satu genre tulisan atau satu komoditi jualan saja akan membuat kita identik dan unik. Dengan kata lain, fokus akan menentukan personal branding kita yang membedakan dari yang lainnya. Dengan fokus, kesuksesan akan lebih mudah diraih.

Untuk fokus pada satu genre tulisan memang tidak mudah. Kejenuhan mungkin bisa melanda ditambah godaan untuk mencoba genre lain yang sepertinya menantang untuk dijajaki. Tetapi, percayalah, dengan memilih genre yang disukai dan dikuasai, akan lebih mudah membangkitkan semangat menulis, karena tidak ada keterpaksaan dalam melakukannya.

Ah, lebih baik saya sudahi saja tulisan saya. Anda sudah tahu maksudnya, kan? Sekarang waktunya mulai memikirkan: mau dikenal sebagai penulis apakah saya? Selamat merenung dan fokus! J


KEMBANG TUJUH RUPA

Kamis, November 24, 2016

                                                         www.blogbojonegoro.com

Senja baru saja beranjak meninggalkan berupa-rupa manusia yang kelelahan berkelahi dengan nasib seharian. Pun wanita tua itu, telah lama mengakui kebengisan nasib yang menjajah tubuh rentanya, yang hingga sesore ini masih di jalanan menggelar dagangan. Kalau saja harga diri tak dipeluknya erat, niscaya ia telah pulang sejak adzan Ashar tadi dengan recehan hasil belas kasih orang. Tetapi, ia berpantang menadahkan tangan meski tak sedikit yang menganggapnya pantas untuk diberi dengan cuma-cuma.

            Sepuluh kantong kembang tujuh rupa dagangannya, dimasukkan kembali ke bakul usangnya. Ia akan menabur bunga di makam kucing tetangganya yang mati digilas mobil. Mungkin, aroma magis kembang tujuh rupa akan mengusir kutukan liang kubur dari roh binatang yang disayang nabi itu, supaya pemilik mobil tak terkena bala.

Dalam hati kecilnya, wanita itu mengutuk manusia akhir jaman yang makin pongah. Mereka berkata dengan tertawa: manusia mati tak butuh kembang. Mereka butuh doa anak cucunya. Makin hari makin banyak yang berkeyakinan demikian, sehingga wanita jompo itu terpaksa pulang dengan berkantong-kantong kembang.

 Alasan serupa untuk tak mengunjungi makam bapak-ibu serta kerabatnya. Padahal, ia rasa karena dunia telalu nikmat untuk dijeda sekejap saja dengan mengingat pemutus kesenangan. Bahkan manusia berlomba menghias makam agar lenyap kesan tetang betapa mengerikan dunia dibalik gundukan tanah yang teriakannya hanya didengar oleh binatang. Lihatlah, ada makam begitu megah mewah serupa istana untuk para pemilik harta, dengan harga yang mereka pikir cukup untuk tawar menawar dengan Munkar-Nakir, agar tak ditanya beragam ujian.

            Azan maghrib mengiringi langkahnya yang tertatih. Ia menyusuri sisi jalan yang padat manusia dan kendaraan-kendaraan yang mereka banggakan. Jalan dimana dulu dia pernah berkejaran dengan kawan sebayanya yang telah lama mati karena usia. Gedung pertokoan bertingkat yang angkuh dengan aneka rupa dagangan, tetap melambai merayu uang-uang pengunjung hingga tandas, bahkan ketika panggilan Tuhan menggema.

Darahnya berdesir ketika melewati sebuah toko kelontong. Dulu, toko itu milik bapaknya, yang ironisnya tak merasa perlu mencerdaskannya dengan ilmu.  Lalu, perselingkuhan antara kebodohan dan kapitalisme, merenggut satu demi satu milik penduduk asli, termasuk bapaknya, yang tak pandai berdagang dengan pendatang yang mahir berniaga. Hingga ia terdampar di hari tuanya di jalanan menjajakan sekantong kembang untuk orang mati.

            Rak kenangan menghadirkan bayangan seorang anak lelaki yang seharusnya ada bersamanya. Namun, ia memilih pergi menjadi bedebah. Manalah mungkin ia sanggup menanggung takdir beribukan seorang renta penjual kembang. Hatinya teriris setiap benaknya memutar ingatan akan anak lelaki tak tahu balas budi itu.  Ia resah karena sebentar lagi ia akan mati. Bahkan berkantong kembang ia rangkai setiap hari. Tetapi, bahkan anaknya tak ada di sisi, apatah lagi dia akan mengaji.

Wanita renta penjual kembang, tertatih dengan derai tangis. Untunglah hatinya masih sanggup merapal doa: allahumma innii as’aluka khusnul khotimah, Ya Allah betapa pun busuk diri ini, matikanlah aku dengan akhir yang baik...Amin.


            

ENAM BELAS

Rabu, November 23, 2016

              

                                                         www.gambartop10.blogspot.co.id

Rasanya seperti baru kemarin, kala diri tersungkur sujud di hamparan sajadah sambil bergelimang air mata. Teringat tentang dosa-dosa yang menggunung, membuih lautan. Ilmu agama dan pengetahuan yang seadanya, hutang yang belum terbayar, amanah yang tidak ditunaikan, bakti pada orang tua yang belum sepantasnya. Juga menyadari benar, tak ada bekal untuk kembali kepada-Nya. Dulu, pernah kumerasa kosong...
Tetapi, agaknya aku tertipu waktu. Ternyata, itu bukan hari kemarin. Pernah kumenangis di hamparan sajadah itu, enam belas tahun lalu. Di akhir sedu sedan kala itu, kuberjanji akan giat mencari ilmu dien Islam, belajar lebih banyak demi prestasi cemerlang, segera menyusun rencana hidup agar kelak dapat kusaksikan senyum dan rona bahagia orang tuaku, juga menyiapkan bekal dengan sebaiknya dengan amal kebajikan.
Sudah enam belas tahun berlalu...
Namun, lagi kumasih bertanya dengan pertanyaan serupa seperti hari itu...
Apa bekalku ketika Izrail datang menjemput?
Apa baktiku pada orangtua?
Apa yang kuketahui tentang agamaku?
Apa yang kukuasai dari ilmu yang kupelajari?
Hutang siapa yang belum kubayar?
Amanah apa yang tidak dikerjakan?
Duhai diri, mengapa masih bertanya hal serupa pada hati yang sama. Setelah enam belas tahun, kemana saja dirimu dan mengerjakan apa? Jika pertanyaanmu masih sama, apakah janjimu juga tak berbeda? Sadarlah wahai diri, tidakkah kau rasa khawatir?
Dunia hanya senda gurau dan fana semata. Akhiratlah yang kekal tanpa ujung, tanpa kesudahan. Maka, berbekallah...

