PINDAH

Senin, Desember 12, 2016

                                                                   www.architecaria.com


Beberapa waktu lalu, saya pindah rumah. Kesibukan packing hingga berbenah kembali di rumah baru menyita banyak waktu, tenaga juga biaya sehingga konsentrasi saya untuk menulis pun hilang sama sekali. Vakum selama seminggu lebih karena kesibukan membuat memulai menulis terasa agak kaku.
Proses pindahan selalu melibatkan proses packing. Sebelum packing seharusnya telah dilakukan proses sortir. Memilah memilih hanya yang baik dan berguna untuk dipacking kemudian dibawa pindah. Kalau dipikir-pikir, untuk hijrah dalam pengertian hijrah diri menuju kebaikan pun begitu. Menyortir sikap/sifat yang baik dan berguna serta meninggalkan atau membuang cela, buruk, rusak, dan  yang tak berguna. Sehingga, ketika menjadi diri yang baru, hanya menyimpan dan menggunakan yang baik dan berguna.
Ketika semua telah siap dipacking, proses berikutnya adalah pindah, moving. Berpindah tempat dengan doa dan harapan dan niat yang baik. Doa, niat dan harapan baru akan menimbulkan semangat untuk menata hidup lebih baik. Dimulai dengan menata barang–barang kembali dengan teratur dan rapi sehingga nyaman ditinggali. Sama seperti hijrah, sifat dan sikap kita harus ditata lagi agar kehidupan setelah hijrah lebih baik, teratur dan rapi. Sehingga, pada akhirnya pindah akan membuahkan kisah dan kesan yang baru, tentu saja harapanya hanya kisah dan kesan yang baik saja yang akan tercipta. Demikian...


TANTANGAN MENULIS TANPA EDIT

Kamis, Desember 01, 2016

TANTANGAN MENULIS TANPA EDIT

Ada tantangan odop menulis cerbung, entah untuk bulan ke berapa. Saya, terus terang tak sabaran untukmenulis panjang-panjang begitu, kecuali terpaksa. Makanya, kalau ada yang nanya mau /pengen bikin novel ga? Saya masih jawab: engga. Ngga sabar nulis sepuanjang dan seluama itu hehe. Bisanya yang pendek-pendek aja, barang satu dua hari kelar. Masalahnya, saya ini moody perfeksinois. Kalau hati pengen nulis itu, ya itu aja yang mau diutak atik, tetapi kabar baiknya, saya menulis dengan hati, eciyeee. Kabar buruknya, tidak semua yangs saya ingin tulis itu berbobot. Ah, tapi ya sudahlah mau gimana lagi. Kata orang eh bukan, kata aa gym, yag dari hati akan sampai ke hati.

Saya perfeksionis akut yang suka kumat di saat yang ga tepat. Contohnya semalam, selepas menyelesaikan cerpen tentang begal jatuh cinta, saya memaksa diri untuk mengedit.padahal mata nguantuk sangat. Tapi, ya itu tadi maunya saat itu juga, mumpung lagi semangat, dan kudu kelar mlm itu juga. Padahal, mengedit bagi saya bisa makan waktu sejam lebih, whew, merepotkan.
Tetapi, alhamdulillah setiap saya lahiran cerpen, maap-maap ni ya, berdasarkan penerwangan saya yang buram ini, kayanya banyak yang apresiasi positif, dan itu rasanyaaaa bahagiaaabanget. Kebagagiaan yang ngga bisa diukur sama uang, #lebay. Puas, senang, dan bikin semangat baru buat nulis lagi yang lebih bagus. Meskipun repot dan bikin capek. Tapi, kata ibu saya, eh bukan kata motivator ulung, itu lah passion, anda akan merasa seolah waktu tak cukup, dan ngerasa energi ngg ada habisnya untuk mengerjakan sesuatu yanh disukai. Sesuatu yng bagi orang lain : ngapain sih? Katanya rempong? Tapi bisa nulis berlembar-lembar. Bohoong, kliii
Eh hallow, ini nulisnya nyuri waktu ya broo, dan seringnya pas anak sudah tiudur. Jadi, ngga ada yang didzaimi dalam keluarga. Ya ada sih kadang-kadang kalo lagi mepet banget ga ada ide, pas nemu eeh anak-anak belum tidur. Walhasil menulis lah di antara ragam tingkah polah mereka. Karena susahnya menghasilkan cerpen buat saya, maka saya agak sulit kalau sidurh mengkritik. Saya ngga tega, sebab bikin berlembar cerpen itu butuh waktu, mikir, dan tenaga, juga kopi yang banyak ahahaha. Makanya,kalau ada yang kopi-paste, waduuuh saya bakalan bapr berat kayanya. So, jangan kopas ya, lebh baik share kan enak tuh , daet pahala lagi. Udah ah sekian tulian tantangan odop no edit ini, map ya kalau gga pake edit ya kacau beliau lah tulisan saya hehehehe...
Eh, ernyata panjang juga ya jadinya wkkwwk...


