PENGHUJUNG SUBUH

Selasa, Maret 07, 2017




Surau tua menggemakan petuah dan kisah. Takzim, emak mendengarkan ceramah, sesekali matanya basah. Kata-kata kiai dari pengeras suara langgar mengganggu hatinya. Jika seseorang mati, terputuslah semua perkara kecuali tiga: anak soleh yang mendoakan orang tuanya, sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.
Subuh telah berlalu sejak sejam lalu. Ceramah di surau membangunkannya dari tidur yang tiba-tiba menjadi begitu lelap menjelang subuh. Ia terjaga setelah tidur sebatang kara di gubuk yang hampir rubuh, berselimut kekhawatiran akan anaknya yang menggelandang kala malam.
Ia takut anaknya yang gelap mata dan tak mampu menalar karena mabuk, akan berbuat di luar akal manusia. Membunuh, merampok, memperkosa. Siapa dapat mengira? Lebih takut lagi, ketika nanti ia tiada, anaknya tak mampu berdoa. Bagaimana ia akan berharap doa dari sang anak yang hanya tahu mabuk dan bersenang-senang?
Wanita itu telah uzur, namun masih juga sulit untuk menyungkur ke haribaan Tuhan. Hidupnya susah, sehari- hari sibuk mencari penghidupan. Itu pun, hasilnya tak seberapa mapan. Bagi pembuat sapu ijuk seperti dirinya, harga yang tak seberapa pun masih harus rela ditawar.
Emak beringsut menuju dapur yang sebenarnya masih satu ruangan dengan kamar. Selembar tirai dijadikan sekat agar tak terlihat seperti tidur di dapur atau memasak di tepi kasur.
Benar saja, tak ada siapa pun di rumah ini selain dirinya. Anak lelakinya mungkin tertidur di jalanan. Atau jangan-jangan telah mati ditembak polisi? Emak menepis pikiran buruk. Ia membuka koran yang menutup makanan di meja dan menemukan makanannya telah menjadi remah.
“Tikus tak tahu adat.” keluhnya. Padahal, ia sangat lapar. Terduduk, ia memilih melanjutkan mendengarkan ceramah.
Anak soleh yang mendoakan orang tua. Kata-kata itu terngiang kembali di telinga.
“Mak, minta duit!”
Sayangnya hanya itu suara yang dia ingat dari sang anak berusia dua puluh tahun itu selama ini. Ucapan itu pula yang menjadi bahan pembicaraannya dengan sang ibu. Meminta uang, menyumpah bila tak ada, lalu pergi dengan membanting pintu. Tanpa terima kasih, tanpa bertanya keadaannya.
Sejak merasa dewasa, lenyap sudah sosok bocah kecil yang dulu diayun-dibuainya dengan sayang. Ia marah ketika lapar, mengamuk jika tak ada makanan, tetapi seperti tak tahu bahwa makanan berasal dari uang. Menyalahkan nasib yang hanya beribukan wanita tua penjual sapu. Ia malu sekaligus benci karena tak berpendidikan agar bisa mencari rejeki.
Emak ingin berontak, namun mulutnya tercekat. Ia ingin memberi petuah, namun anak lelakinya tak pernah betah di rumah. Apalagi semua nasihatnya berbalas amarah, membuat emak surut langkah. Ia memang salah, tak berilmu sekedar mengajari anaknya melafal bismillah. Merasa kehabisan waktu karena bergelut dengan hidup yang susah. Tak heran anaknya tak tentu arah.
“Wak, pagi-pagi sudah melamun.”
Keponakannya mengunjungi setiap pagi, membawakan sarapan sekedarnya. Emak menyeka mata.
“Kenapa menangis, Wak? Si Peleng belum pulang?”
Emak menggeleng. “Makananku digondol tikus....” kilahnya.