MENCINTAI DENGAN SEDERHANA

Rabu, November 23, 2016


                                                    www.riejeleek.blogspot.com

Aku hanya capek, Yah!”
Kalimat terakhir itu menjadi penutup perbincangan istriku lewat wattsapp. Aku terpekur. Jariku kebingungan hendak memilih huruf yang akan dirangkai untuk meredakan gejolak hatinya.
Kuhela napas panjang. Bukan sekali-dua kali ini dia mengeluh tentang betapa melelahkan peran yang dijalaninya. Dalam seminggu, pasti ada satu hari dimana dia terlihat lemah seperti yang baru saja diperlihatkannya padaku. Berpanjang kata dan bertabur emotikon untuk menggambarkan suasana hatinya yang jemu. Dapat kutebak , dia sudah berusaha meredam emosi sejak pagi, sejak lima hari yang lalu. Dan perasaan itu tumpah ruah di Jum’at malam menjelang kepulanganku besok dari luar kota.
Kuhembuskan napas berat, mencoba memahami situasi yang dihadapi istriku. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tanpa asisten, juga mengurus tiga buah hatiku dengan karakter dan kebutuhan yang unik. Seandainya tidak ada bumbu pertengkaran, kerewelan, dan pembangkangan dari anak-anak, mungkin semua peran itu tak begitu memenatkan. Kurasa, sebenarnya dia hanya kehabisan energi jiwa untuk menangani anak-anak, dan bukan energi fisik untuk seabreg pekerjaan rumahnya. 
Semoga Allah gantikan setiap lelahmu dengan pahala yang berganda-ganda.” Akhirnya, hanya itu yang bisa aku kirimkan sebagai salam perpisahan.
            Segera kumatikan koneksi internetku supaya aku bisa segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang menemuinya. Sebuah rencana terlintas begitu saja di kepalaku. Hemm, sepertinya bukan ide yang buruk.
            *********************
            Adzan subuh sayup-sayup mendayu, membuatku terbangun. Setelah terjaga lima detik lamanya, kesadaranku kembali. Aku coba mengingat, rupanya ini hari Sabtu. Seulas senyum mengembang begitu saja, hatiku bersorak. Suamiku akan datang!
            Usai meneguk segelas air, kususun rencana untuk hari itu. Jika dia sampai rumah jam lima sore, maka aku harus memastikan semua pekerjaanku selesai sebelumnya. Selepas subuh dan mengaji, aku harus segera ke pasar. Membeli sayur, buah dan sarapan, juga kudapan hari itu. Sambil mengawasi anak-anak bemain di rumah, akan kugilir mengerjakan sederetan pekerjaan rumah dari mulai menyapu mengepel, mencuci baju dan piring. Kemudian mengurus si kecil mulai dari mandi, makan, tidur dan bermain. Menjelang Dhuhur aku harus memasak dan setelah itu aku bisa membaca buku dan menulis. Meskipun biasanya tidak selalu mudah, di sore hari selepas Ashar aku harus menyiapkan anak-anak untuk mandi, sehingga begitu ayahnya datang mereka sudah  bersih dan wangi.
            Sambil tersenyum, aku bangkit dengan bersemangat. Sebab suamiku akan kembali hari ini. Selain kangen, tentu saja ada yang akan berbagi peran setelah lima hari melakukan tugas orang tua sendirian. Di hari biasa, semua daftar pekerjaan itu masih ditambah dengan peran sebagai guru les dan sopir antar jemput, dan tentu saja juru lerai untuk setiap perselisihan mereka. Memang benar, berpasangan lebih kuat daripada sendiri.
Entah dari mana datangnya, sebersit ide terbetik dalam kepalaku. Hemm...sepertinya bukan ide yang buruk.
**********************
“Assalamualaikuum!” teriak lelaki itu dari balik pintu. Segera setelah mendorong pintu, ditemukannya wajah istrinya yang berhias senyum dan dipoles make up tipis menyambutnya hangat.
“Waalaikumussalam, hai My Dear Ayah!” sapa perempuan itu sumringah. Sebuah gelas berisi jus buah diangsurkan kepada lelaki dengan mata lelah itu.
“Alhamdulillah, nikmatnya.” kata lelaki itu setelah habis menenggak isinya.
Tak butuh waktu lama, ketiga anaknya menghambur menuju lelaki yang datang dengan senyum terbaiknya, dan begitu dilihatnya sosok si kecil, wajahnya semakin ceria. Dicium dan dipeluknya gadis kecil itu.
“Ayah kangen Valya tau..”
Perempuan itu tersenyum lebar, sama sekali tak tampak sisa kelemahan, kelelahan dan emosi yang kemarin meledak di watsapp. Mata lelaki itu berkeliling, hidungnya mengendus. Rumah rapi, anak-anak wangi dan bersih, wangi masakan sedap, dan dijumpainya sang istri dengan wajah tersenyum. Mendadak segala penatnya lenyap.
“Makasih Bunda, kamu mengerjakan semuanya dengan baik sekali.” puji lelaki itu tulus, yang sanggup membuat perempuan itu jengah. Dicubitnya lengan lelaki itu, lalu katanya, ”Aku masak kepiting, ayo makan!”
            Kepiting asam manis, capcay, tempe goreng, kerupuk, potongan buah semangka, benar-benar makan malam yang sempurna. Persis seperti yang diidamkan lelaki itu. Kala perut berdemo sejak siang, dia berdoa semoga istrinya memasak sesuatu yang spesial ketika dia datang.
            “Sebentar, ” lelaki itu mengambil sesuatu dari tasnya, “Ayah bawa oleh-oleh buat Bunda.”
Sekotak brownies kesukaan istrinya. Perempuan itu terpekik. Suaminya tahu betul dia suka coklat dan menyempatkan membeli untuk menyenangkan hatinya.
Sebuah ciuman hangat mendarat di pipi sang suami. Segala lelah dan emosinya lenyap seketika mendapatkan hadiah kecil darinya. Dalam hati keduanya, mereka bersorak: yess, kejutanku berhasil!
            **********************
Mereka sadar, sejak mengikat janji yang mengguncang lauhul mahfudz, ada peran sesuai kodrat yang senantiasa mengikuti. Mereka tahu, tak ada yang lebih tinggi atau rendah dalam peran masing-masing. Mereka mengerti bahwa peran keduanya sama pentingnya demi kelangsungan hidup rumah tangga yang SaMaWa.
Tetapi, sebagai manusia biasa, terkadang mereka lelah, jenuh dan putus asa. Maka, meledaklah curahan hati penuh emosi diiringi derai air mata dari sang perempuan, atau sikap diam, dingin, dan tak ingin diganggu dari sang lelaki.
Beruntunglah, agama menerangi jalan yang mereka tempuh. Sang suami mafhum, istri hanya butuh dihargai dan diperhatikan, agar segala beban dan lelahnya tak lagi terasa. Dan sang istri sadar, suami butuh kasih sayang dalam diam, ketenangan sebagai tempat bersitirahat dari kepenatan dan kerasnya dunia di luar rumahnya.
Karena itulah, episode ini tercipta. Keduanya saling menguatkan lewat pujian, perhatian kecil, dan sambutan terbaik. Daun kering kejenuhan itu berguguran, lalu kandas ditiup angin pengertian, mengalirkan kekuatan baru untuk menjalani peran, sampai nanti, sampai mati...InsyaAllah.