SEKALI SAJA-BAG. 2 ( HABIS )

Kamis, Desember 01, 2016


demi siapapun penghuni langit
gue kira yang bening itu selalu telaga
ternyata, itu hanya matanya
mata telaga

Keningku berkerut merut membaca barisan kata di buku biru beraroma lavender milik...abang? Yang benar saja!
Ini menarik. Bagaimana seorang yg telah lima tahun putus sekolah dan tak tahu adat bisa tunduk di haribaan buku biru beraroma perempuan semacam ini? Jangan-jangan kehidupan bebas bersama teman-teman minumnya telah membuatnya berpindah orientasi.
Aku bergegas menutup pintu kamar yang penuh baju bekas pakai bergelantungan. Aroma  lembap kasur bantat dan sisa makanan basi menguar mengganggu napas. Kalau tak ada hal menarik yang perlu kucari tahu, diupah pun aku tak sudi barang lima menit di ruangan ini. Ada beberapa lembar kertas biru yang ternoda oleh tangan kasarnya, dan itu lebih menggoda.

Demi pencipta langit
Dia itu hantu atau dewi?
Kenapa bayanganya ada di mata gue
Setiap detik setiap tempat
Gue salah sama dia, tapi gue terpaksa
Mata telaga

Duhai, siapa mata telaga yang dia maksud? Dia sudah hidup bersama Asih, Agus dan Robert beberapa bulan ke belakang ini. Kalau dia suka Asih, dia bisa langsung bilang tanpa harus mengajari jarinya menari di atas kertas. Tetapi, mata Asih bukanlah telaga, melainkan elang.

Hari ketujuh
Wahai penguasa lautan, jika Kau sanggup membalik lautan
Mengapa Kau tak lakukan itu pada hati gue
Balikin hati gue
Ke masa sebelum bertemu si mata telaga
Dia hantu paling manis yang pernah gue lihat
Semacam penampakan paling bersih dari noda yang pernah gue temui
Gue nyesel kenapa harus melihat mata itu
Mata telaga
Gue tenggelam
Gue benci
Aku membekap mulut yang menganga. Siapapun pemilik mata telaga itu, pasti sangat berkesan untuk abang semata wayangku. Sepanjang sejarahnya menjalin hubungan dengan puluhan gadis, tak pernah sekali pun mampu membuatnya tunduk mengungkapkan isi hati pada seseorang, apalagi sampai bersusah payah menulis di selembar kertas.  
            Apa sebenarnya yang telah dilakukan si mata telaga? Kutelusuri lagi halaman demi halaman yang semakin membuatku terheran-heran akan perubahan lelaki kasar yang sangat pandai menyumpah itu. Terhitung lima belas halaman penuh telah ia kotori dengan kata-kata indah yang tak dapat kutebak dari mana dia mendapatkannya.
            Aku rasa, akan lebih banyak puisi berserakan di buku biru ini esok. Aku akan menunggu tulisan esok dan esoknya lagi...
****
Telah satu purnama lebih sehari
Apakah yang lebih menyesakkan selain dari mencintai tanpa memiliki
Jangankan memiliki, menampakkan diri pun tak berani
Tuhan, bukankah cinta indah tak terperi
Tapi kenapa bagiku bagai sembilu mengiris hati