Rumini,  si keponakan, tak percaya begitu saja. Satu-satunya yang membuat uwaknya menangis adalah kelakuan sang anak. Ia telah hafal perangai keduanya sebab rumahnya hanya sepelemparan batu dari gubuk itu.
“Tikus jangan dikasih ampun, Wak. Pasang  perangkap atau kasih racun tikus!”
Emak hanya diam terpekur.
“Rumini punya satu bungkus di rumah, nanti kubawa ke sini ya, Wak?”
Emak mengangguk kecil. Wajahnya masih mendung.
“Wak, sampai kapan Uwak mau begini? Si Peleng harus dikasih pelajaran, dia sudah terlalu.”
“Uwak harus gimana? Baru mau nasihatin, dia marah. Bawa pisau, matanya merah, nyumpahin Uwak.”
“Si Peleng minta duit lagi? Jadi, duit yang kemarin dikasih Pak Haji Rochim dikasihkan ke Peleng?”
Emak mengangguk.
“Uwak udah tua, harusnya udah ngga nyari duit buat hidup. Punya anak bujang sehat, cari kerja apa aja pasti bisa. Tinggal dia mau apa engga.”
Emak membuka makanan yang dibawa keponakannya, malas menanggapi sesuatu yang tak berujung pangkal. Sementara Rumini nyerocos.
“Uwak pengin mati aja, Min. Udah ngga kuat hidup susah, ditambah ngelihat anak yang cuma nambah beban.”
Rumini mendesah. “Ngga boleh ngomong begitu, Wak. Mati udah diatur sama Tuhan, ngga usah diminta juga entar dia dateng sendiri.”
Emak meneguk ludah. Rumini tak punya anak. Ia tak tahu rasanya dipecundangi anak yang dilahirkan dari rahim sendiri. Jangankan dibentak, dimarahi, disumpahi. Anak membantah sedikit saja sudah membuat masygul. Apa yang dilakukan Peleng, sudah lebih dari cukup untuk membuatnya digelari durhaka. Maka, sakit apa lagi yang lebih sakit dari melihat anak yang semacam itu. Bahkan lebih sakit dari ketika melahirkannya dulu.
Rumini takkan mengerti  mengapa emak ingin mati saja. Daripada menanggung susah hati beranakkan berandal yang tak tahu caranya bicara dengan manusia.
##
Pintu kayu yang hampir copot dari engselnya itu dibanting. Membuat dinding kayu bergetar beberapa jenak. Sesosok lelaki ceking dengan balutan celana dan jaket jins kumal berlalu sambil membanting ingus sekenanya ke tanah. Kamu lagi, Peleng!
Aku jijik melihatmu dari balik jendela kamarku. Selalu. Sebab, kamu bukan hanya tak enak dilihat, kelakuanmu pun bangsat. Emakmu yang melarat dibiarkan terlantar, berpeluh mengais rupiah, sementara kamu ongkang kaki menjadi pengangguran. Hanya tahu makan, tidur, menyulut rokok dan minum tuak. Pergi ketika orang berangkat ke surau dan pulang ketika orang berangkat ke ladang. Lantas, tidur seharian seperti beruang.
Dulu, kamu teman sekolahku. Ya, kamu sekolah sekedar agar tak mati sebagai buta huruf. Kamu tak pernah belajar. Yang kamu tahu hanya main dan jajan. Membangkang bila disuruh mengaji, apalagi sembahyang lima kali sehari. Emak yang lemah mengasuh anak seorang diri, tak kuasa mengarahkan tingkahmu. Maka tak heran, selepas sekolah dasar, kamu putus sekolah dan menjadi bedebah.
Sayangnya, orang tuaku pun sama miskinnya dengan uwak. Bapakku beranak banyak dan penghasilannya menggarap sawah hanya cukup untuk hidup kami berenam. Maka, aku pun tak sekolah selepas SMP, bekerja sebentar, lantas menikah. Untunglah suamiku memberiku ijin untuk mengurus emakmu yang terlantar, sekedar memastikan ia tak kelaparan. Lebih dari itu, aku pun tak punya kesanggupan.