TENTANG DIA

Jumat, November 18, 2016


Apa yang harus  kuceritakan tentang dia? Dia seorang yang biasa saja, tidak terlalu penting untuk mengetahui yang tersembunyi dari sesosok manusia bernama Mabruroh. Tetapi, karena ini keharusan, baiklah, akan kugambarkan. Tidak akan panjang lebar, nanti enek kalau kebanyakan #kapan ceritanya ini?
Menyapu, mengepel, memasak, menggiling cucian, mencuci piring, mengurus anak-anak dan suami. Itulah sederet rutinitas harian seorang perempuan berusia matang bernama Mabruroh selama dua tahun terakhir. Aktivitasnya sekarang hanya fokus mengurus keluarga. Sebelumnya dia pernah mengajar di sekolah islam selama beberapa tahun, kemudian resign setiap hamil dan melahirkan. Dengan tiga anak, itu berarti sudah tiga periode on off bekerja.  Pernah mengecap pengalaman sebagai ibu rumah tangga saja dan ibu rumah tangga yang bekerja, membuat dia menarik kesimpulan, apapun pilihannya yang terpenting adalah keihklasan dan usaha seorang ibu untuk memaksimalkan perannya. Yang jelas, setiap pilihan harus didasari alasan  yang kuat dan tanggung jawab.
Ia seorang ekstrovert sanguinis, sehingga tidak pernah kesulitan mencari teman atau beradaptasi dengan lingkungan baru. Pertemanan baginya sangat penting, bisa dibilang hidupnya tak lengkap tanpa teman yang benar-benar sejiwa dengannya.
Ia terbuka, sehingga berbagi cerita dengan  orang yang baru dikenalnya sekali pun bukan masalah besar buatnya, sangat bertolak belakang dengan sifat suaminya yang introvert dan plegmatis melankolis.
Sebagai anak sulung dia sudah terbiasa bersikap dewasa dan penuh pertimbangan. Meski terlihat dewasa, dia adalah seorang yang mudah sekali menangis jika bersedih atau dirundung masalah, even hanya karena adegan sedih dalam film atau novel. Sebaliknya, bisa bebas tertawa lepas jika merasa lucu. Khas seorang sanguinis.  
Sejak kecil dikenal penurut dan tekun belajar sehingga selalu juara kelas hingga SMP. Tetapi ketika persaingan di SMA semakin ketat, dia harus puas hanya di deretan lima atau sepuluh besar. Berlanjut ketika kuliah di UPI Bandung Jurusan Pend. Kimia, ia tetap mampu menghadiahkan IPK diatas tiga hingga kelulusannya. Meskipun kuliah di jurusan yang bukan passionnya, dia berhasil  menyelesaikan studi dengan hasil sangat memuaskan. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia ingin menjadi jurnalis atau penulis.
Suka menulis sejak SD dalam bentuk cerpen, tapi tak pernah percaya diri mengirimkan ke media. Baru berani show on setelah ikut odop yg memaksa harus tampil di depan publik. Jika ingin melihat karyanya, bisa dibaca di akun medsosnya atau di rumah kecilnya ini.
Hoooaahheeemm....aku jadi mengantuk. Aku sudah bilang, tidak ada yang istimewa dengan dirinya, jadi jika kau membaca sampai akhir paragraf ini tanpa mengantuk, empat jempol kuacungkan untukmu, dan aku harap kau tidak kecewa. Nah, sekian cerita tentang pemilik blog yang ngga penting ini...