Menyusuri deretan kata penuh rasa di buku biru itu tak ayal membuat mulutku lagi-lagi terbuka tanpa kuperintah. Aku masih takjub pada pekerjaan cinta yang sanggup mengubah seorang yang tak pernah membaca buku menjadi penulis bertabur kata puitis. Ia bahkan telah melenyapkan kata tak senonoh dari sebuah puisi: gue. Pun ia fasih mengeja nama Tuhan. Amboi!
Jika yang menulis bukan Bogel, aku tak akan terperangah heran. Ia yang akrab dengan kerasnya hidup di jalanan, bertaruh nyawa demi beberapa lembar uang seratus ribuan, dengan kehidupan bebas seperti ayam, mampu menulis bait-bait penuh rasa. Gerangan seperti apa gadis bermata telaga itu? Di mana dan siapa dia? Sayangnya, hingga hari ketiga puluh, belum juga temukan petunjuk tentangnya.

            “Hei, ngapain lo di sini?!”
Aku terkesiap. Terlalu asyik menekuri curahan batin, mengasingkanku dari dunia. Sampai tak sadar sang pemilik ruangan datang.
“Ee...enggak gue cuma lagi cari eerr...gunting, iya gunting.” kilahku sambil berusaha menyembunyikan buku biru itu.
“Lu kira gue bego apa? Balikin buku gue!”
Aku diam tak berkutik. Kurasa, dia malu rahasia terdalamnya diketahui orang lain. Kuangsurkan buku itu sambil bersiap mendapatkan umpatan.
“Pergi lu!” usirnya dengan muka tertunduk. Buku biru itu, dilempar begitu saja di  kasur.
“Maafin gue Bang. Tapi, lu bisa percaya sama gue.” kataku meyakinkannya, sambil takut-takut dia akan menolak.
Dia menunduk semakin dalam. Agak mengherankan mengingat dia orang paling cuek yang kukenal. Setelah beberapa menit terkurung diam, akhirnya dia menemukan suaranya.
“Gue rasa, Tuhan mulai hukum gue.“ katanya tercekat, tanpa kuduga.
“Maksud lo, Bang?”
Dia menarik napas panjang, lalu menghentakkannya seolah ingin melepas beban berat.
“Jalan hidup gue salah, Wi. Gue pengin kembali, tapi gue ngga tau harus mulai dari mana.”
Aku terpekur mendengar nada penyesalan dari mulutnya. Mulutnya terbiasa berserapah, tetiba mengucap kata yang benar setelah lima tahun lamanya asal bicara.
“Gue jatuh cinta, Wi...”
Aku mengerenyit melihat lelaki yang gemar menantang maut itu kini tampak tanpa kuasa. Bahwa dia jatuh cinta, aku sudah tahu. Tapi, apa hubunganya dengan penyesalannya?
“Terus?”
“Tapi, dia jelas ngga mungkin gue dapetin. Lu inget sebulan lalu gue berhasil rampas motor?” tanyanya sambil memandangku.
Aku mengangguk sambil berusaha mengingat.
“Itu motor seorang mahasiswi yang gue buntutin dari kampus ke kosannya. “
Otakku mulai bekerja, mengambil file ingatan peristiwa sebulan yang lalu. Membuka rekaman tentang keberhasilan Bang Bogel membegal motor untuk ketujuh kalinya. Keberhasilan yang dirayakan dengan minum dan mabuk hingga pagi di kontrakan Bang Miun, senior mereka. Aku diundang untuk makan-makan dan baru pulang menjelang subuh. Kuingat waktu itu Bang Bogel banyak tercenung disela pesta.
“Lu tau Wi, waktu gue pepetin motornya terus gue paksa dia turun, dia ngga melawan sama sekali. Dia turun, terus ngasih kunci sambil liatin mata gue. Saat itu gue sadar, dia bukan lawan gue. Waktu itu gue bareng si Robert. Kalau gue ngga ambil motor itu, gue bisa dikatain banci.” paparnya sambil menelanjangi langit-langit kamar.
“Gue belum pernah lihat mata sebening itu, menatap gue tanpa takut. Dia tenang banget. Sekarang gue sadar, dia emang ngga ngelawan, tapi ternyata matanya menghukum gue sampai hari ini. Gue ngerasa dosa, sekaligus...jatuh cinta.”
Aku bernapas sepelan mungkin agar tak mengusik ceritanya.
