TENTANG BAHAGIA
Rabu, April 26, 2017
“Kukira kita takkan bertemu lagi.”
Lelaki berwajah tirus itu membuang napas dengan keras, mungkin ia ingin agar
aku menyelami palung hatinya dan menemukan jawaban atas kedatangannya yang
tiba-tiba. Sore itu mentari merestui pertemuan beraroma rindu kami dengan
hangat yang bersahabat.
“Mana mungkin. Kau tahu aku selalu merindukanmu.” tukasnya.
Kucari makna pada matanya yang teduh. Aku merasa ia mengirim tatap yang
terresonansi dari getar dawai hatinya. Aku jengah dan berganti arah. Sungguh ia
lebih berani daripada diriku yang pengecut mengakui bahwa renjana telah meraja
usai pertengkaran terakhir dua minggu yang lalu.
Aku teringat saat itu, ketika tawa meriah pecah diantara tumpah ruah
manusia. Bukan dari banyak orang, hanya aku dan dia. Aku mengenang kala itu,
ketika setiap debar terkirim lewat binar pandang, ketika setiap kisah sedih
masa lalu menjadi tawa yang menggelikan. Lalu, berdua kita tersesat dalam rimba
kenangan akan mereka yang meninggalkan. Sungguh jenak-jenak yang mendekatkan
kita dari detik ke menit, jam, hari, lalu bulan.
Kami sama, hingga saat itu. Sama-sama disiksa kesendirian, terhinakan,
terluka dan dendam. Kami berdua sejalan, sama-sama mencari sandaran dan
penghiburan. Kami tak pernah berbeda haluan, bahkan ia sepakat dengan apa yang
akan kita makan dan film apa yang akan kita saksikan. Hingga entah karena dorongan
apa ketika ia tergerak untuk mengatakan sebuah permohonan.
Saat itu, seharusnya menjadi momen
terindah untuk sepasang kekasih. Benar, bukan? Bukankah setiap perempuan selalu
menunggu ungkapan “maukah kau menikah denganku?” Sebuah kalimat ajaib penanda awal
kejelasan status hubungan. Apakah bagiku itu awal atau justru akhir? Aku bahkan
tak dapat menerka.
Aku tercekat beberapa jenak lamanya
kala itu. Aku tahu saat itu mungkin akan tiba, tetapi rupanya aku tak siap
harus menjawab apa.
“Rose...?!”
tanyanya mengenyahkan senyap.
Aku tergagap. Ray menunggu dengan
penuh cemas di seberang meja. Ia mungkin merasa menyesal, namun juga lega.
“Kenapa
kau ingin menikahiku?” alih-alih menjawab, aku malah balik bertanya.
“Kenapa?,”
ia mengerutkan dahi, “itu pertanyaan janggal. Kau tahu aku mencintaimu. Apa kau
tak senang?”
“Bukan
begitu, aku hanya merasa, mungkin kau butuh waktu lagi untuk berpikir.”
“Aku
sudah memikirkannya, Rose. Kau dan aku sebebas merpati, kita saling cinta,
apalagi?”
“Aku
belum resmi bercerai, Ray.” kataku lirih.
Ray mendesah berat. “Kau merasa ini
terlalu cepat? Ayolah, Rose. Aku tidak mengenalmu kemarin sore.”
Ray benar, beberapa tahun bekerja
sama dalam tim cukup untuk mengenali sisi paling jujur dari diri kami. Kadang
kala, kita menjadi orang lain yang tanpa
cela ketika bersama sebagai kekasih bukan?
Aku menekuri lantai. Aku sungguh tak
tahu harus berkata apa.
“Aku
masih terikat, Ray. Paling tidak hingga sidang terakhir Agustus nanti.”
“Aku
tahu, tapi secara agama dia sudah talak, Rose. Itu artinya kamu sudah bukan istrinya
lagi.”
“Itu
benar, tetapi orang tak tahu apa-apa akan hal itu. Jika aku menikah sebelum
resmi bercerai, mereka hanya akan berprasangka buruk.” kilahku.
“Peduli
apa dengan kata orang, Rose. Tuhan Maha tahu, lagipula ini hidup kita.”