HADIAH TERINDAH

Kamis, November 17, 2016


                                                  www.batiksarimbit.net.id

“Happy anniversary, sayang?!”
Perempuan itu menghambur ke punggungku yang belum tegak benar setelah terbangun menjelang subuh. Ia masih mengenakan mukenanya, dan mata yang masih basah sehabis munajat dalam tahajud panjangnya. Ia memalingkan mukaku ke belakang, lalu menghujaninya dengan ciuman di pipi. Wajahnya berhias senyum, lalu tertawa-tawa melihatku yang menyungkur karena malu dicium dalam keadaan masih bau penguk.
“Jangan lakukan lagi, aku malu!” kataku seraya menutup muka.
Tawanya berderai yang bagiku terdengar seperti simfoni yang indah. Dinda, istri yang kunikahi tiga belas tahun yang lalu itu, makin semangat menggodaku dengan memainkan hidungku.
“Makanya mandi, gih! Aku tunggu buat solat jamaah di mushola.”
Ia melompat ke kursi di samping kasur, meraih mushaf Al-Qur’an dan mulai mengaji. Kutatap dirinya dengan beragam rasa yang sukar kudefinisikan, yang pasti bibirku mengulum senyum karenanya.
Sungguh, aku tak tahu apakah perasaan yang sama akan aku rasakan jika yang berada di kursi itu adalah Syifa ...
****************
“Apa? Lo mau lamar Syifa?”
Lelaki berkacamata minus itu sampai melompat kaget mendengar rencanaku. Sebagai teman sekamarku selama dua tahun ini, aku selalu bertukar pikiran tentang rencana apapun dengannya. Termasuk keputusanku untuk melamar Syifa, tetangga kos yang kukenal dari seorang kawan.
Alisku menaik, heran.
“Kenapa Bro? Ada yang salah?”
Arif menepuk dahinya. Lalu menggeleng pelan
“Telat Broo, Syifa udah dikhitbah sama Kang Adiar, kakak tingkat Syifa di kampus.”
Bagai mendengar berita duka, seluruh sendiku melemas. Berharap yang kudengar hanyalah candaannya yang tak lucu.
“Kok lo tau? Terus, kok lo ga ngomong sama gue?”
“Yaelah Bro, baru juga kemaren kejadiannya. Temen sekosannya yang bilang. Gue belum sempet cerita sama lo, banyak banget urusan gue minggu ini.”
Aku menelan ludah. Bagaikan dipukul gada, kepalaku pening. Kabar itu terlalu mengagetkanku. Skenario yang kukarang sendiri tentang senyum manis Syifa saat aku memintanya menjadi istri tiba-tiba menguap. Pun segala gerak tubuh, mimik muka,  dan rangkaian kata yang telah kususun tiba-tiba mengucap selamat tinggal.
            Melihat rupaku yang seperti tanaman layu, Arif menghentikan pekerjaannya mengetik bahan skripsi.
“Sori Bro, gue tau lo suka Syifa. Tapi gue ngga sangka lo niat jadiin dia istri...”
Kuhembuskan napas untuk mengenyahkan kecewa.
“Elo ngga salah, Rif.“ ujarku pasrah.
            Kusandarkan punggung yang tiba-tiba terasa berat ke dinding kamar kos kami. Tubuhku lunglai terasa tak bertulang. Andai tak ada Arif ingin rasanya menangis sejadinya.
            Syifa...mengeja namanya membuat dadaku sesak. Ia yang manis, pintar dan menyenangkan diajak diskusi tentang apa saja. Meski sibuk dengan organisasi, yang kudengar ia tetap mampu mengukir IPK tiga koma di lembar KHS- nya. Sebuah buku tentang politik islam mengantarkanku mengenalnya lebih dekat, setelah sekian lama hanya melihatnya hilir mudik kampus-kost-an.
            Syifa, sebuah nama yang menggaung siang dan malam di ruang hati, memberi keyakinan pada diri dialah sosok yang akan aku minta menjadi pendamping selamanya. Bahkan awan melukis jelas wajahnya ketika kumelamun di malam yang senyap. Alam seperti mendukung niat muliaku padanya, tetapi yang kudengar barusan membuat semuanya mentah tak berarti
“Bro, lo baik-baik aja?” Suara Arif terdengar khawatir.
Tentu saja aku tak baik-baik saja. Memandangku yang memegangi kepala dengan tatapan kosong, membuatnya berempati. Ditepuknya pundakku sambil memantraiku dengan nasihat.
“Bro, saran gue, elo ambil wudhu, terus solat. Lo doa sama Allah, kalau dia jodoh lo, minta dideketin. kalau bukan jodoh, minta ganti yang lebih baik, segera! ” pungkasnya.
            Meski lesu, aku bangkit menuju kamar mandi untuk berwudhu. Mungkin solat dan doa panjang akan menjadi alasan yang paling tidak memalukan untuk menangis.