“Lebih baik gue mati ditembus pelor atau dipenjara. Daripada gue nanggung cinta ngga kesampaian kaya gini. Gue nyesel, Wi. Kalau gue orang baik, mungkin gue ga akan kesiksa kaya gini. Setidaknya gue bisa ungkapin perasaan gue ke dia. Tapi, gue penjahat di matanya. Mana dia mau ngeliat gue?  Boro-boro cinta,  dilaporin polisi, iya!”
“Gue bisa ngerti perasaan lo Bang...” aku berusaha simpati.
Dia mendengus. Seolah ingin mengenyahkan sosok melankolis lemah yang baru saja menguasai diri, ia menggeleng kuat. Menghadirkan lagi sosok dirinya yang tak berperasaan.
“Besok gue ada misi, gue bareng si Doyok ke daerah Tangerang. “
Aku terdiam. Sosok Bogel, pembegal yang tak segan membunuh korbannya itu kembali merasuki tubuh legamnya.
“Lu udah tau semua tentang cewek mata telaga itu. Kalau besok gue ngga balik, lu datengi rumah dia, kasih semua tulisan gue ke dia.”
“Bang!” hardikku.
Aku tahu, setiap aksi begal selalu dibayangi resiko terburuk yang harus siap mereka tanggung. Tetapi, sebejat apapun dia tetap abang yang akan kutunggu pulang. Ia memang bedebah, tetapi juga pahlawan untukku dan emak yang tua dan sakit.
“Gue mau sekali aja lu ketemu dia, supaya lu bisa ceritain ke gue, kalau-kalau gue ngga bisa lihat dia lagi selamanya...”
“Bang! Jangan ngomong jelek napa?! Mendingan lu siapin besok! ”kataku sambil berlalu.
“Wi, alamatnya ada di buku yang ungu, itu bukunya yang ketinggalan di bagasi motornya.”katanya sambil menunjukkan buku di atas lemari.
Tanpa menghiraukannya lagi, aku pergi dengan membanting pintu. Entah kenapa, sebentuk rasa asing menyusup ke hatiku. Aku takut...
****
Barisan air mata makin deras menyimbah wajah seiring kenangan akan abang yang terpampang satu-satu di benakku. Aku melaju makin jauh, jauh meninggalkan seorang perempuan bermata telaga yang Tuhan kirimkan untuk menghukum abang dengan caranya. Ketenangan mata telaga itu serupa tetes air memahat cekungan di hati yang batu, meninggalkan jejak abadi yang indah sekaligus menyakitkan. Cekungan bernama cinta itu menghukumnya perlahan, menyisakan penyesalan terdalam dan sakit karena hasrat tak sampai. Dia lumpuh karenanya. Dia bahagia sekaligus sengsara.
Hidup  tak berjiwa, ada tapi tiada. Tertawa, tetapi menangis. Rindu, tetapi menyesal pernah bertemu. Cinta, tetapi takut.
Gundah hati membuat dia larut dalam lamunan. Seluruh tubuh lunglai tak bergairah. Cinta dan rindu melenakan kesigapan refleks dan indera, sehingga ia lengah dalam misi terakhirnya.
Tuhan benar-benar menghukumnya. Melalui tangan-tangan manusia beringas yang lama gemas dengan aksi para pembegal ganas. Para lelaki haus darah yang lama memendam amarah, untuk menumpahkan darah bedebah sebagai bayaran setimpal atas kejahatan mereka yang mewabah. Ketika cinta melumpuhkan jiwa raganya, ia sejatinya telah mati, sehingga ketika dua lelaki sasaran misinya kali ini lebih waspada dan sigap atas bahaya, sejatinya hanya raganya yang tersisa. Beruntung, kawannya masih sanggup melawan dan lari dari kepungan manusia yang datang bak air bah.
Bogel sang pembegal buronan polisi, mati diamuk massa. Ia mati membawa cinta yang memenjara hati, di tangan manusia-manusia yang merasa berhak mengadili.
Dadaku terguncang-guncang menahan sesak, mengingat nasibnya di akhir usia yang baru dua puluh tahun, mati dengan badan penuh luka, memar, lebam dan darah. Isakku tak tertahan mengingat emak memeluk anak yang tak alpa mengiriminya uang untuk makan, dengan jerit tangis dan ceracau menggugat Tuhan. Dan, aku yang pilu di tepi pusara tanpa nama, sebab tak ada yang sudi mengabadikan seorang penjahat.