Ketika kamu melintasi jendela kamar, sengaja kulongokkan kepala. Aku ingin  menegur. Tetapi, kamu bahkan tak menoleh. Kupandangi dirimu hingga  lenyap di balik kelokan. Meski jijik, aku ingin melihatmu hingga hilang ditelan jarak. Sungguh, aku pun tak tahu mengapa. Mungkin, nanti malam kamu mati digilas truk, siapa tahu?
##
Subuh baru saja terbit ketika kulihat sosok itu duduk di tepi perapian. Tergopoh aku mendekatinya. Tak salah lagi, Kang Madi, ia datang untuk menemuiku. Ia nyata, aku tak mungkin salah. Bahkan aroma tubuhnya dapat kuhirup. Masih seperti dua puluh tahun lalu ketika dia meninggalkanku selamanya.
“Kang Madi?”
Mataku mungkin rabun, tapi aku kenal betul raut muka itu milik suamiku.
“Saatnya telah tiba, Dasih. Ikutlah denganku.”
“Anak kita, bagaimana dengan dia?”
Dia terdiam sejenak.
“Dia menyusahkan hatimu, tinggalkan saja!”
“Tapi, dia tetap anakku, Kang. Kalau aku pergi, siapa yang akan mengurusnya?”
“Dia bisa mengurus dirinya sendiri.”
“Tapi, Kang, tak ada yang peduli padanya.”
Kang Madi bergeming. Fajar yang mulai beranjak membuat ruangan itu sedikit terang. Tak lama, sosok itu menjelma samar, lantas hilang
Surau mulai menggemakan petuah ba’da subuh. Aku terhuyung mencari suamiku.
Tetapi, yang kutemui hanya anak lelakiku dari balik pintu. Sempoyongan dengan botol di tangan yang telah kosong. Bau arak menguar dari mulutnya.
“Mak...minta duit!”
“Gusti, Peleeng! Kamu melek aja ngga mampu udah minta duit aja. Malu sama tetangga! Jam segini orang pada salat, kamu malah mabuk!”
Ia terduduk di kursi. Menenggak botolnya yang kosong.
“Eh, nenek-nenek! Jangan ceramahin gue!”
“Ya Allah Peleng, orang lain mah, umur segini pada kerja. Lah kamu? Kerjaanmu mabuk ngabisin duit Emak.”
“Coba Emak dulu sekolahin gue, gue ngga susah cari kerja.“ ia meracau.
“Kalau sekolahmu bener pasti Emak biayain sampai tamat.” kataku terbata.
Ia malah nyalang memandang. Tajam menusuk penuh benci. Seperti penuh kesumat yang sangat.
“Alah, udahlah! Gue lapar. Gue mau makan! Oya, buatin minum juga!”
Aku mengelus dada yang sesak.
“Minuuum!” bentaknya sambil melempar botol.
Mataku basah bersimbah air mata. Sungguh, rasa sakit ketika melahirkan tak seberapa dibanding perih melihat anak yang tak tahu adat.
Rasanya ingin mati saja....
Aku teringat Kang Madi.
Aku melihat Kang Madi. Ia melambai padaku.
Madi yang telah mati...
Mati....
Masih kudengar petuah dari surau tua ketika aku menyeret langkah. katanya, hanya doa yang mampu mengubah takdir. Tetapi, Kang Madi datang, bukankah itu petunjuk bahwa waktunya telah tiba? Jika anak itu akan membuatku khawatir dari balik kubur, biarlah ia kubawa serta.
Maafkan aku Tuhan, yang kukenal hanya sekedar nama, jika harus kuakhiri derita dengan cara ini....
Sebungkus racun tikus larut sempurna dalam racikan kopi dan gula, ini akan membuat getirnya tak terasa. Setidaknya kecapan terakhir di penghujung hidup harus memanjakan lidah, meski setelah itu sekujur tubuh akan meronta, seluruh indera menderita, melawan nyeri dan kejang. Kemudian, meregang nyawa menuju baka....
Tanganku gemetar saat membagi minuman ke dalam dua gelas sama banyak.
Sehingga akhirnya...
Selesai.