Dua minggu berselang...
            Setelah tahu Syifa dilamar orang lain, aku tak bersemangat melakukan apapun. Dua minggu ini aku hanya berdiam diri di kosan, menyelesaikan pekerjaan freelance sekenanya, makan, tidur, kerja sedapatnya, begitu seterusnya. Bahkan untuk melongok ke jendela, berharap melihat Syifa berangkat kuliah pun tidak. Melihatnya hanya membuat nyeri di dada. Mengingat aku hanya akan bisa memandangnya, tapi tak bisa memilikinya.
            Arif hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku bertingkah seperti beruang malas. Ia merasa bersalah karena tidak mampu membantu dalam situasi ini.
Tetapi, siapa yang patut dipersalahkan? Salah Arif? Dia tak pernah kunobatkan sebagai jubirku sehingga tak perlu bicara apapun pada Syifa.
Atau Syifa? Huh, Ia bahkan tak tahu kalau aku menyimpan cinta untuknya.
Bisa jadi Adiar? Hemm, bukankah hak dia untuk melamar, sebab Syifa bukan istri dan tidak sedang dilamar siapapun. Lagipula, bukankan dia sudah siap dan punya penghasilan, dan yang terpenting, dia bertindak cepat dengan mendatangi orang tuanya.
Mungkinkah aku yang salah? Aku mengangguk-angguk sendiri, entah kenapa hatiku sepakat berkata jujur: ya, aku yang salah karena kurang cepat bertindak. Tapi, masa iya aku langsung melamar pada orangtuanya tanpa yakin dengan jawaban Syifa sebelumnya? Kusimpulkan, kalau begitu, mungkin Adiar lebih dulu menyatakan niatnya pda Syifa, dan Syifa setuju sehingga dia berani maju ke tahap melamar pada orangtuanya. Itu artinya, Syifa tak ada hati untukku?
Kalau begitu, salah siapa? Jangan-jangan takdir? Fyuh, Memikirkannya membuatku bertambah kalut.
                                          **************
“Bro, gue denger Dinda udah siap nikah loh..” ujar Arif di suatu malam. Jarinya tetap asyik mengetikkan kalimat di keyboard.
Kucoba memutar rekaman memori tentang Dinda, tetangga kos yang sekampus dengan Arif. Hemm, Dinda yang imut dan suka memakai celak, hanya itu yang kuingat. Kutahu itu karena garis matanya lebih tajam jika dibanding mata gadis yang lain.
“Terus?“ tanyaku sekedar menanggapi.
“Ya, kan lo lagi cari istri. Kenapa ngga lo coba lamar aja dia?”
Aku mendengus. Dia kira mengalihkan perasaan semudah menggeser layar ponsel.
“Lo perhatiin deh. Dia emang imut, tapi sebenarnya dewasa banget loh. Cocok banget sama lo.”
“Lo mau bilang kalau gue tua gitu?”
Arif tergelak. Kulempar bantal kumal ke mukanya.
“Gue serius nih,” katanya setelah tawanya reda,”dia itu keibuan, solehah, murah senyum, dan yang paling penting dia anak Tata Boga Bro, cocok buat elo yang banyak makan!”
Aku mendelik. Sialan!
“Ya, memang sih, masih cantikan Syifa. Tapi kata emak gue, ntar kalo udah nikah kecantikan itu ngga berarti Bro, kalau hati sama kelakuannya buruk...”
“Sok bijak!“ ledekku sinis.
“Dia juga bisa jahit baju. Bayangin kalo lo jadi suaminya, irit Bro! “
Makin ngelantur ini bocah.
“Kayanya lo tau banyak tentang dia, kenapa ngga lo aja yang lamar dia?”
Skak mat. Tapi dia malah cengengesan.
“Gue kan masih skripsi. Lagian, kan, lo tau siapa yang gue taksir.” katanya sambil nyengir.
“Kata Ustadz Hammam, yang terpenting dari seorang perempuan adalah agamanya Bro. Sebab dia yang akan didik anak-anak elo. Jangan lupa, yang penting dia mau taat ngga? Udah itu aja.”
“Gue ngga tertarik sama tawaran lo. Kalau lo mau, elo lamar aja dia!”kataku sambil berbalik memunggunginya.
“Hati lo ketutup sama cinta buta Bro, padahal Syifa bisa jadi bukan jodoh lo. Gue saranin, lo pertimbangin saran gue.”

Tapi ocehannya hanya buaian yang membuat kantukku makin dalam.
**************
Roda waktu berputar hingga tak terasa telah sebulan berlalu setelah kejadian itu. Aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa Syifa mungkin bukan jodohku, apalagi kudengar bahwa tanggal pernikahannya sudah ditentukan. Meski sangat sedih dan kecewa, aku merasa tak seharusnya terus menerus dalam hibernasi. Walaupun penuh tanya pada Tuhan, aku masih ingat cara berdoa, dan ajaibnya itu menenangkanku bahwa Dia punya rencana lain setelahnya.
Dalam doa panjang usai solat aku memohon agar diberi pengganti yang lebih baik, dan kalau bisa segera...
Sampai di suatu pagi...
Sesuatu berwarna mencolok jatuh dari lemari ketika aku mengambil baju yang akan kupakai hari itu. Selembar kain batik pemberian ibuku yang belum sempat kujahitkan.
Melihat kain itu teronggok di lantai begitu saja, tiba-tiba otakku teringat sebaris  nama: Dinda. Sebuah rasa yang asing merayap lembut dalam hatiku. Lalu entah dari mana datangnya, sebuah ide konyol ( atau jenius ) muncul dibenakku. Ide yang membuatku tanpa ragu bergegas sambil membawa kain batik itu ke satu tujuan:  tempat kost Dinda.
“Saya ngga yakin bisa melakukannya, Kang...” ucap gadis berdarah Sunda itu sambil mengamati kain yang kuberikan.
“Kalau ngga jadi pun ngga apa-apa. Yang pasti, saya janji, kalau teteh bisa selesaikan baju itu dalam semalam, saya akan kasih hadiah buat teteh...”
Gadis itu tampak ragu. Tetapi herannya, dia tetap menerima kain dan baju contoh yang kubawa.
‘Baiklah, saya akan coba. Akan saya kabari kalau sudah selesai.”
Entah siapa yang tengah berdiri di depan gadis berkerudung biru itu, dengan senyum mengembang dan keyakinan akan rencananya. Aku bahkan asing dengan diriku.
                         ***************
Sudah tiga belas tahun berlalu, dan di sinilah dia sekarang. Dinda, gadis berkerudung biru yang bercelak itu setia bersamaku sebagai makmum dalam perjalanan hidup rumah tangga. Setelah tiga belas tahun yang lalu dia berhasil menyelesaikan tugas yang kuminta, menjahitkan kain batik menjadi baju dalam semalam saja. Sebagai lelaki sejati, aku tepati janjinya dengan memberinya hadiah terindah: khitbah.
Satu hal yang kupikirkan saat itu, jika dia bisa menurut pada perintahku untuk membuatkan baju, maka aku yakin itu adalah tanda bahwa dia bisa menaati aku sebagai suaminya untuk selamanya. Dan hingga detik ini, keyakinanku terbukti.
Rupanya Allah menjawab doaku segera dan memberi isyarat melalu secarik kain batik. Dia pula yang memberiku ide, keyakinan dan rasa yang asing itu sebagai tanda bahwa belahan jiwaku telah ada, dekat saja denganku. Dia memberiku ganti yang lebih baik dari Syifa, menurut-Nya.
Sadar ada yang memandanginya sambil tersenyum macam orang gila, istriku menyudahi bacaanya.
“Hei, aku menunggumu ke mushola!” katanya sambil menimpuk kepalaku dengan bantal.
Aku terkesiap. Sadar dari kenangan tentangnya, tentang wanita yang selalu menaatiku, dari selembar kain batik...