“Ray”
aku mencoba berkata setenang mungkin, “apa ada yg salah dengan pemahamanku? Apa
kita berbeda pendapat akan hal ini?”
Ia
hanya menjawab dengan tatapan lurus menelanjangi wajahku.
“Aku
menginginkan pernikahan yang sempurna, apa aku berlebihan? Pernikahan yang dihadiri
kawan, saudara, kerabat, bahkan anak-anak ikut bahagia bersama kita...” lanjutku.
“Rose,
kenapa kita tidak jalani sambil menyempurnakan diri? Tak ada yang akan bernyali
untuk menikah jika menunggu sempurna. Lagipula, aku tak bisa terus menunggumu.”
“Hanya
tiga bulan lagi Ray, sabarlah!”
“Tiga
bulan, Rose? Kamu pikir mudah berdekatan denganmu setiap hari, tapi tak bisa
menyentuhmu?”
Aku
menunduk makin dalam.
“Ray,
aku paham, tapi pernikahan bukan sekedar legalitas hubungan seksual, ada
idealisme dan harapan yang ingin kubangun, Ray. Aku yakin kamu pun inginkan hal
yang sama.”
Kami
terdiam. Angin mengisi kekosongan dengan tiupan pada dedaunan, gemerisik. Aku
tahu, ini sebuah ironi. Aku telah gagal dua kali dan masih sanggup bermimpi
akan pernikahan ideal?
“Rose,
untuk dua orang yang pernah gagal, kita akan belajar dari pengalaman. Pernikahan
yang lalu bagi kita bak mimpi buruk, kau tahu bahkan cita-cita mulia tidak
cukup untuk mempertahankan rumah tangga. Kita punya pegalaman berharga dan
cukup bagi kita untuk melangkah dengan hati-hati.”
“Kata-katamu
itu tidak sinkron. Ray. Kau belajar dari pengalaman, tetapi menolak melakukan
yang seharusnya dilakukan agar pengalaman itu tak terulang.” potongku.
“Rose,
aku hanya...sangat menginginkan dirimu...”
“Kalau
kau ingin menikah karena takut berzina, menikahlah dengan wanita baik yang mana
saja, Ray, tidak harus aku.”
“Rose!”
bentaknya, “Kau tidak mengerti. Ini bukan tentang ‘wanita’. Ini tentang kau.”
“Maafkan
aku, Ray. Aku hanya...”
“Kamu
tak yakin dengan perasaanmu sendiri, bukan?”
Lidahku
kelu. Ingin kusanggah, tetapi rasanya ia benar juga. Dia dan Andy, dua bayang
lelaki yang selalu menghantuiku setiap saat. Mereka membuatku bingung pada
siapakah sebenarnya hatiku terpaut. Tak kupungkiri, meski Andy begitu
menyakitkan hati, tetapi ia ayah dari anakku. Setidaknya masih ada sisa cinta
untuknya.
“Beriku
waktu. Ray.” kataku kemudian. Ray menghela napas panjang.
“Kuharap
aku tidak membuang masa, Rose.”
Ray,
matanya lekat memeriksa setiap gerak gerikku. Tentu saja, meski sudah menduga
akan mendapat jawaban seperti itu, ia layak berharap bahwa lamaranya akan dijawab
iya dengan senyum dan binar di mataku.
Aku
tidak tahu, harus senang atau sedih dengan lamarannya itu. Sebab, sejak itu
semua terasa tak sama lagi.
Ray
yang kecewa dengan reaksiku, menjaga jarak denganku. Tak ada lagi ajakan
berburu kuliner selepas penat kerja, tak ada lagi sapaan perhatian di telepon
setiap pagi ketika kumembuka mata. Ia mungkin sedang menyesal mengapa terlalu
dini melamarku dan bukan gadis usia dua puluhan yang jauh lebih menarik. Entahlah.
Aku
mengambil masa untuk bertanya pada diri, apa sebenarnya yang kuinginkan.
Benarkah aku mencintainya? Mungkinkah ia hanya pelarian ketika tak kutemukan
cinta dan bahagia dari suami yang meninggalkanku?