NICE HOME WORK #6 MABRUROH

Sabtu, Maret 04, 2017



            NICE HOME WORK #6 MABRUROH
1.     Tuliskan tiga aktivitas yang paling penting dan tiga aktivitas yang paling tidak penting!
a.      Aktivitas yang paling penting
-        Ibadah ( solat lima waktu ditambah sunnah, mengaji Al-Qur’an, baca buku islam, dzikir pagi-petang, mengikuti kajian keislaman rutin )
-        Membersamai anak dan suami dalam belajar dan ngobrol santai aktivitas mereka
-        Membaca dan menulis
b.     Aktivitas yang paling tidak penting
-        Mengobrol tanpa arah di media sosial dan atau memantau media sosial
-        Menonton tv ( film )
-        Menemui tamu yang terlalu lama mengajak mengobrol
2.     Waktu anda selama ini habis untuk apa?
Menyuapi anak sambil menonton tv/video, chatting di wastsapp grup, rutinitas pekerjaan rumah.
3.     Jadikan tiga aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya agar selaras.
Aktivitas dinamis saya berdasarkan NHW sebelumnya adalah ibadah, membaca dan menulis serta membersamai anak-anak dan suami
4.     Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan kandang waktu dan patuhi cut off time
Aktivitas rutin saya yaitu: membereskan rumah, menyapu-mengepel lantai, mencuci piring dan baju, memasak, menjemur dan melipat baju, mengantar jemput anak-anak, berbelanja.
Rentang waktu saya mengerjakannya antara pukul 04.30-07.00 kemudian sisanya di sela waktu 10.30-11.30, 08.30-09.00, 12.30-13.00
5.     Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
Bismillah insyaallah bisa!
6.     Setelah tahap di atas selesai anda tentukan, buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
Jam
Aktvitas
04.00-05.00
Bangun, tahajud, doa, baca Qur’an
Sambil nyambi mencuci baju dan masak nasi (pakai mesin n rice cooker), subuh, dzikir pagi
05.00-07.00
Mengkondisikan anak untuk solat subuh
Menyelesaikan cucian baju
Membereskan rumah
Menyapu, mengepel (dua hari sekali)
Menyiapkan sarapan dan keperluan anak dan suami
07.00-08.00
Antar anak, belanja
08.00-09.00
Bermain bersama si dua tahun, membaca satu buku agama minimal 10 halaman
Menjemur baju, mencuci piring
09.00-10.00
Menidurkan anak, baca tentang parenting atau menulis
10.00-10.30
Dhuha, solat hajat
10.30-11.30
Masak, makan
11.30-12.00
Menyuapi anak
12.00-12.30
Solat, baca Qur’an
12.30-13.00
Mencuci piring/peralatan masak
13.00-14.00
Menulis
14.00-15.00
Menidurkan anak, tidur siang atau melipat baju
15.00-15.30
Mandi, solat ashar
15.30-16.30
Jemput anak-anak
16.30-18.00
Membersamai anak ( cerita kegiatan hari itu ), anak-anak makan kemudian mandi
18.00-19.30
Maghrib, mengaji, doa, dzikir, baca buku, isya. Makan malam
19.30-21.00
Temani anak belajar
21.00-04.00
Tidur

7.     Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik lanjutkan sampai dengan tiga bulan.

wajah rindu

Rabu, Februari 22, 2017


www.biaspelangi.blogspot.com

baru lima jenak
aromamu  pergi bersama angin
senyum samar meninggalkan jejak
lalu, bayangan menjelma sunyi
lantas... senyap

kemudian, waktu merayap lambat
meski ia begitu kerap
menghadirkan setiap senyummu lekat
mencipta debar desir cepat

pergilah...
jangan auraku kau bawa serta
meredupkan cahaya mata
meniti hari tak lagi sama
saat engkau tiada

inikah renjana
mematri jiwa
menenun harap
mencipta debar

bagaimana pun...
sungguh takut terlalu tinggi aku mengawang
sebab jatuhnya pasti sakit bukan kepalang
namun, kamu takkan buat demikian kan sayang?