Rabu, November 16, 2016

                                                www.ayurhie.blogspot.com

Rindu Sendu

Pada sebuah nama
Desau angin mengeja namamu
Bersama berbuku-buku rindu
Datang mewakili diri yang malu

Pada sebuah nama
Engkau alasan setiap senyum yang lekat
Setiap desir yang menghangat
Setiap deru semangat

Pada sebuah nama, duhai ini salah siapa
Adakah diri yang terlalu berharap
Mungkinkah kau dengan perhatian yang kerap
Atau rasa yang sesukanya hinggap

Pada sebuah nama
Jika hati telah mencinta
Kemana nak dicari sebarang penawar

Ia hanya inginkan kau, sebuah nama
Datang meminang bersanding bahagia
Sebelum catatan takdir tergores pena







EKSODUS

Senin, November 14, 2016

                                                                     www.123rf.com

Aku dan Pity, anak lelakiku, tengah menikmati makan siang kami ketika Wimpy datang dengan berlari tergopoh-gopoh. Ia menyerbu ke arah kami bagai anak panah lepas dari busurnya, dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal. Meski begitu, aku tak heran, mungkin dia habis bertemu Mrs. Andrew, landlady rumah yang galak itu.
Aku mengelus punggung Wimpy begitu ia berada di depan meja tempat kami makan, menyuruhnya mengatur napas yang berkejaran.
“Ada apa?” tanyaku setelah ketakutannya mereda.
“Julie...Aku habis bertemu Julie...” jawabnya di sela napas yang terengah-engah.
Oh, rupanya Julie, tetangga wanita yang anggun sekaligus garang, penjaga rumah Mrs. Andrew. Sejak tahu kami menumpang di rumah Mrs. Andrew empat bulan lalu, dia sudah menunjukkan kebenciannya pada anak-anakku. Juga padaku.
“Untunglah kau tak diapa-apakannya.” hiburku sambil menyodorkan makanan pada Wimpy.

 Julie..., mengingat sosoknya membuat dadaku sesak. Sejak pertama bertemu dia tak bersahabat. Sepertinya yang ada di benaknya hanya obsesi untuk menyingkirkan kami, sebab kami suka menghabiskan makanan di dapur yang seharusnya diberikan padanya. Sebagai sesama penghuni rumah Mrs. Andrew, wajar jika dia gusar karena kami selalu membuat dapur berantakan usai mengambil makanan tanpa pernah merapikannya lagi. Tak heran jika setiap pertemuanku dengannya selalu  dihiasi kemarahan di wajahnya, juga intimidasinya.  Dia kerap mengejar anak-anakku kemana pun mereka bersembunyi. Untunglah kami selalu bisa berlari secepat kilat dan berlindung di kamar kami yang aman. Kalau bukan karena kelezatan makanan di rumah Mrs. Andrew, rasanya aku sudah ingin hengkang dari rumah ini sejak dulu.

Wimpy, anak perempuanku yang manis itu mengerutkan dahinya. Ia terlihat memikirkan sesuatu.
“Hari ini ada yang berbeda dengan Julie. Ia melihatku, tapi tak mengejarku. Aku berlari karena kaget.”
Aku menaikkan alis mendengar ceritanya. Aneh, tak biasanya Julie bersikap demikian.
“Mungkin dia sudah lelah mengejarmu,” timpal Pity acuh tak acuh. Dia masih asyik dengan keju ditangannya.

Seakan ingin mencari tahu, Wimpy berjalan menuju jendela yang menjadi pembatas antara kamar kami dengan ruangan Julie. Tak lama kemudian, dia memberi kode kepada kami untuk bergabung dengannya.
“Mommy, lihat! Julie...” bisiknya nyaris tak terdengar.

Kudesakkan kepala di antara kepala kedua anakku. Kusaksikan Julie berbaring di atas peraduannya. Kepalanya terkulai di bantal cantiknya. Ia memiringkan badan dan merebah dengan pasrah. Aku merasakan kejanggalan. Meskipun mengantuk sekalipun, Julie tak pernah selemah itu. Dia garang, selalu bersemangat. Tetapi yang kulihat saat ini hanyalah Julie yang tanpa daya.
“Kenapa dia, Mommy?” tanya Pity heran.
“Entahlah...” jawabku sekenanya, sambil berpikir apakah saatnya sudah tiba? Kuperhatikan Julie memang berubah dua hari terakhir ini. Dia  tampak gelisah, berjalan berputar-putar dan terlihat lesu. Makanan yang disediakan Mrs. Andrew pun tak disentuhnya.
“Apa dia sakit, Mommy?” nada suara Wimpy terdengar khawatir.
“Mommy tidak tahu, sayang...”
“Kalau dia sakit, bukankah itu bagus?!” ujar Pity tak peduli. Aku menatapnya tak setuju.

Julie menggeliat, dari balik jendela yang tak begitu jauh dari peraduannya, aku dapat mendengar napasnya yang cepat, dadanya kembang kempis. Mulutnya mengerang, terdengar kesakitan. Aku tak suka Julie, tetapi bukan berarti aku tak iba melihatnya seperti ini.
Dia berbalik memunggungi kami, menggeliat lagi dengan mulut meringis. Matanya menyipit, seperti merasakan sakit yang tak terkirakan. Otakku berusaha mencerna, mungkinkah Julie akan...? Ah, tetapi, tidak. Kalau benar sudah waktunya, Mrs. Andrew seharusnya ada disini bersamanya.
Julie berbalik lagi, meringkuk, diam beberapa menit sambil meringis. Beberapa menit sampai aku meragukan apakah dia masih bernapas atau tidak.
Tak lama berselang, tepat seperti yang kusangkakan, dia terlihat mengejan, uratku menegang sambil menerka-nerka. Lalu, muncullah sebentuk kepala mungil di antara kedua kakinya. Benar dugaanku. Seketika kutarik kedua anakku menjauh, mereka tak boleh melihat  peristiwa ini.
“Kenapa dia, Mommy? Sesuatu keluar di antara kedua kakinya!”
“Dengar Pity, Wimpy! Julie sedang melahirkan. Kalian tak boleh melihatnya!”
“Kenapa, Mommy? Aku ingin melihat bayi kecil “ protes Wimpy.