Hari ini, tepat seminggu setelah kepergiannya, aku akan pergi ke makamnya setelah bertemu si mata telaga sekali saja. Akan kukabarkan bahwa dia baik-baik saja dan tengah membaca puisi-puisi tentangnya. Supaya si mata telaga tahu setidaknya sekali saja, bahwa dia mencintainya. Cinta yang sebenarnya, cinta selamanya...

SEKALI SAJA

Selasa, November 29, 2016


                                                  pic source: www.blogplatechno.com

Seraut wajah manis dengan alis bak semut berbaris menyembul dari balik pintu. Ia menatapku penuh tanya, meski tetap tersenyum ramah. Tentu saja, dengan helm dan penutup muka yang masih terpasang, dia takkan mengenali siapa aku.

“Mbak Dina?” tanyaku memastikan. Lebih baik aku mendahuluinya daripada dia yang bertanya lebih dulu tentangku.
“Iya, saya sendiri...” jawabnya sambil  mengangguk.

Gadis berwajah bersih dengan sebentuk lesung pipit yang indah, pantas saja abangku tersihir dalam sekali perjumpaan. Ia pasti punya kekuatan magis sehingga sanggup merubah seorang brengsek menjadi penyair.

Sejurus kemudian dia telah muncul seutuhnya di hadapanku. Semampai, agak kurus, dengan gamis dan kerudung rumah yang senada. 
“Saya hanya mau menyampaikan ini..” kataku sambil cepat-cepat menyerahkan sebuah amplop biru kepadanya.

Dia meragu. Tapi, tak urung diterimanya juga pemberianku.
“Mbak ini si..”
“Itu dari Abang saya. Saya permisi.” potongku cepat.
“Loh?! Mbak!”

Tanpa memedulikan teriakannya, aku melesat menuju sepeda motor, menghidupkan mesin dengan terburu-buru, lalu melaju secepat yang kubisa. Sudah seharusnya aku segera pergi, setelah beberapa waktu ini berita tentang abangku menjadi obrolan di setiap warung kopi. Aku tidak akan konyol dengan berlama-lama di sini.

Samar kuingat wajah abangku.
“Bang, telah kutunaikan pesanmu. Kau benar, gadis itu istimewa, meski baru sekali  kubertemu dengannya.”
Larik-larik air berbondong-bondong meluncur dari pelupuk mata, menganak sungai tanpa kusuruh. Batinku perih.

#bersambung...

GADIS BERBALUT KIDUNG

Senin, November 28, 2016


Aku sedang memacu sepeda motorku ketika kudengar seseorang bersenandung di belakangku. Mendengar suara keras yang melafalkan lirik asing dengan beat cepat,  aku langsung berpikir mungkin dia anak sekolah yang mengikuti lirik lagu dari headsetnya sambil berkendara.

Senandung itu lebih mirip nyanyian kamar mandi yang pindah panggung ke jalanan saking kencangnya, sehingga hatiku tergelitik ingin tahu, siapa sebenarnya anak “kurang sopan” yang nyanyi sekeras itu di jalan raya, padahal dia tidak sendiri.

Ketika dia menyalip, kuperhatikan dengan seksama anak itu. Ternyata, dia bukanlah seorang anak seperti yang kukira. Dia seorang gadis, setidaknya menurut firasatku, karena perawakannya yang langsing (selangsing-langsingnya emak, masih ada ciri khas yang membedakan dari gadis, yaitu lemak yang berdesakan di perut :p). Bukan soal gadisnya yang membuat keningku berkerut. Ada yang lebih membuat takjub, dia bukan sembarang gadis. Dia gadis berhijab rapi, dengan gamis plus manset tangan, kaos kaki, jilbab lebar berkibar dan asesoris khas lajang: tas punggung. Sayangnya, tak bisa kuamati wajah yang tertutup masker di balik helm full facenya.