TUGAS NICE HOME WORK #4 IIP BATCH #3 SBM

Minggu, Februari 19, 2017

a.   Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
    Dari dua ilmu yang ingin saya pelajari dalam universitas kehidupan ini, tidak ada yang ingin saya ubah. Namun saya merasa perlu menambah jurusan ilmu yang lain yang akan saya jabarkan di poin ( d ).

b.    Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
   Belum sepenuhnya konsisten, tapi saya berusaha agar bisa mematuhi     checklist harian saya

c.  Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
    saya masih meraba-raba, tetapi setidaknya inilah yang bisa saya tangkap dari sekian pertanda yang diberikan Allah pada saya, suami dan anak-anak saya.
   Bismillah, saya merasa Allah menganugerahi sifat saya yang supel, ramah, perhatian, suka menyenangkan orang lain, dianggap dewasa dan enak diajak ngobrol / curhat sebagai sinyal bahwa saya mungkin bisa bermanfaat dalam bidang konsultasi. Tetapi, sejujurnya saya merasa tidak pantas menjadi konsultan dalam agama atau pendidikan dan pernikahan. Sejauh ini, saya merasa lebih nyaman menyampaikan nasihat / pesan melalui tulisan. Dengan kata lain, saya bisa berdakwah melalui tulisan.
   Jadi, menurut hemat saya, bidang yang saya rasa bisa saya kuasai adalah bidang penulisan.
     Misi hidup saya: memberi manfaat ( dakwah ) melalui tulisan-tulisan saya
     Bidang          : kepenulisan
     Peran           : penulis

d.  Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
-        Ilmu menjadi hamba Allah yang solihah
-        Ilmu menjadi ibu yang profesional
-        Ilmu kepenulisan

e.    Tetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan misi hidup
    saya tetapkan usia saya saat ini, 36 tahun 4 bulan sebagai Km 0 perjalanan saya.
-        Km 0-Km 1 ( tahun pertama ) = ilmu menjadi hamba Allah yang solihah
-   Km 0-Km 4 ( tahun pertama-tahun keempat ) = ilmu bunda profesional (bunda sayang, bunda cekatan, bunda produktif, bunda shaleha)
-        Km 5 - Km 6 ( tahun kelima ) = ilmu kepenulisan