Aku melotot, “Diam di situ. Mommy akan mengawasi dia.”
Aku bergegas menuju jendela dan melihat Julie masih terbaring lemah. Satu bayi telah berhasil dilahirkannya, sekarang kulihat Julie berusaha membersihkan bayinya dari darah dan ketuban dengan sisa tenaga. Namun itu tak berlangsung lama, ia berhenti dan mengejan lagi, dan tak lama setelah itu bayi keduanya lahir. Aku menahan napas dan mulas yang tiba-tiba datang, mungkin sebagai sesama wanita, nuraniku tergerak hingga rahimku turut berempati padanya.
.
Julie baru benar-benar berhenti meringis dan mengejan setelah bayi terakhirnya keluar dengan selamat. Pantas saja perut Julie begitu besar, ternyata ada empat bayi menghuni perutnya. Mereka sangat lucu dan sehat. Meski lemas, Julie tampak tersenyum gembira dan bersemangat menyambut kedatangan bayinya. Dengan sayang, dielusnya anak-anaknya.

Menyaksikan kelahiran bayi-bayi Julie, membuat sisi kewanitaanku tergerak. Entah mengapa, sebentuk rasa bahagia dan lega membuncah di dadaku. Ingin rasanya kupeluk Julie dan kuucapkan selamat padanya, bahwa ia telah menjadi ibu. Tak terasa bulir bening berlarian di atas pipiku.

Ngomong-ngomong, kemana Mrs. Andrew? Dia orang pertama yang sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Julie. Ya, meskipun dia murka karena tak jelas siapa ayah yang harus bertanggungjawab pada anak-anak Julie. Baginya itu penting karena paling tidak ia ingin memastikan bahwa anak-anak Julie mendapat gen terbaik dari ayahnya. Yang mengherankan, bukankah seharusnya dia ada di sana dan menolong Julie? Julie sangat lemah dan berdarah-darah, dia butuh bantuan seseorang untuk membersihkan dan merawatnya.

Tetapi, sepertinya Julie lebih kuat dari yang terlihat. Tampaknya ia telah memikirkan semuanya. Julie yang tegar, tanpa bantuan siapapun, dia melahirkan anak-anaknya dengan selamat.
“Mommy, apa dia akan mati?” Wimpy bertanya dengan khawatir. Aku menoleh, ternyata dua anakku juga menjadi saksi kelahiran itu.
“Entahlah, Mommy harap tidak...” jawabku pasrah, mengingat mereka telah melihat yang seharusnya tak dilihat.
“Bukankah bagus kalau dia mati? Dia tidak akan pernah menggangu kita lagi!” Pity menimpali dengan sengit.
Aku menatap Pity dengan dahi berkerut, tanda tak sepakat. Pity takkan tahu perasaan sesama ibu jika anak-anak kehilangan ibunya.
“Mommy, apakah melahirkan itu sakit?” tanya Wimpy polos
“Ya, sayang. Sangat sakit...”
“Apa aku menyakitkanmu waktu lahir?”
“Semua bayi menyakiti ibunya ketika lahir, Wimpy!” tukas Pity kesal.
Wimpy hanya melirik sekilas pada kakaknya.
“Aku minta maaf karena membuatmu sakit, Mommy?!” Wimpy menatap mataku dengan tatapan memelas. Tak urung aku tersenyum melihat bola mata innocent-nya. “Aku tak akan membuat Mommy sakit lagi...” lanjutnya.
“Wimpy, anak Mommy yang pintar.” pujiku sambil mengelus kepalanya. Pity melirik adiknya sambil menyeringai, lalu dia menepuk dahinya. “Ya ampun!”

Kulihat Julie beristirahat, ia hanya berbaring tanpa mempedulikan bayi-bayinya. Aku mendesah lega setelah peristiwa menegangkan itu berlalu. Seiring dengan ketegangan yang mereda, rasa takut merayapi hatiku. Masa itu datang juga pada akhirnya, saat kami harus segera pergi dari tempat ini.  
“Pity, bantu Mommy berkemas, kita akan pindah dari sini!”
Pity menoleh kepadaku dengan kaget. Raut mukanya tak senang.
“Aku tidak mau, di sini nyaman dan banyak makanan.”
“Kenapa Mommy? Pity benar, meskipun Mrs.Andrew sangat galak tetapi makananya enak. Setelah aku bertambah besar, aku tidak akan takut lagi pada Julie.”
“Disini tak aman lagi, beberapa bulan lagi anak-anak Julie akan tumbuh besar, dan akan sama garangnya dengan Julie. Mommy tak ingin kalian celaka...”
“Mommy, tidak! Mommy bahkan belum taHu kemana kita akan pergi!”
Aku berlutut, mengumpulkan semua tangan kami.
“Dengar, Mommy hanyalah ibu yang ingin kalian hidup selamat dan sejahtera. Mommy akan lakukan apapun asal kalian selamat. Julie pun begitu, dia akan lakukan apapun demi anak-anaknya, dan kau tau itu artinya Pity? Dia tak akan memberi kita kesempatan lagi. Bahkan sekarang jumlah mereka lebih banyak... “
Pity dan Wimpy tampak ragu. Tetapi tatapan dan anggukanku meyakinkan mereka.
“Baiklah,” kata Pity mengalah setengah terpaksa.
“Kau tahu? Mommy sayang kalian.”
Pity mengemasi makanan kami yang belum selesai dengan lesu. Setelah semua dirasa siap, kubimbing kedua anakku menuju lorong gelap yang mengarah ke rumah tetangga sebelah yang lebih aman. Lorong got yang gelap dan bau, membuat Wimpy berkali-kali memelukku sambil menutup hidungnya.

Sebelum masuk ke dalam lorong, Pity menarik tanganku lembut
“Mommy...,” katanya ragu, ”aku ingin mengatakannya sebelum aku merasa malu.”
“Apa itu, Pity?”
Anak lelaki yang keras kepala itu terdiam sesaat.
“Aku sayang padamu...”
Spontan kupeluk tubuh kecilnya dengan sepenuh kasih.
“Mommy menyayangi kalian, selalu menyayangi kalian” kataku seraya meraih Wimpy ke dalam rengkuhan.
            Dengan mantap, kami bergandengan menyusuri lorong gelap dan bau, meninggalkan rumah Mrs. Andrew dan kucingnya yang galak, Julie...