Dia berhijab rapi, tetapi jelas dia tidak sedang mengaji. Tidak pula mendendangkan nasyid atau lagu perjuangan kemerdekaan, apalagi lagu anak. Dia menyanyi lagu barat, yang sayangnya tidak kukenal. Mungkin suara dari headset menyesaki ruang dengarnya sehingga ia tak kuasa menahan godaan untuk tak ikut menyanyi. Atau mungkin, ada rasa yang diluapkan ketika menyanyikan lagu itu. Dari keduanya, kurasa pilihan kedualah yang jadi alasan dia melakukannya.

Aku bisa merasakan: ada emosi, rasa, pesan, yang dikirimkannya lewat pekikan lagu. Entahlah, firasatku mengatakan, itu lebih mirip ekspresi kekesalan atau kemarahan ketimbang kegembiraan.

Terbukti, dia bergeming meskipun saya menoleh padanya dengan menyelidik sambil menganga, antara geli dan tak percaya. Dia tak peduli.
Mungkin dia kesal
Dan saya paham....
Sebab saya pernah begitu

Melaju di atas motor dengan tatapan kosong, mata basah oleh air mata, dan mulut bersenandung. Oh, bukan..., bernyanyi lagu sedih milik Rhoma Irama yang dinyanyikan Rita Sugiarto: Janji

Ada emosi kesedihan yang menghambur melalui bait-bait bernada sedih, saat menyanyikannya. Bukan isi lagunya yang menyayat hatiku, sama sekali bukan. Tetapi, ada kenangan haru di balik lagu itu.

Aku teringat Mama, yang di hari-hari terakhir hidupnya tertawa melihat Bapak berjoget diiringi lagu sedih itu...
Bapak menggoda Mama, agar senyum terbit dari bibirnya, melupakan sejenak sakitnya. Lalu, Mama tertawa dengan riangnya...

Aku kenang saat itu, ketika Mama telah tiada, dengan bernyanyi (atau teriak?) lagu kenangan tentang dua orang yang saling cinta itu.
Tidak dengan tawa...tapi dengan derai air mata.

Seperti halnya diriku, gadis berhijab itu mungkin tengah menahan emosi yang mengurung jiwanya. Entah emosi apa itu, biarlah hanya dia yang tahu. Maka aku maklum dan akhirnya tersenyum simpul padanya.

Meskipun janggal, lepaskanlah...mungkin dengan begitu bebanmu akan berkurang, wahai gadis berbalut kidung...



FOKUS

Jumat, November 25, 2016


www.kabarbisnis.com

Ada yang menarik dari pembahasan di grup ODOP  Batch#3 Jum’at malam ini. Yaitu, tentang segmentasi tulisan. Segementasi tulisan adalah tentang memilih genre apa yang akan ditekuni, dikuasai dan dijadikan tema dalam menulis. Apakah misteri, komedi, thriller, romance, sience fiction atau fantasi.

Kalau dipikir-pikir, menulis dan bisnis adalah dua dunia yang lekat satu sama lain. Kata Mbak Indari Mastuti, penulis yang juga CEO Indscript Training Center, pebisnis harus bisa menulis, dan penulis harus bisa berbisnis. Kalau diamati, ilmu dan perjuangannya sama, meskipun dalam bidang yang berbeda. Nulis dan bisnis, sama-sama harus fokus, tidak boleh palugada. Fokus akan memudahkan pekerjaan, karena pikiran kita hanya dicurahkan untuk hal itu. Fokus menjadikan kita mahir dan menguasai yang kita kerjakan.

Fokus pada salah satu genre tulisan atau satu komoditi jualan saja akan membuat kita identik dan unik. Dengan kata lain, fokus akan menentukan personal branding kita yang membedakan dari yang lainnya. Dengan fokus, kesuksesan akan lebih mudah diraih.

Untuk fokus pada satu genre tulisan memang tidak mudah. Kejenuhan mungkin bisa melanda ditambah godaan untuk mencoba genre lain yang sepertinya menantang untuk dijajaki. Tetapi, percayalah, dengan memilih genre yang disukai dan dikuasai, akan lebih mudah membangkitkan semangat menulis, karena tidak ada keterpaksaan dalam melakukannya.