f.  Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas
    Sudah J


TOPENG WARSIH

Jumat, Februari 17, 2017


Warsih mematut diri di depan cermin. Bibirnya yang merah mengulas senyum, ia puas dengan dandanannya hari ini. Meski sudah tak muda lagi, ia tetap cantik. Tak ada yang meragukan kepiawaiannya berhias dan memikat lelaki. Dengan penampilan sempurna, ia yakin akan mendulang banyak rupiah.
Sebelum beranjak, ia memeriksa lagi penampilannya. Kebaya biru, kain jarik batik cokelat muda, kerudung selendang merah jambu, sanggul dan korsase di kepala yang sebenarnya terasa berat. Tetapi, demi penampilan menarik, ia harus total.
Segera setelah yakin tak ada cela, ia menyambar tape recorder kecil lengkap dengan  mikrofon di tangan. Mengalungkan tas selempang kemudian bergegas keluar dari rumah petakannya menuju pasar.
Ia melenggang anggun, diiringi nada–nada melayu mendayu yang mengalun dari tape-nya. Dengan senyum menggoda, ia menyapa satu-dua orang yang menatap. Ia tahu, tak semua mata memandangnya dengan perasaan senang, lebih banyak yang mencibir, bahkan ada juga yang menertawakan.
Tetapi, ia acuh. Baginya semua pandangan orang tentangnya tak penting. Ia lapar, dan mengamen adalah cara terhormat untuk makan ketimbang meminta-minta tanpa usaha. Lagipula, mereka hanya iri dengan kecantikannya yang sempurna.
“Hai, Mbok Ti. Makin sehat aja...” ia menyapa tukang jamu. Kemudian, mulai menyanyi mengikuti lirik lagu dari tape-nya.
“Tuhan itu maha esa, Dia yang maha kuasa...“ suaranya parau meng-cover suara Ida Laila yang merdu. Ia tak peduli, meski suaranya tak enak didengar, yang penting ia bisa menyesuaikan nada. Setidaknya, itu membantu. Mengamen butuh mental baja. Ia harus berterimakasih pada pencipta kosmetik yang menolongnya menjadi diri yang lain, sementara dirinya yang malu tersembunyi di balik riasan tebal.
Belum selesai satu lagu, ia berpindah ke tukang nasi uduk setelah tukang jamu memberinya seceng.
“Eh, ya ampun! Gue udah bilang, cari pembantu buat bantuin elu ngelayanin pembeli. Biar gue ngga dikacangin gini...” sapanya sambil bergoyang kecil.
“Tuhan itu maha esa, Dia yang maha kuasa.“ suaranya masih menyanyikan reffrain lagu Ida Laila yang sama. Badannya meliuk pelan mengikuti irama.
Selembar seribuan diangsurkan tukang nasi tanpa meliriknya. Warsih terkekeh dan berterimakasih, kemudian berpindah ke tukang jahit.
Bang Udin si tukang permak, menyambut dengan bergoyang. Ia meraih tangan Warsih, lalu mengajaknya berjoget. Warsih tersenyum senang, melirik Bang Udin penuh arti, kemudian tertawa.
“Banyak orderan hari ini, Bang? Banyak dong saweran buat gue?’
Bang udin pura-pura tuli. Ia masih asyik berjoget.
“Suara rintihan, suara tangisan. Insan yang berdosa, hooo...”
Tapenya telah berganti lagu menjadi lagu siksa kubur. Selembar uang dua ribuan dikibas-kibaskan Bang Udin, memintanya lebih lama bejoget. Warsih melirik sebal, satu klien cukup lah satu menit, kalau perlu kurang dari itu. Uangnya sudah habis, paling tidak ia harus dapat lima puluh ribu rupiah untuk bisa bertahan hidup hari ini. Dan itu artinya masih banyak orang lagi yang harus didatanginya. Berlama-lama dengan lelaki penjahit ini akan membuang waktu.
Tetapi, klien tetaplah raja yang harus dilayaninya dengan sepenuh rasa.
Puas berjoget, lelaki paruh baya itu menyelipkan uang dua ribuan ke tangan Warsih. Warsih tersenyum senang, diakhiri dengan seringai sebal. Ia berlalu menuju tukang ayam.
“Hancur lebur tulangnya, serta hangus tubuhnya. Hancur lebur tulangnya serta hangus tubuhnya...”
Si tukang ayam makin bersemangat mengayun golok mencacah daging ayam demi mendengar lirik lagunya. Warsih terkekeh geli, selembar seceng beralih dari tukang ayam yang kotor dan bau itu.
Warsih mendekati tukang sayur. Seorang nenek dengan aneka rupa sayur yang masih segar.
“Nek, saya kasih lagu siksa kubur, biar inget masa depan ya, Nek. Udah tua, Nek, jangan dagang mulu!”
“Eh, Warsih! Kalau gue kaga jualan terus gue makan apa? “
Nenek yang masih awas menghitung kembalian dan jeli mengenali setiap pelanggannya. Padahal ia telah uzur.
“Lapaknya warisin ke cucu, Nek. ”
Nenek mengibaskan tangan. Tanpa menghiraukannya lagi, ia menyapa seorang wanita yang mendekati lapaknya. Warsih mulai berdendang sambil meliukkan tubuhnya.
Begitu seterusnya, hingga orang terakhir yang dihiburnya, seorang tukang sembako. Ia baru pulang ketika menjelang tengah hari. Melenggang tenang dengan sebungkus nasi dan sebungkus rokok.
Sambil berkipas di kontrakan yang pengap, ia menghitung sisa hasil mengamennya hari ini. Tiga puluh ribu rupiah, cukup untuk makan sampai sore nanti, juga menabung untuk membuka salon impiannya.
“Drrtt...drrtt!”
Telepon genggam Nokia-nya bergetar. Seseorang menelpon.
Warsih tak bersemangat begitu mengetahui lawan bicaranya. Adiknya di kampung, itu berarti emak ingin bicara dengannya.
“Ya, hallo...”
“Kang, ini emak mau ngomong sama kakang.”
Warsih mendengus.
“Hallo?!” Suara  emak di seberang telepon nyaring, “Hallo, Warso?”
Warso menyeringai. “Ya, Mak. Ini Warso!”