Hati-hati Memilih Bacaan!

Jumat, November 11, 2016

Saya janji mau menuliskan ini dengan singkat saja, karena ini tulisan ngga penting dan sekedar supaya saya ngga punya hutang di ODOP. Saya tahu ini memalukan ( menulis sesuatu yang ngga mutu ), tetapi saya harus tetap menulis apapun yang terjadi. Satu-satunya cara agar anda mahir menulis adalah dengan cara menulis setap hari, begitu nasihat para senior. 
oke, sampai di sini, sudah lumayan kan, dapat satu paragraf ( horee ! ) 

Well, saya mengaku. Hari ini saya membaca tulisan seseorang di wattpad, dan celakanya saya tak bisa berhenti. Padahal tulisan tersebut bertema klise dan sebenarnya sudah bisa ditebak endingnya akan menyedihkan. Tetapi, entahlah, pesona apa yang membuat mataku tak lelah menyusuri deretan kata yang dia rangkai dengan apik. Walhasil, menggalaulah saya malam ini. Gara-gara kisah roman yang dibuat seorang anak remaja yang belum pernah menikah, bahkan dia seorang single :(

Ada banyak hal yang saya pelajari dari  authornya bahwa dia benar-benar seorang yang berbakat. Di usianya yang baru belasan tahun dia mampu menyusun novel sepanjang 34 part, yang tak pelak membuat saya  merasa benar-benar harus banyak belajar.

Tapi, ada hal lain yang bisa diambil hikmahnya, yaitu jangan sampai salah pilih bacaan, karena bacaan benar-benar bisa mempengaruhimu. Buktinya, sampai malam selarut ini, saya masih terbayang dengan ending menyedihkan dari tokoh novel tersebut. Coba kalau tadi saya baca bacaan yang lebih menyenangkan, mungkin saya akan pergi tidur dengan hati berbuncah bahagia.

Nah, makin gaje kan? Sudahlah, sepertinya saya lelah. Lebih baik saya beristirahat. Semoga besok ada energi dan ide segar untuk tulisan saya. Saya kangen juga mengadoni huruf menjadi rangkaian kata bermakna, bukan sekedar curhatan kala lapar di tengah malam kasip begini. Baiklah, saya pamit kalau begitu:)

Pencipta Tangis

Kamis, November 10, 2016

                                          www.pricepedia.org

“Kenapa matamu basah? Habis menangis ya?” Emak bertanya dengan heran melihat raut mukaku yang muram
Aku menggeleng pelan. Di cermin, kulihat bulir bening sisa kesedihan barusan masih menggenang di pelupuk mata. Pantas saja, memalukan sekali. Apa jadinya kalau Emak tahu aku habis menangis karena ulah sepupuku.

Sebenarnya aku memang habis menangis. Sepupuku yang membuatku menumpahkan air mata. Setiap kali main ke rumahnya, sering aku dibuatnya bersedih hati. Dia selalu berhasil mengaduk-aduk emosi. Bukan hanya padaku, tetapi juga pada anak –anak yang lain, teman sepermainanku.

Kau mau tahu yang dilakukannya? Sungguh, mengingat ulahnya membuatku menyunggingkan senyum.
Dia mengumpulkanku dan beberapa teman yang lain di teras rumahnya, atau dimanapun dia merasa nyaman. Lalu, dia mulai membuat setting tempat berupa rumah-rumahan dua dimensi dari korek api atau pensil yang disambung membentuk gambar denah rumah. Setelah setting tempat siap, dikeluarkanlah semua orang-orangan yang akan menghuni rumah tersebut, lengkap dengan baju dan assesorisnya. Orang-orangan itu berupa mainan bongkar pasang yang tak lupa diberinya nama.

Dan, disinilah letak kenakalannya. Dia tak hanya ‘memaksa’ mata kami terpaku pada gerak gerik tokoh imajinasinya. Tetapi, sekaligus membawa masuk ke dalam cerita dan emosi si tokoh. Sepupuku akan memulai ndalang, bercerita tetang Alicia, tentang Diana dan sederet nama lain hasil imajinasinya. Ia bercerita dengan intonasi yang sesuai dengan emosi yang diinginkan, jika sedih dia merintih dan menghiba. Jika senang dia riang. Puluhan anak yang tersihir mengitarinya dengan tatapan takjub dan antusias. Suasana hening, hanyut oleh jalan cerita yang menyentuh hati. Seringkali, saking larut dalam cerita sedihnya, kami menangis berjamaah.

Kadang, dia menyimpan ceritanya untuk esok, sehingga kami harus rela menunggu pagi untuk melanjutkan kisahnya. Walhasil kami pulang ke rumah membawa imajinasi kelanjutan ceritanya dengan sisa airmata yang belum mengering. Sisa tangis yang memunculkan tanya para emak, habis diapain anakku sampai sedih begini. Betapa konyol dan memalukannya :D

Sepupuku memang pemintal cerita yang hebat. Usianya mungkin baru sekitar sepuluh atau sebelas tahun kala itu. Tetapi dia mampu ndalang dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan intonasi yang sesuai. Ia tak pernah kehabisan cerita untuk wayang-wayangnya.

Bagiku yang hidup di kampung, mendapat hiburan gratis penuh imajinasi menjadi kebahagiaan tersendiri yang membuat kenangan masa kecil selalu indah untuk dikenang.
Sepupuku itu, Sri Murni Rahayunisasi ( weww panjangnya :p ). Seorang penikmat dan pembuat puisi yang keren, dalang cerita di masa kecil yang hebat. Meski piawai membuat cerita yang menguras air mata, tetapi sebenarnya dia seorang yang periang.

Ah, masa kecil yang indah. Tulisan ini adalah ucapan terimakasih untuknya, untuk masa kecil yang penuh kesan dan menyenangkan.