Ah, lebih baik saya sudahi saja tulisan saya. Anda sudah tahu maksudnya, kan? Sekarang waktunya mulai memikirkan: mau dikenal sebagai penulis apakah saya? Selamat merenung dan fokus! J


KEMBANG TUJUH RUPA

Kamis, November 24, 2016

                                                         www.blogbojonegoro.com

Senja baru saja beranjak meninggalkan berupa-rupa manusia yang kelelahan berkelahi dengan nasib seharian. Pun wanita tua itu, telah lama mengakui kebengisan nasib yang menjajah tubuh rentanya, yang hingga sesore ini masih di jalanan menggelar dagangan. Kalau saja harga diri tak dipeluknya erat, niscaya ia telah pulang sejak adzan Ashar tadi dengan recehan hasil belas kasih orang. Tetapi, ia berpantang menadahkan tangan meski tak sedikit yang menganggapnya pantas untuk diberi dengan cuma-cuma.

            Sepuluh kantong kembang tujuh rupa dagangannya, dimasukkan kembali ke bakul usangnya. Ia akan menabur bunga di makam kucing tetangganya yang mati digilas mobil. Mungkin, aroma magis kembang tujuh rupa akan mengusir kutukan liang kubur dari roh binatang yang disayang nabi itu, supaya pemilik mobil tak terkena bala.

Dalam hati kecilnya, wanita itu mengutuk manusia akhir jaman yang makin pongah. Mereka berkata dengan tertawa: manusia mati tak butuh kembang. Mereka butuh doa anak cucunya. Makin hari makin banyak yang berkeyakinan demikian, sehingga wanita jompo itu terpaksa pulang dengan berkantong-kantong kembang.

 Alasan serupa untuk tak mengunjungi makam bapak-ibu serta kerabatnya. Padahal, ia rasa karena dunia telalu nikmat untuk dijeda sekejap saja dengan mengingat pemutus kesenangan. Bahkan manusia berlomba menghias makam agar lenyap kesan tetang betapa mengerikan dunia dibalik gundukan tanah yang teriakannya hanya didengar oleh binatang. Lihatlah, ada makam begitu megah mewah serupa istana untuk para pemilik harta, dengan harga yang mereka pikir cukup untuk tawar menawar dengan Munkar-Nakir, agar tak ditanya beragam ujian.

            Azan maghrib mengiringi langkahnya yang tertatih. Ia menyusuri sisi jalan yang padat manusia dan kendaraan-kendaraan yang mereka banggakan. Jalan dimana dulu dia pernah berkejaran dengan kawan sebayanya yang telah lama mati karena usia. Gedung pertokoan bertingkat yang angkuh dengan aneka rupa dagangan, tetap melambai merayu uang-uang pengunjung hingga tandas, bahkan ketika panggilan Tuhan menggema.

Darahnya berdesir ketika melewati sebuah toko kelontong. Dulu, toko itu milik bapaknya, yang ironisnya tak merasa perlu mencerdaskannya dengan ilmu.  Lalu, perselingkuhan antara kebodohan dan kapitalisme, merenggut satu demi satu milik penduduk asli, termasuk bapaknya, yang tak pandai berdagang dengan pendatang yang mahir berniaga. Hingga ia terdampar di hari tuanya di jalanan menjajakan sekantong kembang untuk orang mati.

            Rak kenangan menghadirkan bayangan seorang anak lelaki yang seharusnya ada bersamanya. Namun, ia memilih pergi menjadi bedebah. Manalah mungkin ia sanggup menanggung takdir beribukan seorang renta penjual kembang. Hatinya teriris setiap benaknya memutar ingatan akan anak lelaki tak tahu balas budi itu.  Ia resah karena sebentar lagi ia akan mati. Bahkan berkantong kembang ia rangkai setiap hari. Tetapi, bahkan anaknya tak ada di sisi, apatah lagi dia akan mengaji.

Wanita renta penjual kembang, tertatih dengan derai tangis. Untunglah hatinya masih sanggup merapal doa: allahumma innii as’aluka khusnul khotimah, Ya Allah betapa pun busuk diri ini, matikanlah aku dengan akhir yang baik...Amin.