Semakin
kubertanya, semakin kumerasa bimbang. Yang pasti rindu merayapi hati ketka hari
menjelma minggu. Renjana...
#
Dan,
di sore itu kami menyerah. Membiarkan ditertawakan benda-benda di ruangan yang
sama seperti saat kami berpisah kemarin. Jam dinding, kursi, meja, lantai,
lampu gantung. Di hadapan cinta, manusia sering kehilangan akal sehat dan malu,
bukan?
“Apa
kabarmu, Rose?’
“Aku
baik. Bagaimana denganmu?”
“Aku
tak baik. Berhari-hari memikirkan apakah aku telah melakukan kesalahan.”
Aku
menggeleng. “Kamu tidak salah, Ray. Hanya waktu yang belum tepat, kurasa.”
Hening.
Suasana cafe yang tak terlalu ramai membuat kami kikuk.
“Apa
kau memikirkan hal yang sama denganku?’
“Apa?”
tanyaku sambil mencuri pandang.
“Kita
sama-sama suka dan cocok satu sama lain, tetapi apa kau sadar siapa yang
mendekatkan kita?”
“Yah,
mereka yang membuat kita saling membutuhkan.”
Tentu
saja, Andy mantan suamiku dan Winda mantan istrinya. Keduanya penggores luka di
batin kami dengan kisah yang berbeda. Andy dengan perempuan selingkuhannya dan Winda
dengan keangkuhan karirnya.
“Meski
begitu, saat ini, kau yang dihatiku, Rose. Aku berani bersumpah.” Ia seperti
menemukan kesalahan kata-katanya.
“Aku
tahu.” hiburku.
“Kamu
tahu...lalu bagaimana denganku? Agaknya kau mulai ragu, apakah kau mencintaiku
sebagai Ray atau sebagai pelampiasan dendam akan suamimu?’
“Ray,”
sergahku cepat, “bisakah kita tak merusak suasana ini? Aku merindukanmu, aku
tak peduli karena apa. Apakah karena cinta padamu atau karena aku butuh seseorang
pengganti suamiku. Aku hanya rindu dan rindu itu hilang ketika bertemu dirimu...”
Senyum
Ray mengembang. Ia mengangguk pelan. Menatapku yang jengah.
“Pernikahan
yang sempurna pasti membahagiakan. Tapi, sementara menunggu, ada banyak hal
yang bisa kita namai bahagia bukan?” tanyanya retoris.
“Definisimu
akan bahagia sangat sulit, Rose, tapi bisakan kita katakan bahagia itu adalah
duduk bersamamu sambil minum kopi hangat di sore yang cerah sambil menertwakan
film komedi terakhir yang kita tonton?”
“Diterima.”
jawabku sambil tersenyum.
“Suatu
saat cinta akan menemukan takdirnya. Jadi, aku takkan memaksa, Rose. Hanya bisa
berharap semoga akulah nama yang kau sebut dalam definisi bahagiamu.”
Aku
tersenyum lega. Ray membalas dengan tatapan dalam yang menyejukkan sekaligus sakit.
Pasti tak mudah baginya menerima situasi ini.
“Ray,
aku berhak bahagia, kan?”
“Tentu
saja, Rose.”
Aku
tak tahu bahagia definisi mana yang sedang kami rasa saat ini. Yang pasti, kami
menikmati kebersamaan ini, entah sampai kapan. Mungkin hingga cinta menemukan
takdirnya sendiri.
10 komentar
Manis sekali, ceritanya 😊
BalasHapusterima kasih mbak nova :)
HapusSuatu saat cinta akan menemukan takdirnya.
BalasHapusSaya suka kalimat ini. Sederhana, tapi penuh makna.
terimakasih cak :)
HapusHeeh...manis sekali ceritanya
BalasHapusterimakasih mbak wiid :)
HapusHeeh...manis sekali ceritanya
BalasHapusSukaaaa ♥♥♥
BalasHapusBundaaaaaa...brojolannya sukseesss!!!anaknya keceh masya Allah😍😍
BalasHapusSukaaakkk💜💜💜
Keceee bunda Mab .... unchhh😍😍😍
BalasHapus